TAHRIF KITAB-KITAB SAMAWI (Bagian 2)

 


Oleh : Hilman Musthafa


TAHRIF INJIL

          Injil adalah wahyu Allah swt. yang diturunkan dalam bahasa Aram (Suryani) kepada Nabi Isa as untuk Bani Israil. Kaum Yahudi menolak Nabi Isa as sebagai Messias yang dijanjikan karena dianggap tidak memenuhi persyaratan Messias menurut perspektif eskatologis (keyakinan tentang akhir zaman) mereka yang disebut zaman Messianik, oleh karenanya mereka pun tidak mengakui Injil sebagai wahyu. Hal ini berbanding terbalik dengan perspektif kekristenan.

          Injil dalam tradisi Kristen berbentuk bible (kumpulan kitab) seperti Tanach milik Yahudi. Bible Kristen yang juga sering disebut dengan The Holy Bible terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Adapun Perjanjian Lama mengambil dari Septuaginta yang merupakan terjemahan bahasa Koine Greek (Yunani Helenistik) dari Tanach yang berbahasa Ibrani. Penerjemahan Tanach ke dalam bahasa Yunani ini terjadi selama periode helenisasi yang dilakukan pemerintahan Yunani dan Romawi di Mesir.

Sedangkan Perjanjian Baru utamanya terdiri dari surat-surat Paulus dan Empat Gospel yang diberi nama Matius, Markus, Lukas dan Yohannes. Semuanya ditulis pada masa pemerintahan Romawi setelah masehi. Sama halnya dengan Perjanjian Lama, keseluruhan Perjanjian Baru juga berbahasa Yunani Helenistik. Bahasa Yunani pada masa itu digunakan sebagai lingua franca (bahasa internasional).

          Kaum Kristen meyakini bahwa Empat Gospel tersebut ditulis oleh murid-murid Yesus (Nabi Isa as) yang disebut sebagai Para Rasul dalam perspektif mereka. Namun, para Ahli Perjanjian Baru modern menyatakan bahwa Empat Gospel ini ditulis oleh orang-orang yang tidak diketahui identitasnya. Sekalipun demikian, kaum Kristen tetap meyakini bahwa para penulis yang tidak diketahui identitasnya itu mendapat ilham dari Roh Kudus dalam penulisan gospelnya. Tradisi Kristen memperkirakan Yesus hidup sampai tahun 30 M, sementara surat-surat Paulus mulai ditulis pada tahun 48 M, dan Empat Gospel ditulis pada masa setelahnya.

          Kecurigaan atas otentisitas Bible Kristen didasarkan pada temuan ayat-ayat yang saling berkontradiksi di dalam Perjanjian Baru, adanya ayat sisipan/tambahan, adanya ayat-ayat yang diperdebatkan keasliannya oleh kekristenan sendiri, bahkan ada pula penafsiran penyalin yang dimasukkan menjadi ayat.

Para kritikus tekstual berpendapat bahwa isi dari Septuaginta/Perjanjian Lama tidak sesuai dengan Tanach karena telah mengalami resensi yang dilakukan oleh Bapa-bapa Gereja selama penerjemahannya. Tidak sedikit yang mengira bahwa ketidaksesuaian ini bertujuan agar Perjanjian Lama seolah mendukung teologis kekristenan dalam Perjanjian Baru. Oleh karenanya, kaum Yahudi sebagai pihak yang memiliki otoritas atas Tanach tidak mengakui otentisitas Perjanjian Lama versi Kristen.

          Bible Kristen sendiri terdiri dari banyak versi sesuai dengan denominasinya, antara lain sebagai berikut :

1.   Bible Kristen Ortodoks Ethiopia terdiri dari 81 kitab

2.   Bible Kristen Ortodoks Timur (Yunani) terdiri dari 78 kitab

3.   Bible Kristen Katolik (Roma) terdiri dari 73 kitab

4.   Bible Kristen Protestan terdiri dari 66 kitab

Perbedaan jumlah kitab tersebut di atas berdasarkan penilaian dari setiap denominasi tentang kitab-kitab yang dikanonisasi sebagai wahyu dan non-wahyu. Kitab-kitab yang tidak diakui sebagai wahyu disebut dengan Deuterokanonika atau Aprokrifa. Pertanyaan besarnya adalah “Bible versi mana yang merupakan wahyu?Sampai saat ini masih menjadi perdebatan, karena setiap pihak mengklaim otentisitas bible versi masing-masing.

          Allah swt. berfirman :

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran : 78).

 

TAHRIF AL-QURAN

          Al-Quran adalah wahyu Allah swt. yang diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad saw. untuk seluruh manusia di segala tempat dan segala zaman, sebagai Final Revelation (Wahyu Terakhir) yang bersifat universal. Al-Quran berfungsi sebagai Mushaddiq (Pembenar) dan Muhaimin (Pengoreksi) terhadap Kitab-kitab Samawi terdahulu.

          Ayat-ayat Al-Quran dihafal dan ditulis oleh para shahabat Nabi Muhammad saw.  sebelum peristiwa kodifikasi pada masa kepemimpinan Usman bin Affan. Manuskrip Al-Quran tertua yang ditemukan telah diakui oleh para kritikus teks berasal dari abad ke-7 M, yaitu abad dimana Nabi Muhammad saw. menerima wahyu. Berbeda dengan Bible Yahudi dan Bible Kristen yang manuskrip tertuanya berasal dari masa yang terpaut jauh dengan masa diturunkannya wahyu.

Setelah peristiwa kodifikasi, ayat-ayat Al-Quran tetap diriwayatkan oleh para shahabat dan tabiin dengan tradisi hafalan bersanad dan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Banyak tuduhan yang disampaikan oleh kalangan non-muslim bahwa Al-Quran juga mengalami tahrif dengan bukti adanya perbedaan rasm (tulisan) antara Mushaf Usmani dan Mushaf Ibnu Mas’ud yang ditemukan dalam beberapa ayat. “Apakah benar perbedaan versi Al-Quran tersebut termasuk kategori tahrif?”

Sebelumnya penting untuk diketahui, bahwa semua terbitan Al-Quran yang digunakan oleh kaum muslim di seluruh dunia dari sejak kodifikasi pada zaman Usman bin Affan sampai hari ini tidak ada perbedaan dalam jumlah surat (114), jumlah juz (30), dan jumlah kata (78.364) baik versi Mushaf Usmani maupun versi Mushaf Ibnu Mas’ud.

Adapun adanya perbedaan tulisan itu disebabkan penggunaan lahn (dialek) yang beragam, Mushaf Usmani dengan dialek Hafs sedangkan Mushaf Ibnu Mas’ud dengan dialek Warsy.

Beberapa contoh ragam dialek diantara keduanya sebagai berikut :

1.   QS. Al-Baqarah : 132

-      Versi Mushaf Usmani, di awal ayat tertulisوَ وَصَّىٰ  (wa washshoo)

-      Versi Mushaf Ibnu Mas’ud, di awal ayat tertulisوَ أَوْصى ٰ (wa aushoo)

Kedua dialek di atas dapat diterima karena secara makna keduanya tetap sama “Dan ia telah mewasiatkan”

2.   QS. Al-Baqarah : 9

-      Versi Mushaf Usmani, di akhir ayat tertulis يَكْذِبُونَ (yakdzibuun)

-      Versi Mushaf Ibnu Mas’ud, di akhir ayat tertulis يُكَذِّبُونَ (yukadzdzibuun)

Kedua dialek di atas dapat diterima karena secara makna keduanya tetap sama “mereka berdusta”

3.   QS. Al-Anbiya : 4

-      Versi Mushaf Usmani, di awal ayat tertulis قَالَ (Qoola)

-      Versi Mushaf Ibnu Mas’ud, di awal ayat tertulis قُلْ (Qul)

Kedua dialek di atas dapat diterima karena secara makna keduanya tetap sama baik “Muhammad berkata” maupun “Katakanlah olehmu Muhammad”, keduanya menyebutkan hakikat bahwa Nabi Muhammad saw. menyampaikan sebuah pesan dari Allah swt.

Ragam dialek seperti ini tidak diketegorikan tahrif karena tidak sedikitpun merubah makna hakiki. Seperti halnya ragam dialek bahasa lainnya, contoh :

1.   “Obat” (dialek Melayu Indonesia) dan “Ubat” (dialek Melayu Malaysia)

2.   “Color” (dialek Inggris Amerika) dan “Colour” (dialek Inggris Britania)

3.   “Truck” (dialek Inggris Australia) dan “Lorry” (dialek Inggris Kanada)

Dengan demikian, tuduhan bahwa Al-Quran mengalami tahrif disebabkan perbedaan versi mushaf dengan dialek yang beragam itu adalah tuduhan yang keliru, dimungkinkan tuduhan tersebut akibat dari kekeliruan dalam menginterpretasikan istilah multiple dan different. Terlebih jika dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan yang ada dalam Bible Yahudi dan Bible Kristen seperti perbedaan jumlah kitab, jumlah ayat, jumlah kata, kekeliruan terjemahan dari teks aslinya, dan lain sebagainya yang pada akhirnya memalingkan dari makna hakiki.

 

KHATIMAH

          Tahrif yang terdapat dalam Kitab-kitab Samawi terdahulu sebelum Al-Quran adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Bahkan fakta tersebut juga telah banyak diakui oleh sebagian kaum Yahudi dan Kristen sendiri. Sedangkan Al-Quran adalah satu-satunya Kitab Samawi yang terpelihara keotentikannya dari tahrif, sehingga layak dinyatakan bahwa Al-Quran adalah satu-satunya “Kitab Suci” saat ini.

          Allah swt. berfirman :

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikra (Al-Quran), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr : 9).

Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/


Komentar