Oleh:
Hilman Musthafa
MUQADDIMAH
Penulis menyadari bahwa judul artikel ini sangat
berpotensi menimbulkan miskonsepsi khususnya bagi pembaca yang kurang akrab
dengan kristologi. Maka dari itu, penulis akan mengurai pembahasan ini secara
sistematis dengan harapan agar pembaca dapat membaca jalan pikiran penulis
hingga menuju pada sebuah kesimpulan yang dapat dimengerti.
Dalil yang dijadikan pijakan awal untuk pembahasan ini
adalah QS. At-Taubah ayat 30 yang mengkritisi gelar “Anak Allah” dalam tradisi
Yahudi dan Kristen.
وَقَالَتِ
ٱلْيَهُودُ عُزَيْرٌ ٱبْنُ ٱللَّهِ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَى ٱلْمَسِيحُ ٱبْنُ
ٱللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَٰهِهِمْ ۖ يُضَٰهِـُٔونَ قَوْلَ ٱلَّذِينَ
كَفَرُوا۟ مِن قَبْلُ ۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
"Dan
orang-orang Yahudi berkata: 'Uzair putra Allah', dan orang-orang Nasrani
berkata: 'Al-Masih putra Allah'. Itulah ucapan mereka
dengan mulut mereka, meniru perkataan orang-orang kafir sebelumnya. Allah
melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?" (QS. At-Taubah: 30).
Ibnu
Katsir dalam tafsirnya menjelaskan : "Ini adalah dorongan dari Allah
Ta'ala kepada orang-orang beriman untuk memerangi orang-orang musyrik dan kafir
dari kalangan Yahudi dan Nasrani, karena ucapan buruk mereka dan kedustaan
mereka terhadap Allah Ta'ala. Adapun orang-orang Yahudi, mereka mengatakan
tentang Uzair: 'Sesungguhnya dia adalah anak Allah'—Maha Tinggi Allah dari
perkataan itu dengan ketinggian yang agung."… "Adapun kesesatan Nasrani
tentang Al-Masih (Isa) sudah jelas. Karena itu, Allah mendustakan kedua
kelompok ini dengan firman-Nya: 'Itulah ucapan mereka dengan mulut
mereka'—artinya, mereka tidak memiliki dasar dalam klaim mereka kecuali
kebohongan dan kepalsuan. 'Mereka meniru perkataan orang-orang kafir
sebelumnya'—yaitu umat-umat sebelum mereka yang juga sesat seperti mereka.
'Allah melaknat mereka'—Ibnu Abbas menafsirkan: 'Allah mengutuk mereka.'
'Bagaimana mereka sampai berpaling?'—maksudnya, bagaimana mereka bisa tersesat dari
kebenaran yang nyata dan justru condong kepada kebatilan?" (Tafsir Ibnu
Katsir 3: 135).
A. KRITIK
QURAN TERHADAP GELAR “ANAK ALLAH”
At-Taubah
ayat 30 adalah kritik tegas Quran yang menyasar bentuk ghuluw sebagian
kaum Yahudi yang mengkultuskan Uzair (Ezra) dan kaum Kristen yang mengkultuskan
Isa Al-Masih (Yesus Kristus). Konteks ghuluw keduanya serupa, yaitu
pengkultusan entitas sang tokoh dengan gelar “Ibnullah” (Anak Allah). Gelar ini
merupakan frasa metaforis, maksudnya bahwa Anak Allah dalam hal ini bukanlah
anak biologis, namun lebih kepada manusia yang memiliki sifat ilahi (manusia
semi-ilahi).
1.
Kritik Untuk Sebagian Yahudi
Para mufassir seperti
Qurthubi dan Fakhruddin Ar-Razi menyatakan bahwa tidak semua Yahudi melakukan ghuluw
dalam menghormati Uzair. Adapun Ath-Thabari menyebutkan bahwa Yahudi yang
dimaksud dalam ayat ini adalah sekelompok Yahudi Madinah seperti Bani Quraizhah
dan Bani Nadhir.
Pengkultusan Uzair ini
disebabkan jasanya dalam “menghidupkan kembali” Taurat yang hilang setelah
kehancuran Bait Suci (Baitul Maqdis) di masa penjajahan Babilonia, sehingga muncul
anggapan bahwa Uzair memiliki kedekatan khusus dengan YHWH (Nama Suci Tuhan
Bangsa Israel). Dalam tradisi Yahudi Rabbinik, tokoh Ezra sangat dihormati
karena jasanya tersebut sebagaimana tercatat dalam Talmud: “Seandainya
Taurat tidak diberikan melalui Musa, maka pasti akan diberikan melalui Ezra.”
(Sanhedrin: 21b). Namun, tidak pernah ditemukan secara eksplisit penyebutannya
sebagai Anak Allah dalam tradisi rabbinik demi menjaga kemurnian monoteisme.
Sasaran kritik Quran ini
sangat mungkin ditujukan kepada sebagian Yahudi diaspora yang telah
berasimilasi dengan budaya Helenisme. Hal ini dikuatkan dengan redaksi Quran: “Itulah
ucapan mereka dengan mulut mereka, meniru perkataan orang-orang kafir sebelumnya.”
Tokoh Yahudi Helenistik bernama Philo dari Aleksandria adalah salah satu
yang paling berpengaruh dalam penyebaran konsep “Logos” sebagai perantara ilahi
yang kadang disebut “Anak Ilahi” secara metaforis.
2.
Kritik Untuk Nasrani
Dalam doktrin Kristen, sebutan
Anak Allah bukan sekedar gelar metaforis namun sebagai bentuk pengakuan
terhadap esensi keilahian Yesus dan hubungannya dengan Bapa dalam Trinitas. Penyebutan
Anak Allah untuk Yesus ini berdasarkan berbagai ayat dalam Perjanjian Baru,
salah satunya Yohanes pasal 1 ayat 34: “Dan aku telah melihatnya dan memberi
kesaksian: Dia inilah Anak Allah.”
Dalam teologi Kristen, "Anak Allah" tidak hanya
berarti bahwa Yesus adalah seorang nabi atau utusan, tetapi juga berarti bahwa
Yesus adalah bagian dari Tuhan Trinitas (Bapa, Anak, Roh Kudus). Yesus sebagai
Anak, dianggap memiliki hakikat ilahi yang sama dengan Bapa. Dengan kata lain,
ini merujuk pada keilahian Yesus yang bersatu dengan Bapa. Maka, kritik Quran
sangat sesuai dan tepat sasaran dengan akidah mereka yang mengakui Yesus
sebagai Anak Allah dalam kerangka Trinitas.
B. FRASA “ANAK
ALLAH” DALAM KITAB SUCI YAHUDI DAN KRISTEN
1.
Frasa “Anak Allah” Dalam
Tanakh (Yahudi)
Istilah Anak Allah (Ben-Elohim)
dalam Tanakh digunakan tidak secara eksklusif untuk satu tokoh dan lebih
bersifat simbolik atau metaforis yang menyatakan kedekatan, pilihan, atau
relasi perjanjian. Tokoh-tokoh yang disebut Anak Allah dalam tradisi Yahudi
memang sangat dihormati, namun tidak disembah atau dianggap ilahi seperti
halnya Yesus dalam tradisi Kristen.
Beberapa ayat Tanakh yang
secara eksplisit menyebutkan istilah Anak Allah diantaranya :
a)
Shemot (Keluaran) 4:22 : "Maka engkau harus
berkata kepada Firaun: Beginilah firman YHWH: Israel adalah anak-Ku, anak-Ku
yang sulung." Frasa anak pada ayat ini merujuk kepada bangsa Israel
secara kolektif. Ayat serupa yang menyiratkan hubungan antara ayah dan anak
secara metaforis terdapat dalam Amsal 3:12 : “Karena YHWH menghajar orang
yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah menghajar anak yang disukainya.” Konteks
ini juga dikuatkan dalam Talmud: “Orang Israel disebut anak-anak Allah,
bahkan jika mereka berdosa.” (Kiddushin 36a).
b)
2 Samuel 7:14 : "Aku akan menjadi bapanya, dan ia
akan menjadi anak-Ku..." Frasa anak pada ayat ini merujuk kepada Daud
dan keturunannya dalam konteks pengangkatan seorang raja yang dipilih oleh
YHWH. Konteks yang sama juga terdapat dalam Mazmur 2:7 : "Aku hendak
menceritakan tentang ketetapan YHWH: Ia berkata kepadaku: 'Anak-Ku engkau!
Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.'"
c)
Bereshit (Kejadian) 6:2 : "Ketika anak-anak Allah
melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, maka mereka
mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu..." Frasa anak
pada ayat ini merujuk kepada para malaikat atau makhluk surgawi. Ayat serupa
terdapat dalam Ayub 1:6 : "Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah
menghadap YHWH dan di antara mereka datanglah juga Iblis."
2.
Frasa “Anak Allah” Dalam Perjanjian
Baru (Kristen)
Dalam Perjanjian Baru, Yesus
sering berbicara tentang hubungannya dengan Bapa, dan ini mengarah pada
pandangan bahwa Yesus adalah "Anak" dalam arti relasi ilahi yang
kekal dengan Bapa.
Beberapa ayat Perjanjian Baru
yang secara eksplisit menyebutkan istilah Anak Allah untuk Yesus diantaranya :
a)
Matius 3:17: “Dan lihatlah, suara dari sorga berkata:
Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Ini adalah
bentuk pengakuan Bapa terhadap Yesus pada saat pembaptisan Yesus oleh Yohanes
Pembaptis di Sungai Yordan.
b)
Yohanes 3:16 : "Karena begitu besar kasih Allah
akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya
setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal." Ini adalah ayat utama tentang keselamatan melalui iman kepada
Yesus sebagai Anak Allah.
c)
Markus 1:1 : "Permulaan Injil tentang Yesus
Kristus, Anak Allah." Bagian awal dari teks Markus menyebutkan Yesus
sebagai Anak Allah.
Frasa Anak Allah dalam
Perjanjian Baru memang lebih sering merujuk pada Yesus, tetapi ada beberapa
ayat lain yang memuat frasa Anak Allah untuk selain Yesus namun secara
metaforis (berbeda dengan Yesus). Ayat-ayat tersebut diantaranya :
a)
Yohanes 1:12 : "Tetapi semua orang yang
menerima-Nya diberi-Nya hak menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya
dalam nama-Nya."
b)
Roma 8:14 : "Semua orang yang dipimpin oleh Roh
Allah, mereka adalah anak-anak Allah." Ayat ini adalah dalil bahwa umat
beriman diperlakukan sebagai "anak-anak Allah" secara simbolik,
sebagai bagian dari hubungan yang dekat dengan Tuhan, namun tidak sama dengan
penyebutan Yesus sebagai "Anak Allah" dalam arti ilahi.
C. SIAPA ALLAH
DALAM FRASA “ANAK ALLAH”?
Dalam
Islam, “Allah” adalah nama dari Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta Alam Semesta,
Tuhan seluruh nabi dan umat terdahulu, sebagaimana dinyatakan dalam beberapa
ayat berikut :
قُلْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ
أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ أُنزِلَ عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ وَإِسْمَٰعِيلَ
وَإِسْحَٰقَ وَيَعْقُوبَ وَٱلْأَسْبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَٱلنَّبِيُّونَ
مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ
"Katakanlah (Muhammad): ‘Kami beriman
kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang
diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, serta apa
yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri
kepada-Nya’." (QS. Ali Imran: 84).
شَرَعَ
لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِه نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ
وَمَا وَصَّيْنَا بِه اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ
وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ
“Dia (Allah) telah
mensyariatkan bagi kamu agama yang Dia wasiatkan (juga) kepada Nuh, yang telah
Kami wahyukan kepadamu (Nabi Muhammad), dan yang telah Kami wasiatkan kepada
Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan
janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya.” (QS. Asy-Syura: 13).
1. “Allah” Dalam Tradisi
Yahudi
Jika dicermati, ayat-ayat Tanakh yang memuat frasa “Anak Allah” (Ben-Elohim)
dalam tradisi Yahudi, penyandarannya merujuk kepada YHWH (יהוה) sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep ketuhanan YHWH dapat dikatakan sejajar dengan konsep ketuhanan Allah SWT
dalam Islam yang ditegaskan dalam QS. Al-Ikhlas, yaitu monoteistik ketat.
Ayat-ayat Quran yang telah disampaikan di atas, secara implisit mengakui
bahwa Tuhan yang disebut YHWH (oleh kaum Yahudi) adalah Allah SWT. Dengan kata
lain, bahwa Tuhan yang disembah oleh para nabi dalam Tanakh adalah Tuhan yang
sama yang disembah oleh umat Islam meskipun dengan nama dan atribut yang sedikit
berbeda.
Dalam Tanakh dan Targum (Terjemahan/Tafsir Tanakh) yang berbahasa Arab,
memang tidak akan ditemukan penerjemahan “YHWH” (יהוה) dengan “Allah” (الله).
Para rabi Yahudi biasanya menggunakan istilah “Rabb” (الربّ) untuk
menerjemahkan YHWH demi menjaga kesucian nama YHWH dan membedakannya dari
istilah umum untuk Tuhan. Namun, rabi Saadia Gaon (salah satu rabi otoritatif
abad 10 M), dalam terjemahan Arabnya terhadap Bereshit 1:4, menggunakan kata “Allah”
(الله) untuk menerjemahkan “Elohim” (אֱלֹהִים) yang merupakan nama lain
dari YHWH. Kata Elohim berakar dari kata dasar "El" (אֵל) atau
"Eloah" (אֱלוֹהַּ).
Rabi Yaakov Emden, seorang rabi terkemuka dari Jerman, dalam tulisannya
menyatakan bahwa Islam adalah agama monoteistik murni yang menolak penyembahan
berhala. Ia mengakui bahwa umat Islam menyembah Tuhan yang sama dengan yang
disembah oleh umat Yahudi, yaitu YHWH. Menurutnya, Islam tidak menyekutukan
Tuhan dan tidak menyembah makhluk lain selain-Nya. Pandangan ini menunjukkan
pengakuan bahwa Allah dalam Islam adalah Tuhan yang sama dengan YHWH dalam
tradisi Yahudi. (thelehrhaus.com - A Jewish Perspective on God’s Presence in
Islam).
2. “Allah” Dalam Tradisi
Kristen
Dalam terjemahan Bibel Kristen berbahasa Melayu (baik Indonesia maupun
Malaysia), kata “Allah” bukanlah nama Tuhan sebagaimana “Allah” dalam Islam,
melainkan jabatan untuk Tuhan. Hal ini merupakan sebuah ambiguitas khususnya
bagi umat Islam, ketika disebutkan kepada mereka adanya “Allah Bapa”, “Allah
Putra” dan “Allah Roh Kudus”. Bahkan ironisnya, penyebutan “Allah” sebagai
jabatan Tuhan seperti ini tidak ditemukan dalam Bibel versi bahasa lainnya di
dunia.
Terlepas dari keambiguan tersebut, teologi Kristen terutama doktrin
Trinitas, meyakini YHWH (Tuhan dalam Tanakh/Perjanjian Lama) sebagai Bapa dari
Yesus (Anak), dan merupakan bagian dari konsep Trinitas yang terdiri dari Bapa,
Anak, dan Roh Kudus. Tradisi Kristen biasa melafalkan YHWH dengan “Yahweh” atau
“Yehovah”, namun para rabi Yahudi menentang pelafalan ini sebagai kekeliruan
fatal, karena yang mengetahui pelafalan aslinya dan berhak untuk melafalkannya
hanyalah Kohen Gadol (Imam Tertinggi), itupun hanya setahun sekali dalam
perayaan Yom Kippur di Bait Suci. Namun, sejak Bait Suci dihancurkan Romawi
pada tahun 70 M, pelafalan YHWH diharamkan untuk umum dan menggantinya dengan
pelafalan “Ha-Shem” atau “Adonai”.
Doktrin Kristen meyakini, meskipun YHWH adalah nama Tuhan yang digunakan
dalam Perjanjian Lama, namun Bapa (dalam Trinitas) adalah YHWH yang sama,
tetapi dengan dimensi yang berbeda dalam hubungan-Nya dengan Yesus sebagai
Anak.
Sementara Yahudi, memiliki pandangan yang sangat berbeda tentang YHWH
dan konsep Bapa. Dalam tradisi Yahudi, YHWH dianggap sebagai Tuhan Yang Maha
Esa, yang tidak terbagi dalam entitas atau oknum apapun. Konsep Bapa dalam
pengertian Kristen (seperti dalam Trinitas) tidak diterima dalam tradisi Yahudi.
YHWH dalam Yahudi adalah Tuhan yang tidak memiliki sekutu, anak, atau bagian
yang terpisah. Dalam hal ini, YHWH adalah Tuhan yang sepenuhnya transenden dan
tidak ada hubungan anak-bapa sebagaimana dalam pengertian Kristen.
KHATIMAH
Dalam hal kritiknya
terhadap pandangan Yahudi dan Kristen terhadap YHWH, Quran mengkritisi pandangan
keduanya. Secara implisit, Quran mengakui bahwa Tuhan yang disebut YHWH, baik
oleh umat Yahudi maupun Kristen adalah Allah SWT. Oleh karenanya, Quran datang
untuk meluruskan dan memurnikan kembali pemahaman tauhid yang telah
terkontaminasi oleh penyimpangan akidah sebagian umat terdahulu.
Beberapa ayat Quran
yang secara tegas meluruskan pandangan Yahudi dan Kristen terhadap Allah SWT,
selain daripada yang telah disebutkan dalam uraian di atas diantaranya :
مَا كَانَ لِلّٰهِ اَنْ يَّتَّخِذَ مِنْ وَّلَدٍ
سُبْحٰنَهۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَه كُنْ فَيَكُوْنُۗ
“Sungguh mustahil dan tidak
patut bagi Allah mempunyai anak, Mahasuci Dia. Apabila Dia hendak menetapkan
sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”
(QS. Maryam: 35).
Ayat
ini secara tegas menyangkal pandangan Kristen terhadap Allah SWT yang mereka
sebut dengan “Bapa” atau “YHWH” dalam kerangka Trinitas, bahwa Dia memiliki
“Anak Ilahi” yaitu Yesus Kristus (Isa Al-Masih).
وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًاۗ لَقَدْ
جِئْتُمْ شَيْـًٔا اِدًّاۙ
“Mereka (Yahudi & Nasrani)
berkata, “(Allah) Yang Maha Pengasih telah mengangkat anak.” Sungguh, kamu
benar-benar telah membawa sesuatu yang sangat munkar.” (QS. Maryam: 88-89).
Ayat ini menyangkal
pandangan Yahudi dan Kristen bahwa Allah SWT yang mereka sebut dengan “YHWH”
atau “Bapa” telah mengangkat anak. Meskipun dalam tradisi Yahudi Rabinik,
konsep “Anak Allah” bersifat metaforis yang berbeda dengan konsep metaforis “Anak
Allah” dalam tradisi Kristen, tetapi Quran tetap mengkritiknya karena
berpotensi menuju kemusyrikan.
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka pendaftaran santri baru untuk tahun ajaran 2025/2026! Kami mengajak para calon santri untuk menuntut ilmu dalam lingkungan yang berbasis Al-Qur’an dan Hadis dengan bimbingan para asatidz yang berpengalaman.
✨ Keunggulan Pesantren Darul Hadis Lembang:
✅ Pendidikan berbasis Hadis dan Ilmu Hadis
✅ Kurikulum terpadu: Diniyah & Akademik
✅ Pembinaan akhlak dan kemandirian santri
📅 Periode Pendaftaran:
🗓 Gelombang I: 22 Januari - 22 Maret 2025 Gelombang ||: 31 Maret - 24 Mei 2025
📍 Lokasi:
Kp. Pondok No. 17, RT 02 / RW 03, Desa Cikole, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, 40391
📞 Informasi & Pendaftaran:
🌐 Website: https://darulhadislembang.org/
📲 Kontak WhatsApp: +62 838-9615-3617

Komentar
Posting Komentar