Oleh : Hilman Musthafa
MUQADDIMAH
فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ
هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا
كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yang besar bagi
orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu mereka
mengatakan; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh
keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah
bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan
yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah :
79).
Sebelumnya, penting
untuk diketahui perihal penggunaan istilah Bani Israil dan Yahudi secara umum.
Istilah Bani Israil merujuk pada keturunan Nabi Yakub as yang terdiri dari 12
suku. Sedangkan istilah Yahudi merujuk pada kelompok etnis dan agama yang
memiliki hubungan sejarah dan keturunan dengan Bani Israil.
Secara historis,
Yahudi adalah sebutan untuk suku keturunan Yehuda, anak ke-4 dari Nabi Yakub
as. Sepeninggalnya Nabi Sulaiman as, Bani Israil terpecah menjadi 2 kelompok
besar yakni Kerajaan Yudea (Israel Kuno Selatan) dan Kerajaan Samaria (Israel
Kuno Utara), keduanya berada di wilayah yang sekarang bernama Palestina.
Kerajaan Yudea diisi oleh suku Yahudi dan suku Benjamin, sedangkan Kerajaan
Samaria diisi oleh 10 suku lainnya.
Setelah Bani
Israil mengalami penjajahan
yang lama oleh sejumlah Kerajaan Pagan khususnya setelah peristiwa Pembuangan
Babel, suku Yahudi mengklaim bahwa hanya kelompok mereka yang berhasil selamat
kembali ke Palestina. Atas dasar klaim tersebut, mereka meyakini bahwa Bani
Israil murni yang tersisa adalah suku Yahudi. Adapun suku-suku lainnya yang tersisa
di Samaria dianggap telah mengalami asimilasi dengan bangsa lain sehingga tidak
diakui oleh suku Yahudi sebagai
Bani Israil murni.
PENGERTIAN TAHRIF
Tahrif secara bahasa ialah pengubahan atau penyelewengan. Adapun
menurut istilah ialah pengubahan nash dari segi lafadz (teks) dan makna
(konteks), atau pengubahan lafadz nash yang memalingkannya dari makna hakiki (sebenarnya).
TAHRIF TAURAT
Taurat
adalah wahyu Allah swt. yang diturunkan dalam bahasa Hebrew (Ibrani) kepada Nabi Musa as untuk Bani
Israil. Kaum Yahudi menyebut Taurat dengan istilah Torah (Instruksi/Ajaran),
dalam bahasa Yunani disebut Pentateuch (Lima Gulungan) yang terdiri dari
Sefer Beresyit (Kitab Kejadian), Sefer Syemot (Kitab
Keluaran), Sefer Wayiqra (Kitab Imamat), Sefer Bemidbar
(Kitab Bilangan) dan Sefer Devarim (Kitab Ulangan). Torah merupakan
lima kitab pertama dalam Bible Yahudi yang disebut Tanach (Torah-Neviim-Chetuvim) dan bagian
dari Perjanjian Lama dalam Bible Kristen.
Berdasarkan
perspektif historis, Nabi Musa as diperkirakan hidup sampai abad ke-14 SM,
sementara lima kitab dalam Taurat versi Yahudi ini diperkirakan mulai disusun
pada abad ke-5 SM dan dilengkapi pada abad ke-4 SM. Terlihat adanya selisih
masa yang sangat jauh, yakni sekitar 10 abad. Hal inilah yang kemudian menjadi
salah satu sebab munculnya keraguan atas otentisitas Taurat versi Yahudi saat
ini, selain dari sanad periwayatan yang diragukan bersambung kepada Nabi
Musa as.
Keraguan
atas otentisitas Taurat versi Yahudi ini semakin menguat setelah adanya temuan 6.000
perbedaan tekstual dan kontekstual dengan Taurat versi Samaria. Sebagian
kritikus tekstual berpendapat bahwa Taurat versi Samaria mempresentasikan
tradisi tekstual kuno yang lebih otentik. Perdebatan tentang “Taurat versi
mana yang merupakan wahyu?” sampai saat ini belum selesai, karena kedua
pihak baik kaum Yahudi maupun kaum Samaria sama-sama mengklaim keotentikan Taurat
versi masing-masing. Bahkan kaum Samaria tidak mengakui Neviim dan
Chetuvim sebagai wahyu.
Allah
swt. berfirman :
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا
يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ...
“Diantara orang-orang Yahudi, mereka
mengubah perkataan dari tempat-tempatnya...” (QS. An-Nisa :
46).
Penyebutan “orang-orang Yahudi” dalam ayat ini bersifat umum, maksudnya
tidak merujuk pada suku Yahudi saja tetapi Bani Israil secara keseluruhan. Sehingga dapat difahami bahwa Taurat
yang dipegang Bani Israil saat ini baik versi Yahudi, versi Samaria, maupun
versi lainnya telah berbeda dengan Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as.
TAHRIF ZABUR
Zabur
adalah wahyu Allah swt. yang diturunkan dalam bahasa Qibti (Koptik) kepada Nabi Daud as untuk Bani
Israil. Secara umum, Zabur diidentifikasi sebagai Mazmur dalam tradisi Yahudi
dan Kristen. Mazmur merupakan salah satu bagian dari Chetuvim dalam Tanach dan
salah satu bagian dari Perjanjian Lama. Kaum Yahudi menyebut Mazmur dengan
istilah Sefer Tehillim (Kitab Puji-pujian). Tidak banyak referensi yang
dapat ditemukan tentang dasar pengidentifikasian Zabur sebagai Mazmur selain
dari kesamaan tentang Nabi Daud as dan indikasi kesamaan isi dari Zabur dan
Mazmur itu sendiri.
Allah
swt. berfirman :
وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan
kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan
burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah
melunakkan besi untuknya,” (QS. Saba : 10).
Asumsi adanya kesamaan isi Zabur dan
Mazmur diantaranya berdasarkan redaksi “bertasbihlah berulang-ulang bersama
Daud” pada ayat di atas, difahami bahwa Nabi Daud as sering memuji Allah
swt. dengan kalimat-kalimat pujian di dalam Zabur. Tradisi Yahudi dan
Kristren menganggap Mazmur bukan kitab hukum melainkan kitab sastra para nabi.
Adapun
isi dari sebagian besar Mazmur
seringkali dianggap sebagai karangan sastra yang ditulis oleh Nabi Daud as,
tetapi anggapan ini ditolak oleh mayoritas kritikus tekstual. Mereka
berpendapat bahwa Mazmur merupakan karangan sastra yang ditulis oleh
pujangga-pujangga dalam rentang waktu lama sampai berakhirnya peristiwa
Pembuangan Babel pada abad ke-6 SM, terpaut jauh dengan Nabi Daud as yang
diperkirakan hidup sampai abad ke-10 SM.
Dengan
demikian, “Apakah Zabur atau Mazmur yang ada saat ini merupakan wahyu yang
diturunkan kepada Nabi Daud as atau hanyalah karangan para sastrawan semata?”
bersambung...
https://muslimnurdinkarya.blogspot.com/2024/02/tahrif-kitab-kitab-samawi-bagian-2.html
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

👍👍👍
BalasHapus