HUKUM MEMBATASI MASA JABATAN KEPEMIMPINAN (bagian 2)

 


A.      Hukum Pembatasan Masa Jabatan Kepemimpinan

Pengaturan masa jabatan kepemimpinan dalam Al-Quran dan juga Al-Hadis tidak ada rinciannya secara tegas. Masa jabatan dan cara-cara untuk memberhentikan kepemimpinan tidak ada ketentuannya dalam Alquran juga hadis Nabi Muhammad . Meskipun kedudukan pemimpin penting bagi masyarakat, namun tata cara dan hal-hal yang bersifat teknis, prosedur kerja dan mekanismenya diserahkan secara penuh kepada manusia untuk memikirkan serta mengembangkannya.

Pembatasan masa jabatan kepemimpinan diperbolehkan dalam Islam berdasarkan argumentasi-argumentasi berikut:

1.        Pembatasan masa jabatan merupakan urusan mu’amalah, dalam qaidah fiqhiyah dijelaskan,

اَلأَصْلُ فِي الْمُعَامَلاَتِ اَلإِبَاحَةُ اِلاَّ اَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا

Asal dalam mu’amalah itu adalah boleh kecuali ada dalil yang menunjukkan haramnya.

Maka ketiadaan dalil yang melarangnya, menunjukkan kebolehannya secara asal.

2.        Dibolehkan bagi umat membuat syarat-syarat dalam berbai’at untuk tujuan kemaslahatan. Dalam sebuah hadis dijelaskan,

عَنْ كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِىُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: اَلصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

Dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah bersabda, 'Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." (HR Ahmad, Musnad Ahmad, 2/306, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, 3/634, Abu Daud, Sunan Abi Daud, 2/304, Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah, 2/788)

Syarat dalam bai’at pernah dilakukan oleh Abdurrahman bin ‘Auf kepada Utsman bin Affan. Dalam sebuah hadis diterangkan,

عَنْ أَبِي وَائِلٍ، قَالَ: قُلْتُ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ: كَيْفَ بَايَعْتُمْ عُثْمَانَ وَتَرَكْتُمْ عَلِيًّا، قَالَ: " مَا ذَنْبِي قَدْ بَدَأْتُ بِعَلِيٍّ فَقُلْتُ: أُبَايِعُكَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ، وَسُنَّةِ رَسُولِهِ، وَسِيرَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، قَالَ: فَقَالَ: فِيمَا اسْتَطَعْتُ " قَالَ: «ثُمَّ عَرَضْتُهَا عَلَى عُثْمَانَ فَقَبِلَهَا» مسند أحمد مخرجا (1/ 560)

dari Abu Wa'il dia berkata; aku bertanya kepada Abdurrahman bin Auf; "Bagaimana kamu membaiat Utsman dan meninggalkan Ali?" Dia menjawab; "Apa dosaku, aku telah memulainya kepada Ali dan aku katakan; 'aku berbaiat kepadamu berdasarkan Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, jejak Abu Bakar dan Umar, '" Abdurrahman berkata; "tetapi Ali menjawab; "Dalam hal yang aku mampu." Abdurrahman berkata; "Kemudian Aku tawarkan kepada Utsman dan dia menerimanya." (HR. Ahmad, musnad Ahmad, 1/560)

3.        Dalam masalah ijtihadiyah yang didasari oleh konteks maslahat dalam waktu dan tempat tertentu, dapat berubah-ubah disesuaikan dengan kondisinya. Dalam sebuah qaidah fiqhiyyah disebutkan,

لا يُنكر تغيُّر الأحكام بتغير الأزمان -

Tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan hukum-hukum itu disebabkan perubahan waktu. (Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah wa tathbiqatiha fi Al-Madzahib Al-Arba’ah, 1/353)

Dalam konteks masa jabatan, maka putusan hukumnya bergantung kepada kesesuaian tempat, waktu dan kondisi. Jika faktor-faktor tersebut sudah berubah, maka berubah pula apa yang dilandaskan kepadanya. Prinsip memelihara kemaslahatan dan keadilan adalah prinsip dari hukum Islam yang tsawabit (tetap/tidak boleh berubah). Bahwa pada zaman sahabat masa jabatannya sampai meninggal dunia boleh jadi cocok dengan situasi di zaman tersebut, namun tidak lagi untuk masa sekarang ini. Pembatasan masa jabatan kepemimpinan bisa jadi dianggap lebih mashlahat dan mendatangkan keadilan di tengah masyarakat untuk konteks masyarakat modern sekarang ini.

4.        Terdapat nash-nash yang menjelaskan pentingnya umat islam menjauhi fitnah dan pertumpahan darah. Apabila pembatasan masa kepemimpinan itu bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kelaliman penguasa atau terjadinya bughat karena kelaliman penguasa, maka hal tersebut diperbolehkan. Nash-nash yang dimaksud diantaranya sebagai berikut,

مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًاۚ ﴿٣٢﴾

barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (Al-Maidah: 32)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَنْ يَزَالَ المُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ، مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا» صحيح البخاري (9/ 2)

dari Ibnu Umar ra mengatakan, Rasulullah bersabda: "Seorang mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah haram tanpa alasan yang dihalalkan." (HR. al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, 9/2)

عن المقدادِ بن الأسود، قال: أيمُ الله، لقد سمعتُ رسولَ الله - صلَّى الله عليه وسلم - يقول: "إن السعيدَ لَمَن جُنِّبَ الفِتَنَ، إنَّ السعيدَ لَمَن جُنِّبَ الفِتَنَ، إن السعيدَ لَمَن جُنِّبَ الفِتَنَ، ولَمَن ابتُلِيَ فَصَبَرَ فواهاً" سنن أبي داود ت الأرنؤوط (6/ 320)

dari Al Miqdad Ibnul Aswad ia berkata, "Demi Allah, aku telah mendengar Rasulullah bersabda: "Orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah, orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah, orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah dan orang yang tertimpa musibah lalu bersabar seraya mengucapkan, "Betapa baiknya cobaan ini!" (HR. Abu Daud, Sunan Abi Daud, 6/320)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، يَنْقُصُ الْعِلْمُ، وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ " قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: " الْقَتْلُ " مسند أحمد ط الرسالة (16/ 540)

dari Abu Hurairah dari Nabi , beliau bersabda: "Celakalah bangsa Arab dari keburukan yang semakin dekat, ilmu telah berkurang dan Al haraj semakin banyak, " aku bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah Al haraj itu?" Beliau bersabda: "Pembunuhan."(HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 16/540)

5.        Mengambil metode bermu’amalah yang bersumber dari orang kafir tidaklah terlarang selama mendatangkan kemaslahatan umat. Sebagaimana diterangkan dalam kitab-kitab sirah, bahwa Rasulullah menerima usulan Salman Al-Farisi untuk membuat parit pada perang khandaq yang merupakan strategi yang diambil dari orang Persia. Demikian pula Rasulullah menerima usulan Salman Al-Farisi untuk menggunakan manjaniq dalam perang hunain Ketika melakukan pengepungan terhadap orang-orang Thaif, Malah stempel yang digunakan Rasulullah dalam surat-suratnya merupakan ‘adat (kebiasaan) orang-orang kafir di waktu itu. Dalam sebuah hadis dijelaskan,

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ إِلَى كِسْرَى، وَقَيْصَرَ، وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ: إِنَّهُمْ لَا يَقْبَلُونَ كِتَابًا إِلَّا بِخَاتَمٍ، «فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةً، وَنَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ» صحيح مسلم (3/ 1657)

Dari Anas bahwa Nabi ingin menulis surat kepada Raja Kisra, Qaishar, dan Najasyi. Lalu dikatakan kepada beliau, bahwa mereka tidak mau menerima surat kecuali yang ada stempelnya. Maka kemudian Rasulullah membuat cincin dari perak, tulisannya adalah 'Muhammad Rasulullah.' (HR. Muslim, Shahih Muslim, 3/1657)

Di masa khalifah Umar bin Khattab pun pernah terjadi ketika Al-Walid bin Hisyam bin Al-Mughirah berkata kepada khalifah,

يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ جِئْتُ الشَّامَ فَرَأَيْتُ مُلُوكَهَا قَدْ دَوَّنُوا دِيوَانًا وَجَنَّدُوا جُنُودًا فَدَوِّنْ دِيوَانًا وَجَنِّدْ جُنُودًا. فَأَخَذَ بِقَوْلِهِ - الطبقات الكبرى ط العلمية (3/ 224)

Wahai Amirul mukminin, sungguh saya pernah datang ke syam lalu melihat para raja membuat dewan-dewan dan membagi-bagi (jenis) pasukan, buatlah dewan-dewan dan bagilah pasukan-pasukan. Maka Umar mengambil pendapatnya tersebut. (At-Thabaqaat Al-Kubra, 3/224)

Simpulan:

1.      Pembatasan masa jabatan kepemimpinan termasuk ruang lingkup mu’amalah ijtihadiyah

2.      Pembatasan masa jabatan kepemimpinan dibolehkan selama berdampak maslahat bagi ummat.


Pesantren Darul Hadis Lembang membuka pendaftaran gelombang 2 tahun pelajaran 2024/2025 tingkat SD, SMP dan SMA

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar