Oleh : Hilman Musthafa
TAHRIF INJIL
Injil
adalah wahyu Allah swt. yang diturunkan dalam bahasa Aram (Suryani) kepada Nabi Isa as untuk Bani
Israil. Kaum Yahudi menolak Nabi Isa as sebagai Messias yang dijanjikan karena
dianggap tidak memenuhi persyaratan Messias menurut perspektif eskatologis (keyakinan
tentang akhir zaman) mereka yang disebut zaman Messianik, oleh karenanya mereka
pun tidak mengakui Injil sebagai wahyu. Hal ini berbanding terbalik dengan
perspektif kekristenan.
Injil
dalam tradisi Kristen berbentuk bible (kumpulan kitab) seperti Tanach
milik Yahudi. Bible Kristen yang juga sering disebut dengan The Holy Bible
terdiri dari Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru. Adapun Perjanjian Lama mengambil dari Septuaginta yang
merupakan terjemahan bahasa Koine Greek (Yunani Helenistik) dari Tanach
yang berbahasa Ibrani. Penerjemahan Tanach ke dalam bahasa Yunani ini
terjadi selama periode helenisasi yang dilakukan pemerintahan Yunani dan Romawi
di Mesir.
Sedangkan Perjanjian
Baru utamanya terdiri dari surat-surat Paulus dan Empat Gospel yang diberi nama Matius, Markus,
Lukas dan Yohannes. Semuanya ditulis pada masa pemerintahan Romawi setelah masehi. Sama halnya dengan Perjanjian Lama, keseluruhan
Perjanjian Baru juga berbahasa Yunani Helenistik. Bahasa Yunani pada
masa itu digunakan sebagai lingua franca (bahasa internasional).
Kaum
Kristen meyakini bahwa Empat Gospel tersebut ditulis oleh murid-murid Yesus
(Nabi Isa as) yang disebut sebagai Para Rasul dalam perspektif mereka. Namun, para Ahli Perjanjian Baru
modern menyatakan bahwa Empat Gospel ini ditulis oleh orang-orang yang tidak diketahui identitasnya.
Sekalipun demikian, kaum Kristen tetap meyakini bahwa para penulis yang tidak
diketahui identitasnya itu mendapat ilham dari Roh Kudus dalam penulisan
gospelnya. Tradisi Kristen memperkirakan Yesus hidup sampai tahun 30 M,
sementara surat-surat Paulus mulai ditulis pada tahun 48 M, dan Empat Gospel
ditulis pada masa setelahnya.
Kecurigaan atas otentisitas Bible
Kristen didasarkan pada temuan ayat-ayat yang saling berkontradiksi di dalam
Perjanjian Baru, adanya ayat sisipan/tambahan, adanya ayat-ayat yang
diperdebatkan keasliannya oleh kekristenan sendiri, bahkan ada pula penafsiran
penyalin yang dimasukkan menjadi ayat.
Para kritikus tekstual berpendapat bahwa isi dari Septuaginta/Perjanjian
Lama tidak sesuai dengan Tanach karena telah mengalami resensi yang dilakukan
oleh Bapa-bapa Gereja selama penerjemahannya. Tidak sedikit yang mengira bahwa ketidaksesuaian
ini bertujuan agar Perjanjian Lama seolah mendukung teologis kekristenan
dalam Perjanjian Baru. Oleh karenanya, kaum Yahudi sebagai pihak yang memiliki otoritas atas
Tanach tidak mengakui otentisitas Perjanjian Lama versi Kristen.
Bible Kristen sendiri terdiri dari
banyak versi sesuai dengan denominasinya, antara lain sebagai berikut :
1.
Bible Kristen Ortodoks
Ethiopia terdiri dari 81 kitab
2.
Bible Kristen Ortodoks Timur
(Yunani) terdiri dari 78 kitab
3.
Bible Kristen Katolik (Roma)
terdiri dari 73 kitab
4.
Bible Kristen Protestan
terdiri dari 66 kitab
Perbedaan jumlah kitab tersebut di atas
berdasarkan penilaian dari setiap denominasi tentang kitab-kitab yang dikanonisasi sebagai wahyu dan non-wahyu. Kitab-kitab yang tidak diakui sebagai
wahyu disebut dengan Deuterokanonika atau Aprokrifa. Pertanyaan
besarnya adalah “Bible versi mana yang merupakan wahyu?” Sampai saat ini masih menjadi perdebatan,
karena setiap pihak mengklaim otentisitas bible versi masing-masing.
Allah
swt. berfirman :
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا
يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ
الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya
diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab,
supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia
bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang)
dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta
terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran : 78).
TAHRIF
AL-QURAN
Al-Quran adalah wahyu Allah swt. yang
diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad saw. untuk seluruh manusia di
segala tempat dan segala zaman, sebagai Final Revelation (Wahyu
Terakhir) yang bersifat universal. Al-Quran berfungsi sebagai Mushaddiq
(Pembenar) dan Muhaimin (Pengoreksi) terhadap Kitab-kitab Samawi
terdahulu.
Ayat-ayat Al-Quran dihafal dan ditulis oleh para shahabat Nabi Muhammad
saw. sebelum peristiwa kodifikasi pada
masa kepemimpinan Usman bin Affan. Manuskrip Al-Quran tertua yang ditemukan
telah diakui oleh para kritikus teks berasal dari abad ke-7 M, yaitu abad
dimana Nabi Muhammad saw. menerima wahyu. Berbeda dengan Bible Yahudi dan Bible
Kristen yang manuskrip tertuanya berasal dari masa yang terpaut jauh dengan
masa diturunkannya wahyu.
Setelah peristiwa
kodifikasi, ayat-ayat Al-Quran tetap diriwayatkan oleh para shahabat dan tabiin
dengan tradisi hafalan bersanad dan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.
Banyak tuduhan yang disampaikan oleh kalangan non-muslim bahwa Al-Quran
juga mengalami tahrif dengan bukti adanya perbedaan rasm (tulisan)
antara Mushaf Usmani dan Mushaf Ibnu Mas’ud yang ditemukan dalam beberapa ayat.
“Apakah benar perbedaan versi Al-Quran tersebut termasuk kategori tahrif?”
Sebelumnya penting untuk diketahui, bahwa semua terbitan Al-Quran yang
digunakan oleh kaum muslim di seluruh dunia dari sejak kodifikasi pada zaman
Usman bin Affan sampai hari ini tidak ada perbedaan dalam jumlah surat (114),
jumlah juz (30), dan jumlah kata (78.364) baik versi Mushaf Usmani maupun versi
Mushaf Ibnu Mas’ud.
Adapun adanya perbedaan tulisan itu disebabkan penggunaan lahn (dialek)
yang beragam, Mushaf Usmani dengan dialek Hafs sedangkan Mushaf Ibnu
Mas’ud dengan dialek Warsy.
Beberapa contoh
ragam dialek diantara
keduanya sebagai berikut :
1.
QS. Al-Baqarah : 132
-
Versi Mushaf Usmani, di awal ayat tertulisوَ وَصَّىٰ (wa washshoo)
-
Versi Mushaf Ibnu Mas’ud, di awal ayat tertulisوَ أَوْصى ٰ (wa aushoo)
Kedua dialek di atas dapat diterima
karena secara makna keduanya tetap sama “Dan ia telah mewasiatkan”
2. QS. Al-Baqarah
: 9
-
Versi Mushaf Usmani, di akhir ayat tertulis يَكْذِبُونَ (yakdzibuun)
-
Versi Mushaf Ibnu Mas’ud, di akhir ayat
tertulis يُكَذِّبُونَ (yukadzdzibuun)
Kedua dialek di atas dapat diterima
karena secara makna keduanya tetap sama “mereka berdusta”
3. QS. Al-Anbiya :
4
-
Versi Mushaf Usmani, di awal ayat tertulis قَالَ (Qoola)
-
Versi Mushaf Ibnu Mas’ud, di awal ayat tertulis
قُلْ (Qul)
Kedua dialek di atas dapat diterima
karena secara makna keduanya tetap sama baik “Muhammad berkata” maupun
“Katakanlah olehmu Muhammad”, keduanya menyebutkan hakikat bahwa Nabi Muhammad
saw. menyampaikan sebuah pesan dari Allah swt.
Ragam dialek seperti ini tidak diketegorikan tahrif karena tidak
sedikitpun merubah makna hakiki. Seperti halnya ragam dialek bahasa lainnya,
contoh :
1. “Obat” (dialek
Melayu Indonesia) dan “Ubat” (dialek Melayu Malaysia)
2. “Color” (dialek
Inggris Amerika) dan “Colour” (dialek Inggris Britania)
3. “Truck” (dialek
Inggris Australia) dan “Lorry” (dialek Inggris Kanada)
Dengan demikian,
tuduhan bahwa Al-Quran mengalami tahrif disebabkan perbedaan versi mushaf
dengan dialek yang beragam itu adalah tuduhan yang keliru, dimungkinkan tuduhan
tersebut akibat dari kekeliruan dalam menginterpretasikan istilah multiple dan
different. Terlebih jika dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan yang
ada dalam Bible Yahudi dan Bible Kristen seperti perbedaan jumlah kitab, jumlah
ayat, jumlah kata, kekeliruan terjemahan dari teks aslinya, dan lain sebagainya
yang pada akhirnya memalingkan dari makna hakiki.
KHATIMAH
Tahrif
yang terdapat dalam Kitab-kitab Samawi terdahulu sebelum Al-Quran adalah fakta
yang tak dapat dipungkiri. Bahkan fakta tersebut juga telah banyak diakui oleh sebagian
kaum Yahudi dan Kristen sendiri. Sedangkan Al-Quran adalah satu-satunya Kitab
Samawi yang terpelihara keotentikannya dari tahrif, sehingga layak dinyatakan
bahwa Al-Quran adalah satu-satunya “Kitab Suci” saat ini.
Allah
swt. berfirman :
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
https://muslimnurdinkarya.blogspot.com/2024/02/tahrif-kitab-kitab-samawi-bagian-1.html
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar