Dalam ajaran Islam, konsep ghaflah atau
kesengajaan dalam melupakan Allah merupakan suatu keadaan yang sangat
disayangkan. Ghaflah adalah kondisi di mana seseorang tenggelam dalam
kesenangan dunia dan melupakan kepentingan akhirat. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT
memperingatkan tentang bahaya ghaflah dan menggambarkan ciri-cirinya serta
penyebabnya.
Ghaflah, dalam konteks Islam, dapat diartikan
sebagai keadaan di mana seseorang lalai atau lengah dari mengingat Allah. Hal
ini mencakup terlalu terikat pada kesenangan dunia dan syahwat-syahwatnya
sehingga menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran akan kepentingan akhirat.
Dalam keadaan ghaflah, seseorang memiliki hati namun tidak dapat memahami
kebenaran, memiliki mata namun tidak dapat melihat petunjuk Allah, serta
memiliki telinga namun tidak dapat mendengar seruan-Nya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan untuk neraka Jahannam banyak dari jin dan
manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami
(ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk
melihat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi)
tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang
lalai." (QS. Al-A'raf: 179)
Ciri-ciri
Ghaflah
Beberapa ciri-ciri ghaflah dijelaskan
dalam Al-Qur'an surat Al-A’raf ayat 146. Allah SWT berfirman:
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka
bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat
tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat
jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika
mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu
adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari
padanya." (QS. Al-A'raf: 146)
Pada ayat di
atas dijelaskan tiga perkara yang menjadi ciri ghaflah, yaitu:
1.
Menyombongkan diri dan menolak
kebenaran: Ketika seseorang menyombongkan diri dan menolak
kebenaran, mereka cenderung mengabaikan ajaran agama dan petunjuk Allah. Sikap
sombong ini membuat seseorang merasa bahwa mereka tidak membutuhkan Allah atau
ajaran-Nya. Mereka mungkin merasa bahwa mereka sudah mencapai tingkat yang
cukup dalam kehidupan mereka dan tidak perlu lagi mengingat Allah atau
beribadah kepada-Nya. Hal ini mengakibatkan lupa akan pentingnya hubungan
dengan Allah dan menjadikan mereka tenggelam dalam kesombongan yang menghalangi
mereka dari mengingat-Nya.
2.
Hanya mengejar kenikmatan dunia
dan melupakan akhirat: Ketika seseorang terlalu fokus pada
kenikmatan dunia dan kebahagiaan materi, mereka cenderung melupakan akhirat dan
kepentingan spiritual. Mereka mungkin terlalu sibuk mengejar kesenangan duniawi
seperti uang, kekuasaan, atau kesenangan jasmani lainnya sehingga mereka lupa
bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan ada kehidupan setelahnya.
Akibatnya, mereka tidak memperhatikan amalan dan ibadah yang bisa membawa
mereka menuju kebahagiaan abadi di akhirat. Ketidaksadaran akan keberadaan
akhirat dan kepentingannya menjadikan mereka lupa akan keberadaan Allah.
3.
Menjadikan agama sebagai
main-main dan tidak serius dalam ibadah: Ketika seseorang tidak
mengambil agama mereka secara serius dan hanya menjadikannya sebagai main-main,
mereka cenderung tidak memperhatikan kewajiban agama seperti shalat, puasa,
atau ibadah lainnya. Mereka mungkin melakukan ibadah hanya karena formalitas
atau karena mengikuti tradisi, tanpa merasakan makna yang sebenarnya. Sikap
seperti ini membuat mereka lalai dalam mengingat Allah, karena mereka tidak
mengalami hubungan yang dalam dan bermakna dengan-Nya. Mereka mungkin merasa
bahwa agama hanya sesuatu yang dilakukan di waktu-waktu tertentu, bukan sebagai
pedoman hidup yang seharusnya mengarahkan setiap aspek kehidupan mereka.
Penyebab
Ghaflah
Mengingat Allah merupakan pondasi utama dalam
menjalani kehidupan yang berarti. Namun, seringkali manusia terjebak dalam
lalai dari mengingat Allah karena berbagai faktor yang mempengaruhi pikiran dan
perilaku. Ada beberapa penyebab pokok yang dijelaskan dalam Al-Quran, diantaranya:
1.
طول
الأمل
(Terlalu Panjangnya Harapan)
Penyebab pertama lalai dari mengingat Allah
adalah terlalu panjangnya harapan pada dunia. Manusia cenderung terlalu terpaku
pada kenikmatan dan kesenangan dunia yang sementara, sehingga melupakan
kepentingan akhirat. Ayat dalam Al-Qur'an surat Al-Hijr (15:3) menyatakan:
"Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan
dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat
perbuatan mereka)." Hal ini menunjukkan bahwa ketidaksadaran akan akhirat
karena terlalu fokus pada kesenangan dunia bisa mengakibatkan lalai dari
mengingat Allah.
2.
حب
الدنيا
(Cinta Berlebihan pada Dunia)
Penyebab kedua adalah cinta berlebihan pada
dunia yang membuat seseorang lalai dari mengingat Allah. Ayat dalam Al-Qur'an
surat Ar-Rum (30:7) menyatakan: "Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja)
dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah
lalai." Manusia yang terlalu mencintai dunia akan lebih memperhatikan
kenikmatan duniawi daripada urusan akhirat. Mereka cenderung melupakan Allah
dan kepentingan spiritual karena terlalu terikat pada dunia.
3.
اتخاذ الدين لهواً ولعباً (Mengambil
Agama sebagai Main-main)
Penyebab ketiga lalai dari mengingat Allah
adalah ketika seseorang menjadikan agama sebagai main-main atau tidak serius
dalam ibadah. Ayat dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf (7:51) menyatakan:
"(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan
senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Mereka melakukan
ibadah hanya sebagai formalitas atau karena mengikuti tradisi, tanpa merasakan
makna yang sebenarnya. Hal ini membuat mereka lalai dari mengingat Allah karena
tidak mengalami hubungan yang dalam dan bermakna dengan-Nya.
Pencegahan
dan Pengobatan
Untuk menghindari dan menyembuhkan ghaflah,
beberapa langkah yang dapat diambil antara lain:
1.
Tadabbur atas Kematian dan Akhirat
Salah satu cara yang efektif untuk mencegah dan
mengobati lalai dari mengingat Allah adalah dengan senantiasa mengingat
kematian dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda,
" أَتَانِي جِبْرِيلُ - عليه السلام - فَقَالَ لِي: يَا
مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ , فَإِنَّكَ مَيِّتٌ , وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ ,
فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ , فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ ""أخرجه الطبرني
فى الأوسط
"Jibril datang kepadaku dan berkata:
'Wahai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, karena sesungguhnya kamu akan mati;
dan kerjakanlah apa saja yang kamu kehendaki, karena sesungguhnya kamu akan
diberi balasan atasnya; dan cintailah siapa saja yang kamu kehendaki, karena
sesungguhnya kamu akan berpisah dengannya.'" (HR. At-Tabrani) Begitu pula,
Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk sering mengunjungi kuburan karena
kuburan adalah pengingat akan akhirat. Rasulullah SAW bersabda, "Perbanyaklah
mengingat penghancur kesenangan (kematian)." (HR. Al-Baihaqi)
2.
Mengetahui Tujuan Hidup
Allah SWT telah menjelaskan tujuan penciptaan
manusia dalam Al-Qur'an. Allah berfirman, "Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS.
Adz-Dzariyat: 56) Mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu untuk
beribadah kepada Allah, akan membantu manusia menjaga fokus dan mengingat-Nya
dalam setiap langkahnya.
3.
Memilih Teman yang Baik dan Berkualitas
Pilihan teman dan lingkungan sosial juga
memiliki pengaruh besar dalam menjaga kesadaran akan Allah. Rasulullah SAW
bersabda,
" الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ " اخرجه احمد
"Seseorang itu akan berada dalam agama
temannya, maka hendaklah setiap kalian memperhatikan siapa yang akan menjadi
temannya." (HR. Ahmad) dalam hadis lain beliau SAW bersabda,
" لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا , وَلَا يَأكُلْ طَعَامَكَ
إِلَّا تَقِيٌّ -اخرجه الترمذي
“Janganlah
kamu bersahabat kecuali dengan orang mukmin dan janganlah memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”
(HR At-Tirmidzi)
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memilih
teman yang baik dan berkualitas, yang akan membantu kita dalam mengingat Allah
dan menjalankan agama dengan baik.
4.
Menuntut Ilmu Agama
Menuntut ilmu agama merupakan salah satu cara
untuk menguatkan iman dan meningkatkan kesadaran akan Allah. Allah SWT
berfirman, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha
Teliti apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah[58]: 11) Dengan menuntut ilmu agama, seseorang akan
semakin mendekat kepada Allah dan memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang
kehendak-Nya.
5.
Berdoa dan Memohon kepada Allah
Tidak ada yang lebih kuat dan lebih mampu
menyembuhkan hati yang lalai kecuali dengan berdoa dan memohon kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya hati manusia itu di antara dua jari
jemari Rahman, maka Dia (Allah) berpalingkan hati siapa yang Dia
kehendaki." (HR. Muslim) Dengan berdoa dan memohon kepada Allah, kita
meminta pertolongan-Nya untuk menjaga hati kita dari penyakit lalai dan
menjadikan-Nya sebagai sumber kekuatan dan bimbingan dalam setiap langkah
hidup.
Ghaflah adalah kondisi yang sangat merugikan
dalam kehidupan seorang muslim karena dapat menyebabkan terlalunya keterikatan
pada dunia dan melupakan akhirat. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim
untuk selalu waspada dan berupaya untuk tidak terjebak dalam ghaflah. Dengan
memahami ciri-ciri dan penyebabnya serta mengambil langkah-langkah pencegahan
dan pengobatan yang tepat, diharapkan kita dapat menjauhkan diri dari ghaflah
dan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
MN
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar