Sebagai manusia, memahami potensi diri merupakan
kunci keberhasilan dalam menentukan sikap terbaik. Dengan mencermati ayat-ayat
Al-Quran tentang penciptaan manusia, dapat terungkap dengan jelas siapa
sebenarnya kita. Diantaranya Al-Quran menerangkan tiga asal penciptaan manusia,
yaitu min ‘alaq (QS. Al-‘Alaq: 2), min dha’fin (QS. Ar-Rum: 54), min ‘ajal (QS.
Al-Anbiya: 37). ‘alaq artinya sesuatu yang bergantung kepada sesuatu lainnya
yang lebih tinggi (Maqayis al-Lughah-Ibnu Faris), dha’fin artinya lemah baik jasad, fikiran
maupun akal, ‘ajal artinya tergesa-gesa yang merupakan turunan dari sifat lemah
sehingga salah dalam memilih sebuah keputusan.
Dari sejumlah ayat-ayat tersebut dapat kita pahami
bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, tergesa-gesa dan bergantung kepada
yang lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya demi mendapatkan tujuan yang
diinginkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfitman
نَحْنُ قَسَمْنَا
بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ
فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا وَرَحْمَتُ
رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ} ( الزخرف : 32)
Apakah
mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka
penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian
mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat
mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan. (QS. Az-Zukhruf: 32)
Al-Imam
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya “makna ayat tersebut ialah agar sebagian dari mereka dapat
memanfaatkan sebagian yang lain untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan, karena
yang lemah memerlukan yang kuat dan begitu pula sebaliknya”. (Tafsir Ibnu Katsir)
Dengan demikian, semakin dalam manusia mengenal dirinya, semakin
besar pula kebutuhannya kepada orang lain. Tidak sedikit orang yang bersikap sok merasa tidak butuh orang lain, enggan menjalin hubungan dan enggan saling
mengenal. Jika sikap macam itu terus dipelihara, pada gilirannya bisa
melahirkan bencana dan kerusakkan di dunia. Padahal Allah subhanahu wa
ta’ala menegaskan terciptanya manusia dari seorang laki-laki dan perempuan
sehingga menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku adalah supaya saling
mengenal, dengan mengenal akan saling mengetahui kekurangan dan kelebihan
masing-masing kemudian saling membutuhkan dan saling menyayangi antara satu
dengan yang lainnya.
Seorang mukmin yang sempurna adalah mereka
yang senantiasa saling mencintai dan menyayangi antar sesamanya. Rasulullah sallalahu
‘laihi wasallam bersabda:
«لَا تَدْخُلُونَ
الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا
أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ
بَيْنَكُمْ» صحيح مسلم (1/ 74)
Kalian tidak
akan masuk surga melainkan beriman dan kalian tidak dikatakan beriman melainkan
saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan kepada kalian atas suatu amal yang jika
dilakukan, maka kalian akan saling menyayangi? Sebarluaskanlah salam diantara
kalian. (HR. Muslim, I : 74)
Uniknya, timbul kecintaan antar sesama mukmin bukan karena
kebutuhan-kebutuhan duniawi dan kepentingan-kepentingan
sesaat, akan tetapi karena kemuliaan yang bersifat langgeng di sisi Allah Ta’ala.
Dalam sebuah hadis, Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ عِبَادِ
اللهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ
الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللهِ
تَعَالَى قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ
تَحَابُّوْا بِرُوْحِ اللهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ
يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللهِ إِنَّ وُجُوْهَهُمْ لَنُوْرٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُوْرٍ
لَا يَخَافُوْنَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُوْنَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ
وَقَرَأَ هٰذِهِ الْآيَةَ ( أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُوْنَ )
"Sesungguhnya
di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para Nabi dan
bukan orang-orang yang mati syahid. Para Nabi dan orang-orang yang mati syahid
merasa iri kepada mereka pada hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah
Ta'ala." Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan
menceritakan kepada kami siapakah mereka?” Beliau bersabda: "Mereka adalah
orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan
kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka
berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya
mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa
takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih." Dan beliau
membaca ayat ini: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yunus
: 62)." (HR. Abu Dawud)
Dengan demikian, tidaklah pantas apabila sesama mukmin saling
mencela, saling merendahkan, saling berprasangka buruk apalagi saling
bermusuhan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Jangan kalian
saling dengki, jangan tanajusy, jangan saling membenci, jangan saling
membelakangi, dan jangan pula sebagian kalian menjual di atas jual beli
sebagian yang lain, serta jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Setiap
muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, ia tidak boleh menzhaliminya, tidak
membiarkannya (tanpa memberikan pertolongan), tidak berbohong kepadanya dan
tidak memperhinakannya. Takwa itu ada di sini -seraya menunjuk ke hatinya tiga
kali-. Cukuplah bagi seseorang suatu keburukan bila ia menghina sauda-ranya
seislam. Setiap muslim itu haram: darah, harta dan kehormatan-nya." (HR.
Muslim). Sesama mukmin hendaklah bersinergi dan saling mendukung dalam memperjuangkan
kebaikan dan amal shalih.
Menyayangi sesama mukmin dengan sepenuhnya, bukan hanya dengan
memberikan dukungan dan dorongan untuk melakukan kebaikan, namun juga
mencegahnya untuk melakukan maksiat dan kemunkaran. Mukmin yang membiarkan
saudaranya dalam kesalahan, sesungguhnya adalah mukmin yang membiarkan diri dan
saudaranya terjerat dalam lembah laknat.
Allah ta’ala berfirman:
{لُعِنَ الَّذِينَ
كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ
مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (79)} [المائدة: 78، 79]
Telah
dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera
Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui
batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang
tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu
mereka perbuat itu. (QS. Al-Maidah: 78-79).
Dukunglah orang-orang mukmin yang senantiasa berjuang menegakkan
kebaikan dan kebenaran dengan penuh kecintaan. Ingatkanlah dia ketika melakukan
kesalahan dengan penuh rasa sayang bukan dengan dasar prasangka dan kedengkian.
الله يأخذ بأيدينا إلى ما فيه خير للإسلام والمسلمين

Komentar
Posting Komentar