عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ خَطَبَ
النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ
أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا
فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ
هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ
تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ « يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ
وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ »
Dari
Ibnu Umar Rasulullah ﷺ berkhutbah saat penaklukkan Mekkah, beliau
bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan
kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian.
Manusia terbagi dua, yaitu orang baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan orang keji,
sengsara, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan
Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal." (Al Hujuraat: 13) (HR. At-Tirmidzi)
Pada suatu hari yang bersejarah, ketika Mekkah berhasil
ditaklukkan oleh pasukan Islam di bawah komando Rasulullah Muhammad ﷺ,
beliau menyampaikan sebuah khutbah yang penuh makna kepada seluruh umat
manusia. Khutbah ini mencerminkan pesan universal tentang martabat manusia dan
panggilan untuk meninggalkan praktik-praktik jahiliyah yang merugikan.
Dalam khutbah tersebut, Rasulullah Muhammad ﷺ
mengingatkan umat manusia tentang dua golongan yang berbeda di mata Allah.
Pertama, adalah orang-orang yang baik, bertakwa, dan mulia di hadapan-Nya.
Mereka adalah individu yang berbakti kepada Allah, menghormati sesama, dan
menjalani kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan ketakwaan. Sedangkan,
golongan kedua adalah orang-orang yang keji, sengsara, dan hina di hadapan-Nya.
Mereka adalah individu yang menjalani kehidupan dalam kebencian, kezaliman, dan
kesombongan.
Rasulullah Muhammad ﷺ juga menekankan bahwa
semua manusia berasal dari Adam, nenek moyang pertama manusia yang diciptakan
oleh Allah dari tanah. Ini mengingatkan kita akan asal-usul yang sama dan bahwa
tidak ada ruang untuk kesombongan berdasarkan keturunan atau nasab. Setiap
manusia, tanpa memandang latar belakang atau keturunan, memiliki hak yang sama
di hadapan Allah.
Allah SWT sendiri telah menegaskan dalam Al-Quran bahwa manusia
diciptakan dari pasangan laki-laki dan perempuan, serta dibagi menjadi
bangsa-bangsa dan suku-suku supaya mereka saling mengenal satu sama lain.
Namun, yang membedakan martabat manusia di hadapan Allah bukanlah keturunan
atau nasabnya, melainkan tingkat ketakwaan dan kebaikan yang dimiliki oleh
individu tersebut.
Menyombongkan Nasab Merupakan
Tradisi Jahiliyah
Tradisi Jahiliyah merupakan warisan kebiasaan dan budaya pra-Islam
yang masih melekat pada masyarakat Arab pada masa Rasulullah Muhammad ﷺ.
Salah satu aspek dari tradisi Jahiliyah yang masih bertahan dan bahkan menjadi
masalah dalam masyarakat adalah kesombongan atas nasab atau keturunan. Dalam
Islam, kesombongan semacam ini dianggap sebagai tindakan yang bertentangan
dengan nilai-nilai agama.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah
Muhammad ﷺ mengidentifikasi empat perbuatan yang
merupakan bagian dari tradisi Jahiliyah yang sulit ditinggalkan oleh umat
Islam. Salah satu dari empat perbuatan tersebut adalah membanggakan kebesaran
leluhur atau menyombongkan nasab. Rasulullah ﷺ bersabda,
« أَرْبَعٌ
فِى أُمَّتِى مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لاَ يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِى
الأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِى الأَنْسَابِ وَالاِسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ
وَالنِّيَاحَةُ ». وَقَالَ النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا
تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ
جَرَبٍ
“Empat
hal yang terdapat pada
umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan: (1)
membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan, (3) mengaitkan
turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu
beliau bersabda, “Orang yang melakukan niyahah bila mati sebelum ia bertaubat,
maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang
berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit
gatal” (HR. Muslim).
Kesombongan atas nasab menunjukkan sikap yang merendahkan orang
lain dan merasa lebih baik hanya karena keturunan atau keluarga yang dimiliki.
Hal ini sering kali memunculkan perilaku seperti merendahkan orang lain yang
dianggap kurang mulia secara nasab. Bahkan, dalam hadis tersebut, Rasulullah
Muhammad ﷺ menegaskan bahwa menyombongkan nasab
adalah tindakan yang termasuk dalam tradisi Jahiliyah yang harus ditinggalkan
oleh umat Islam.
Selain membanggakan kebesaran leluhur, tradisi Jahiliyah juga
mencakup mencela keturunan. Perilaku ini menciptakan pemisahan antara individu
berdasarkan latar belakang keluarga mereka, yang bertentangan dengan ajaran
Islam yang menekankan persaudaraan dan kesetaraan di antara umat manusia.
Fanatisme
terhadap nasab merusak kehidupan beragama
Fanatisme terhadap nasab, atau kesetiaan buta terhadap kelompok
atau suku tertentu, telah lama menjadi masalah dalam masyarakat. Dalam konteks
agama, fanatisme semacam ini dapat merusak esensi ibadah dan mengarah pada
kesesatan dalam pemahaman agama.
Salah satu bentuk fanatisme terhadap nasab terjadi ketika
seseorang menolak untuk mengikuti ajaran Allah yang telah diturunkan dalam
Al-Quran dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Quran
(Surah Al-Baqarah ayat 170) bahwa umat manusia harus mengikuti apa yang telah
diturunkan-Nya, bukan hanya mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Namun,
fanatik terhadap nasab akan bersikeras mengikuti apa yang telah dipraktikkan
oleh nenek moyang mereka, bahkan jika itu bertentangan dengan ajaran agama.
Ketika seseorang terlalu terpaku pada kesetiaan terhadap kelompok
atau suku tertentu, hal ini dapat mengaburkan pandangan mereka terhadap
prinsip-prinsip agama yang mendasar. Mereka mungkin cenderung memilih untuk
mengikuti ajaran sesat yang dipraktikkan oleh kelompok mereka daripada mematuhi
ajaran agama yang sejati. Ini mengakibatkan penyimpangan dari jalan yang benar
dan menghalangi kemungkinan individu untuk berkembang secara spiritual.
Selain itu, fanatisme terhadap nasab juga dapat mengganggu
persatuan umat dan menyebabkan konflik antar kelompok. Ketika individu lebih
memprioritaskan kesetiaan terhadap suku atau kelompok mereka daripada
persaudaraan Islam yang lebih luas, ini dapat menciptakan pemisahan dan
ketegangan di antara umat Islam.
Dalam konteks ibadah, fanatisme terhadap nasab dapat mengganggu
konsentrasi dan ketenangan dalam menjalankan kewajiban agama. Alih-alih fokus
pada hubungan mereka dengan Allah, individu yang terlalu terpaku pada kesukuan
mungkin lebih terobsesi dengan identitas kelompok mereka dan upaya untuk
mempertahankannya.
Oleh karena itu, penting bagi umat Islam untuk waspada terhadap
bahaya fanatisme terhadap nasab. Kita harus memprioritaskan kesetiaan kepada
ajaran agama dan persatuan umat di atas identitas kelompok atau suku. Dengan
melakukan itu, kita dapat menjaga kesucian ibadah kita dan membangun masyarakat
yang lebih harmonis dan berdamaikan
Ketakwaan
Adalah Kunci Kemuliaan Sejati
Ketika membicarakan tentang keunggulan dan kemuliaan, seringkali
kita terjebak dalam pandangan dunia yang hanya mengukur berdasarkan nasab,
kekayaan, atau status sosial. Namun, dalam ajaran Islam, kemuliaan yang sejati
hanya dapat ditemukan dalam ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini tercermin dalam
beberapa ayat Al-Quran dan hadis yang menggarisbawahi pentingnya ketakwaan
sebagai sumber utama kemuliaan.
1.
Kesetaraan
di Mata Allah: Dalam
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah Muhammad ﷺ
menegaskan,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ
وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا
لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ
عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى
"Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian
satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ajam dan bagi orang
ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang
berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali
dengan ketakwaan (HR. Ahmad)
2.
Ketakwaan
sebagai Patokan Kehormatan: Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib menyampaikan pesan yang sangat penting mengenai
pelindung dan musuh Nabi Muhammad ﷺ. Ia menyatakan bahwa
pelindung yang sejati dari Nabi Muhammad adalah orang yang taat kepada Allah,
bahkan jika mereka memiliki nasab yang jauh. Sebaliknya, musuh yang sejati
adalah orang yang maksiat kepada Allah, meskipun secara nasab mereka dekat dengan
Nabi. ”. (lihat Mahasin At-ta’wil,
6/102)
3.
Bahaya
Fanatisme Terhadap Nasab: Hadis
yang menceritakan tentang fitnah sarra’ memberikan pelajaran berharga tentang
bahaya fanatisme terhadap nasab.
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ فَذَكَرَ الْفِتَنَ
فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا …ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ
قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي
وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ…
Abdullah bin Umar berkata, "Saat kami duduk-duduk di sisi
Rasulullah ﷺ, beliau
bercerita tentang fitnah, panjang lebar beliau bercerita seputar
fitnah…Kemudian fitnah sarra’, kotoran atau asapnya berasal dari bawah kaki
seseorang dari Ahlul baitku, ia mengaku bagian dariku, padahal bukan dariku,
karena sesungguhnya waliku hanyalah orang-orang yang bertakwa… (HR. Abu Daud)
4.
Pentingnya
Amal yang Baik: Hadis
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim menjelaskan sabda Rasulullah ﷺ,
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ
عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بهِ نَسَبُهُ .رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Barangsiapa yang lambat dalam beramal, sungguh garis nasabnya
tidak akan bisa membantunya.” (HR. Muslim) Hal
ini mengingatkan kita bahwa kemuliaan sejati hanya dapat diraih melalui amal
yang baik dan ketakwaan yang tulus.
Dari berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kemuliaan yang sejati hanya dapat ditemukan dalam ketakwaan kepada Allah. Nasab, status sosial, atau kekayaan materi tidak memiliki arti jika tidak diiringi oleh ketakwaan yang tulus. Oleh karena itu, marilah kita jauhkan diri dari fanatisme terhadap nasab dan berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Itulah kunci menuju kemuliaan yang sejati.
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka pendaftaran gelombang 2 tahun pelajaran 2024/2025 tingkat SD, SMP dan SMA
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar