Salah satu momen penting dalam sejarah umat
Islam adalah saat Nabi Muhammad ﷺ memberikan beberapa wasiat yang berharga kepada sahabatnya,
Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Wasiat tersebut tidak
hanya bermakna bagi sahabat tersebut, tetapi juga menjadi panduan berharga bagi
umat Islam secara umum.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Nabi Muhammad ﷺ menyampaikan beberapa kalimat yang sarat dengan makna kebijaksanaan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Beliau mengawali dengan pesan penting untuk menjaga hubungan dengan Allah, dengan mengingatkan agar selalu mengutamakan taqwa dan ketaatan kepada-Nya.
يَا غُلاَمُ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ
يَحْفَظْكَ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
" Wahai anak muda! Sesungguhnya aku akan mengajarkan beberapa kalimat kepadamu; Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu."
Pesan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga
hubungan spiritual dengan Allah sebagai landasan utama dalam kehidupan
sehari-hari.
Selanjutnya, Nabi Muhammad ﷺ juga menekankan pentingnya bergantung sepenuhnya kepada Allah dalam setiap keadaan. Ketika kita membutuhkan sesuatu, baik itu dalam bentuk rezeki, kesembuhan, atau pertolongan dalam kesulitan, hendaklah kita meminta kepada Allah. Kita tidak boleh mengandalkan selain dari-Nya, karena hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu.
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ
فَاسْتَعِنْ باِللهِ
"Jika engkau mau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau mau meminta pertolongan, mintalah kepada Allah."
Dengan pesan ini, Nabi Muhammad ﷺ
mengajarkan umatnya untuk selalu merasa dekat dengan Allah dalam segala hal,
dan untuk tidak ragu-ragu untuk memohon pertolongan-Nya.
Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga memberikan pemahaman yang mendalam tentang takdir Allah. Beliau menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita telah ditetapkan oleh
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ
يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ
لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ
إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ
الصُّحُفُ
"Ketahuilah apabila semua umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu dengan sesuatu, maka mereka tidak bisa memberikan manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka pun berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu
Dengan demikian, Nabi Muhammad ﷺ
mengajarkan umat Islam untuk menerima takdir Allah dengan ikhlas dan tawakal,
serta untuk selalu berusaha sebaik mungkin dalam segala hal tanpa melupakan
ketergantungan dan kepatuhan kepada-Nya.
Pentingnya Menjaga Agama Allah
Salah satu bentuk menjaga agama Allah adalah dengan bertakwa dan beribadah secara konsisten. Allah SWT berjanji dalam Surah Qaaf ayat 31-33, "Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi menjaga (semua peraturan-peraturan-Nya). Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat." Dengan bertakwa dan menjaga semua peraturan Allah,
Menjaga agama Allah merupakan sebuah kewajiban
yang sangat penting bagi setiap muslim. Tindakan ini tidak hanya membawa
manfaat spiritual, tetapi juga menjanjikan perlindungan dan pertolongan dari
Allah SWT dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dalam Surah Yusuf ayat 24, Allah
SWT berfirman, "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan
perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan
wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar
Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." Ayat ini menggambarkan bagaimana
Yusuf AS menjaga agamanya dengan baik, sehingga Allah memberikan
perlindungan-Nya dari godaan dan kejahatan yang dihadapinya.
Selanjutnya, dalam hadis yang diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku
mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan
sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku
tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku
mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia
gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat,
menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia
gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan
jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.'" Hadis
ini menunjukkan bahwa Allah SWT akan memberikan perlindungan-Nya kepada orang
yang menjaga agama-Nya dengan sungguh-sungguh.
Dari beberapa keterang di atas, kita dapat memahami bahwa menjaga agama Allah adalah kunci untuk mendapatkan perlindungan dan pertolongan-Nya. Ketika seseorang berusaha menjaga agamanya dengan taat dan ikhlas, Allah SWT akan senantiasa bersamanya, melindunginya dari segala bentuk kejahatan dan memberikan pertolongan-Nya dalam setiap langkah kehidupan. Oleh karena itu, marilah kita semua berupaya untuk menjaga agama Allah dengan sebaik-baiknya, agar kita layak mendapatkan perlindungan dan pertolongan-Nya di dunia dan akhirat. Taqwa dan kesetiaan kepada-Nya adalah kunci untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang hakiki.
Minta tolong kepada Allah
Meminta tolong kepada Allah merupakan bentuk
pengakuan akan ketidakberdayaan manusia di hadapan-Nya. Hal ini tercermin dalam
ayat Al-Quran yang mengatakan, "Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan
hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan" (QS. Al-Fatihah: 5).
Dalam prakteknya, tata cara meminta tolong kepada Allah memerlukan sikap
tawakal yang kuat, yakni kepercayaan sepenuhnya kepada kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya.
Manusia adalah makhluk yang lemah dan rentan, tidak mampu mengatasi segala persoalan tanpa pertolongan Allah. Oleh karena itu, meminta tolong kepada-Nya adalah bentuk pengakuan akan ketergantungan mutlak kepada-Nya sebagai Pencipta dan Pengatur segala sesuatu.
Dalam Islam, tidak disarankan untuk menggunakan
perantara ghaib ketika meminta tolong kepada Allah. Hal ini ditegaskan dalam
beberapa hadis sebagai berikut:
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَانَ
إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَقَالَ
اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا
وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ فَيُسْقَوْنَ
dari Anas
bin Malik bahwa Umar bin Khathab ra ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia
meminta hujan dengan berwasilah kepada 'Abbas bin 'Abdul Muthalib seraya
berdoa, Ya Allah, kami pernah meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami (ketika beliau masih hidup),
kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon
kepada-Mu dengan perantaraan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan untuk
kami. Anas berkata, Mereka pun kemudian mendapatkan hujan. (HR. al-Bukhari)
عَنْ
ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ وَقَفَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى قَلِيبِ
بَدْرٍ فَقَالَ هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا ثُمَّ قَالَ
إِنَّهُمْ الْءَانَ يَسْمَعُونَ مَا أَقُولُ فَذُكِرَ لِعَائِشَةَ فَقَالَتْ
إِنَّمَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ إِنَّهُمْ الْءَانَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّ الَّذِي
كُنْتُ أَقُولُ لَهُمْ هُوَ الْحَقُّ ثُمَّ قَرَأَتْ « إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ
الْمَوْتَى » حَتَّى قَرَأَتْ الْءَايَةَ
dari Ibnu Umar berkata; Rasulullah ﷺ berdiri di pinggir sumur Badar lalu berkata: Apakah kalian telah mendapatkan apa yang dijanjikan oleh tuhan kalian dengan benar. Lalu beliau berkata lagi: Sungguh mereka mendengar apa yang aku ucapkan. Kemudian hal ini diceritakan kepada Aisyah, maka dia berkata; Sesungguhnya yang diucapkan oleh Nabi ﷺ adalah: Sesungguhnya sekarang mereka mengetahui bahwa apa yang aku katakan (risalahku) kepada mereka adalah benar. Kemudian Aisyah ra membaca firman Allah Ta'ala yang artinya: Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang yang sudah mati dapat mendengar (QS. an-Naml ayat 80) hingga akhir ayat tersebut. (HR. al-Bukhari)
Meminta tolong kepada Allah secara langsung (tanpa perantara ghaib) adalah wujud dari menjaga prinsip keesaan Allah (Tauhid). Menyembah dan meminta pertolongan hanya kepada Allah adalah tindakan yang sesuai dengan ajaran Islam dan menegaskan keyakinan akan ke-Esaan-Nya.
Keyakinan atas Ketetapan Allah
Iman kepada takdir merupakan salah satu prinsip
utama dalam ajaran Islam yang menegaskan kepercayaan akan ketetapan dan
ketentuan Allah SWT atas segala sesuatu yang terjadi di dunia ini. Keyakinan
ini tercermin dalam ayat-ayat suci Al-Quran yang mengajarkan tentang takdir dan
qadar Allah. Berikut adalah beberapa poin penting terkait iman kepada takdir
berdasarkan ayat-ayat Al-Quran:
1.
Ketetapan Allah Yang Maha Bijaksana: Ayat pertama yang diambil dari
Surah At-Taubah (9:51) menegaskan bahwa tidak ada yang akan menimpa manusia
kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Manusia harus memahami bahwa
segala sesuatu telah ditetapkan dalam takdir-Nya dengan kebijaksanaan yang
sempurna. Oleh karena itu, orang yang beriman seharusnya bertawakal kepada
Allah dalam menghadapi segala cobaan dan ujian hidup.
2.
Segala Musibah Tertulis dalam Kitab
Lauhul-Mahfuzh: Ayat
kedua diambil dari Surah Al-Hadid (57:22-23) menjelaskan bahwa setiap musibah
atau kejadian yang menimpa di bumi atau pada diri manusia telah tertulis dalam
kitab yang telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya. Hal ini dimaksudkan agar
manusia tidak terlalu berduka cita atau terlalu gembira terhadap apa yang
terjadi dalam hidup mereka. Kesadaran akan takdir Allah yang telah ditetapkan
sejak awal membantu manusia untuk tetap tenang dan sabar dalam menghadapi ujian
hidup.
3.
Kehendak Allah Yang Maha Kuasa: Ayat terakhir diambil dari Surah
At-Takwir (81:29) menegaskan bahwa setiap langkah dan keputusan yang diambil
manusia hanya dapat terlaksana jika dikehendaki oleh Allah SWT. Ini menunjukkan
bahwa kehendak manusia selalu terikat oleh ketentuan ilahi. Oleh karena itu,
orang yang beriman harus selalu berusaha menjalani hidup sesuai dengan kehendak
Allah dan tidak mengingkari takdir-Nya.
Dengan memahami prinsip iman kepada takdir ini, umat Islam diharapkan dapat memperkuat keyakinan mereka terhadap kebijaksanaan dan ketetapan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kesadaran akan takdir Allah membantu manusia untuk menerima segala ujian dan cobaan dengan lapang dada, serta tetap berserah diri kepada-Nya dalam segala hal.
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar