A. Hukum
Pembatasan Masa Jabatan Kepemimpinan
Pengaturan masa
jabatan kepemimpinan dalam Al-Quran dan juga Al-Hadis tidak ada rinciannya
secara tegas. Masa jabatan dan cara-cara untuk memberhentikan kepemimpinan
tidak ada ketentuannya dalam Alquran juga hadis Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun kedudukan
pemimpin penting bagi masyarakat, namun tata cara dan hal-hal yang bersifat
teknis, prosedur kerja dan mekanismenya diserahkan secara penuh kepada manusia
untuk memikirkan serta mengembangkannya.
Pembatasan masa
jabatan kepemimpinan diperbolehkan dalam Islam berdasarkan argumentasi-argumentasi
berikut:
1.
Pembatasan masa jabatan merupakan urusan mu’amalah, dalam qaidah
fiqhiyah dijelaskan,
اَلأَصْلُ
فِي الْمُعَامَلاَتِ اَلإِبَاحَةُ اِلاَّ اَنْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى
تَحْرِيْمِهَا
Asal dalam
mu’amalah itu adalah boleh kecuali ada dalil yang menunjukkan haramnya.
Maka ketiadaan
dalil yang melarangnya, menunjukkan kebolehannya secara asal.
2.
Dibolehkan bagi umat membuat syarat-syarat dalam berbai’at untuk
tujuan kemaslahatan. Dalam sebuah hadis dijelaskan,
عَنْ
كَثِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِىُّ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: اَلصُّلْحُ جَائِزٌ
بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا
وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ
حَرَامًا
Dari Katsir bin
Abdullah bin Amr bin Auf Al-Muzani dari ayahnya dari kakeknya, bahwa Rasulullah
ﷺ
bersabda, 'Perjanjian boleh
dilakukan di antara kaum muslimin, kecuali perjanjian yang mengharamkan yang
halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan
syarat-syarat mereka, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram." (HR Ahmad, Musnad Ahmad, 2/306, At-Tirmidzi, Sunan
At-Tirmidzi, 3/634, Abu Daud, Sunan Abi Daud, 2/304, Ibnu Majah, Sunan Ibn
Majah, 2/788)
Syarat dalam
bai’at pernah dilakukan oleh Abdurrahman bin ‘Auf kepada Utsman bin Affan. Dalam
sebuah hadis diterangkan,
عَنْ
أَبِي وَائِلٍ، قَالَ: قُلْتُ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ: كَيْفَ
بَايَعْتُمْ عُثْمَانَ وَتَرَكْتُمْ عَلِيًّا، قَالَ: " مَا ذَنْبِي قَدْ
بَدَأْتُ بِعَلِيٍّ فَقُلْتُ: أُبَايِعُكَ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ، وَسُنَّةِ
رَسُولِهِ، وَسِيرَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، قَالَ: فَقَالَ: فِيمَا اسْتَطَعْتُ
" قَالَ: «ثُمَّ عَرَضْتُهَا عَلَى عُثْمَانَ فَقَبِلَهَا» مسند أحمد مخرجا
(1/ 560)
dari Abu Wa'il
dia berkata; aku bertanya kepada Abdurrahman bin Auf; "Bagaimana kamu
membaiat Utsman dan meninggalkan Ali?" Dia menjawab; "Apa dosaku, aku
telah memulainya kepada Ali dan aku katakan; 'aku berbaiat kepadamu berdasarkan
Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, jejak Abu Bakar dan Umar, '" Abdurrahman
berkata; "tetapi Ali menjawab; "Dalam hal yang aku mampu." Abdurrahman
berkata; "Kemudian Aku tawarkan kepada Utsman dan dia menerimanya." (HR.
Ahmad, musnad Ahmad, 1/560)
3.
Dalam masalah ijtihadiyah yang didasari oleh konteks
maslahat dalam waktu dan tempat tertentu, dapat berubah-ubah disesuaikan dengan
kondisinya. Dalam sebuah qaidah fiqhiyyah disebutkan,
لا
يُنكر تغيُّر الأحكام بتغير الأزمان -
Tidak dapat
dipungkiri bahwa perubahan hukum-hukum itu disebabkan perubahan waktu.
(Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah wa tathbiqatiha fi Al-Madzahib Al-Arba’ah, 1/353)
Dalam konteks masa
jabatan, maka putusan hukumnya bergantung kepada kesesuaian tempat, waktu dan
kondisi. Jika faktor-faktor tersebut sudah berubah, maka berubah pula apa yang
dilandaskan kepadanya. Prinsip memelihara kemaslahatan dan keadilan adalah
prinsip dari hukum Islam yang tsawabit (tetap/tidak boleh berubah). Bahwa pada zaman sahabat
masa jabatannya sampai meninggal dunia boleh jadi cocok dengan situasi di zaman
tersebut, namun tidak lagi untuk masa sekarang ini. Pembatasan masa jabatan kepemimpinan
bisa jadi dianggap lebih mashlahat dan mendatangkan keadilan di tengah
masyarakat untuk konteks masyarakat modern sekarang ini.
4.
Terdapat nash-nash yang menjelaskan pentingnya umat islam menjauhi
fitnah dan pertumpahan darah. Apabila pembatasan masa kepemimpinan itu
bertujuan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kelaliman penguasa atau
terjadinya bughat karena kelaliman penguasa, maka hal tersebut
diperbolehkan. Nash-nash yang dimaksud diantaranya sebagai berikut,
مَن
قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ
جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًاۚ ﴿٣٢﴾
barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh
orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia
telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. (Al-Maidah: 32)
عَنِ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَنْ يَزَالَ المُؤْمِنُ فِي فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ،
مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا» صحيح البخاري (9/ 2)
dari Ibnu Umar ra mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang
mukmin masih dalam kelonggaran agamanya selama dia tidak menumpahkan darah
haram tanpa alasan yang dihalalkan." (HR. al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
9/2)
عن
المقدادِ بن الأسود، قال: أيمُ الله، لقد سمعتُ رسولَ الله - صلَّى الله عليه وسلم
- يقول: "إن السعيدَ لَمَن جُنِّبَ الفِتَنَ، إنَّ السعيدَ لَمَن جُنِّبَ
الفِتَنَ، إن السعيدَ لَمَن جُنِّبَ الفِتَنَ، ولَمَن ابتُلِيَ فَصَبَرَ
فواهاً" سنن أبي داود ت الأرنؤوط (6/ 320)
dari Al Miqdad Ibnul Aswad ia berkata, "Demi Allah, aku telah
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang bahagia adalah orang yang terhindar
dari fitnah, orang yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah, orang
yang bahagia adalah orang yang terhindar dari fitnah dan orang yang tertimpa
musibah lalu bersabar seraya mengucapkan, "Betapa baiknya cobaan
ini!" (HR. Abu Daud, Sunan Abi Daud, 6/320)
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "
وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، يَنْقُصُ الْعِلْمُ، وَيَكْثُرُ
الْهَرْجُ " قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْهَرْجُ؟ قَالَ: "
الْقَتْلُ " مسند أحمد ط الرسالة (16/ 540)
dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Celakalah bangsa Arab dari keburukan yang semakin dekat, ilmu telah
berkurang dan Al haraj semakin banyak, " aku bertanya; "Wahai
Rasulullah, apakah Al haraj itu?" Beliau bersabda:
"Pembunuhan."(HR. Ahmad, Musnad Ahmad, 16/540)
5.
Mengambil metode bermu’amalah yang bersumber dari orang kafir
tidaklah terlarang selama mendatangkan kemaslahatan umat. Sebagaimana
diterangkan dalam kitab-kitab sirah, bahwa Rasulullah ﷺ menerima usulan Salman Al-Farisi untuk membuat parit pada perang
khandaq yang merupakan strategi yang diambil dari orang Persia. Demikian pula
Rasulullah ﷺ menerima usulan
Salman Al-Farisi untuk menggunakan manjaniq dalam perang hunain Ketika
melakukan pengepungan terhadap orang-orang Thaif, Malah stempel yang digunakan
Rasulullah ﷺ dalam surat-suratnya merupakan ‘adat (kebiasaan)
orang-orang kafir di waktu itu. Dalam sebuah hadis dijelaskan,
عَنْ
أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَكْتُبَ
إِلَى كِسْرَى، وَقَيْصَرَ، وَالنَّجَاشِيِّ، فَقِيلَ: إِنَّهُمْ لَا يَقْبَلُونَ
كِتَابًا إِلَّا بِخَاتَمٍ، «فَصَاغَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ خَاتَمًا حَلْقَتُهُ فِضَّةً، وَنَقَشَ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ»
صحيح مسلم (3/ 1657)
Dari Anas bahwa
Nabi ﷺ ingin menulis surat
kepada Raja Kisra, Qaishar, dan Najasyi. Lalu dikatakan kepada beliau, bahwa
mereka tidak mau menerima surat kecuali yang ada stempelnya. Maka kemudian
Rasulullah ﷺ membuat cincin dari
perak, tulisannya adalah 'Muhammad Rasulullah.' (HR. Muslim, Shahih Muslim,
3/1657)
Di masa khalifah Umar bin Khattab pun pernah terjadi ketika
Al-Walid bin Hisyam bin Al-Mughirah berkata kepada khalifah,
يَا
أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ جِئْتُ الشَّامَ فَرَأَيْتُ مُلُوكَهَا قَدْ
دَوَّنُوا دِيوَانًا وَجَنَّدُوا جُنُودًا فَدَوِّنْ دِيوَانًا وَجَنِّدْ
جُنُودًا. فَأَخَذَ بِقَوْلِهِ - الطبقات الكبرى ط العلمية (3/ 224)
Wahai Amirul mukminin, sungguh saya pernah datang ke syam lalu
melihat para raja membuat dewan-dewan dan membagi-bagi (jenis) pasukan, buatlah
dewan-dewan dan bagilah pasukan-pasukan. Maka Umar mengambil pendapatnya
tersebut. (At-Thabaqaat Al-Kubra, 3/224)
Simpulan:
1.
Pembatasan masa jabatan
kepemimpinan termasuk ruang lingkup mu’amalah ijtihadiyah
2.
Pembatasan masa jabatan
kepemimpinan dibolehkan selama berdampak maslahat bagi ummat.
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar