NILAI-NILAI TAUHID DALAM IBADAH QURBAN

Kisah penyembelihan nabi Ibrahim alaihissalam terhadap anaknya, Nabi Ismail alaihissalam yang Allah tebus dengan seekor domba yang besar menjadi syari’at qurban bagi umat-umat setelahnya, termasuk bagi kita sebagai umat Nabi terakhir, Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ (108) سَلامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109)

Kami abadikan untuk Ibrahim itu di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim.” (As-Shafat: 108-109)

Ibadah qurban atau dalam istilah syari’at dinamakan nusuk tidak hanya disyari’atkan kepada umat-umat tertentu saja, akan tetapi kepada seluruh umat yang Allah utus rasul padanya. Allah Ta’ala berfirman

{وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ } [الحج: 34]

Dan bagi setiap umat kami syariatkan penyembelihan (qurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka tuhan kalian adalah tuhan yang Mahaesa, karena itu berserahdirilah kalian kepadaNya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (Al-Hajj: 36)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, “Allah mengabarkan bahwa menyembelih hewan dan mengalirkan darahnya dengan menyebutkan nama Allah telah disyariatkan pada seluruh millah.” (Tafsir ibnu Katsir). Hal ini sesuai dengan nilai ketauhidan yang diperintahkan oleh Allah kepada setiap nabi dan rasul agar disampaikan kepada masing-masing umatnya. Allah Ta’ala berfirman

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ} [النحل: 36]

Sungguh kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyampaikan), yaitu hendaklah kalian menyembah Allah dan jauhilah sembahan-sembahan selainnya. (An-nahl: 36)

Dengan demikian ibadah qurban dan tauhid memiliki ikatan yang sangat erat karena keduanya merupakan ajaran yang dibawa oleh setiap rasul kepada setiap umatnya.

Ada empat hal yang menghubungkan ibadah qurban dengan ketauhidan kepada Allah Ta’ala

1. Ibadah qurban bukan sesajen

Sesajen adalah persembahan berupa makanan, bunga-bunga dan lain sebagainya yang disajikan untuk dewa-dewa atau nenek moyang. Ibadah qurban bukanlah bentuk sesajen kepada Allah Ta’ala. Dan inilah keyakinan yang mendasar yang membedakan antara mukmin dan orang-orang musyrik.

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Abi Hatim, Ibnu Juraij yang berkata, “orang-orang Jahiliah di masa silam memuncratkan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, juga daging hewan kurban mereka. Maka para sahabat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam berkata, "Kami lebih berhak untuk melakukan hal tersebut." Kemudian Allah Swt. menurunkan firman-Nya:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. (Al-Hajj: 37) Yakni karena ketakwaan kalianlah Allah menerimanya dan memberikan balasan kebaikan kepada pelakunya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Allah Ta’ala Maha Kaya dari semesta alam, tidak membutuhkan sesajen dari siapapun dan dengan apapun. Ketika manusia melaksanakan ibadah maka kebaikannya bukan untuk Allah tapi untuk dirinya sendiri, sebagaimana ketika dia melakukan maksiat, maka kejelekannya untuk dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Aku tidak menginginkan pemberian dari mereka dan tidak pula aku ingin diberi makan oleh mereka. (Adz-Dzāriyāt: 57)

2. Landasan Ibadah qurban adalah keyakinan bahwa Allah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki)

Ibadah  qurban termasuk dalam kategori ibadah maaliyah. Ibadah maaliyah adalah ibadah dalam bentuk mengeluarkan sebagian harta yang dimilki. Seorang mukmin meyakini bahwa setiap harta yang ia miliki, hakikatnya titipan dan amanah dari Allah Ta’ala, sehingga ketika mengeluarkannya di jalan Allah tidak ada sedikitpun kekecewaan dan keangkuhan ketika berinfak, karena meyakini sekecil apapun yang dimilikinya tidak mungkin ada kecuali karena pemberian dari Ar-Razzaq, Allah Sang Maha Pemberi Rezeki.

Lebih dari itu, sesungguhnya orang yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah adalah orang-orang yang sedang mengukuhkan kepemilikannya. Dalam sebuah hadis dijelaskan

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ قَالَ فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

Abdullah berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapakah diantara kalian yang harta pewarisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?" Mereka menjawab; 'Wahai Rasulullah, tidak ada diantara kami melainkan hartanya lebih ia cintai daripada harta pewarisnya.' Beliau bersabda: 'Hartamu adalah apa yang telah engkau dahulukan (infakkan) sedang harta pewarismu adalah apa yang engkau tangguhkan (tidak diinfakkan).' (HR. Al-Bukhari)

Sungguh benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Shadaqah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

3. Ibadah qurban harus disertai ketundukan dan keberserahan diri terhadap perintah Allah tanpa memperhitungkan untung rugi, karena yakin di balik perintah Allah ada kemaslahatan. Hal ini tergambar dalam ayat yang menerangkan tentang pengorbanan Nabi Ibrahim alaihissalam ketika diperintah untuk menyembelih putra kesayangannya, yaitu Nabi Ismail alaihissalam

{فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ (108)} [الصافات: 102 - 108]

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (As-Shafaat : 102-108)

4. Ibadah qurban harus disertai keikhlasan yang hakiki

Ibadah qurban merupakan ibadah mahdah sebagaimana shalat, sehingga tidak boleh kita lakukan kecuali harus karena Allah Ta’ala. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ

Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat, sahabat Salman berkata,

دَخَلَ رَجُلٌ الْجَنَّةَ فِي ذُبَابٍ ، وَدَخَلَ النَّارَ رَجُلٌ فِي ذُبَابٍ قَالُوا : وَكَيْفَ ذَلِكَ ؟ قَالَ : مَرَّ رَجُلاَنِ عَلَى قَوْمٍ لَهُمْ صَنَمٌ لاَ يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقَرِّبَ لَهُ شَيْئًا ، فَقَالُوا لأَحَدِهِمَا : قَرِّبْ قَالَ : لَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ فَقَالُوا لَهُ : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا فَقَرَّبَ ذُبَابًا ، فَخَلَّوْا سَبِيلَهُ , قَالَ : فَدَخَلَ النَّارَ ، وَقَالُوا لِلآخَرِ : قَرِّبْ وَلَوْ ذُبَابًا , قَالَ : مَا كُنْتُ لأُقَرِّبَ لأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , قَالَ : فَضَرَبُوا عُنُقَهُ , قَالَ : فَدَخَلَ الْجَنَّةَ. -الزهد لأحمد بن حنبل - دار ابن رجب (1/ 65)

“Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat dan ada yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” mereka bertanya: “Bagaimana itu bisa terjadi?

Beliau menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati sebuah kaum yang memiliki berhala, yang mana tidak boleh seorangpun melewatinya kecuali dengan mempersembahkan sesuatu untuknya terlebih dahulu, maka mereka berkata kepada salah satu di antara kedua orang tadi: “Persembahkanlah sesuatu untuknya!” Ia menjawab: “Saya tidak mempunyai apapun”, mereka berkata lagi: “Persembahkan untuknya walaupun seekor lalat!” Maka iapun mempersembahkan untuknya seekor lalat, maka mereka membiarkan ia untuk meneruskan perjalanannya, dan iapun masuk ke dalam neraka. Kemudian mereka berkata lagi kepada seseorang yang lain: “Persembahkalah walaupun seekor lalat!” Ia menjawab: “Aku tidak akan mempersembahkan sesuatu apapun untuk selain Allah, maka merekapun memenggal lehernya, dan ia pun masuk ke dalam surga” (HR. Ahmad).

Komentar