Wasiat Kedua; Mengakui Rububiyah Allah dan Istiqamah

 

Wasiat-wasiat Nabi Muhammad kepada umatnya tidak hanya sekadar perkataan, tetapi merupakan pedoman hidup yang menginspirasi untuk menjalani kehidupan yang benar dan bermakna. Diantara wasiat-wasiat beliau adalah mengakui rububiyah Allah dan beristiqamah dalam menjalani kehidupan. Dalam sebuah hadis diterangkan sebagai berikut:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ، قَالَ: «قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا تَخَافُ عَلَيَّ، فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا» سنن الترمذي ت شاكر (4/ 607)

dari Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, ceritakan padaku suatu hal yang aku jadikan pedoman. Rasulullah bersabda: "Katakan: Rabbku Allah kemudian beristiqomahlah." Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang paling engkau takutkan padaku? Beliau memegang lidah beliau lalu menjawab: "Ini." (HR. At-Tirmizi)

Dalam hadis di atas, Rasulullah menjawab pertanyaan seorang sahabat yang meminta pedoman hidup dengan singkat namun penuh makna. Beliau bersabda, "Katakan: Rabbku Allah kemudian beristiqamahlah." Pesan ini menggarisbawahi pentingnya mengakui bahwa Allah adalah Rabb yang menciptakan, mengatur, dan menguasai segala sesuatu. Selanjutnya, Nabi menegaskan pentingnya istiqamah atau konsistensi dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran-Nya.

Rububiyah Allah

Rububiyah Allah merupakan konsep yang menggambarkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Konsep ini disampaikan dalam Al-Qur'an melalui berbagai ayat, salah satunya adalah dalam surat Yunus ayat 31-32:

"Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?' Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?"

Ayat ini menyoroti beberapa aspek penting dari rububiyah Allah:

1.         Penciptaan dan Pemberian Rezeki: Allahlah yang memberikan rezeki kepada makhluk-Nya dari langit dan bumi. Setiap rezeki yang kita terima adalah anugerah dari-Nya.

2.         Kemampuan Mencipta: Allah adalah Sang Pencipta yang memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu, termasuk pendengaran dan penglihatan. Semua ciptaan-Nya adalah manifestasi dari kebesaran-Nya.

3.         Kehidupan dan Kematian: Allahlah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup. Dia adalah sumber kehidupan dan kematian, serta memiliki kuasa untuk menghidupkan dan mematikan.

4.         Penyelenggaraan Alam Semesta: Allah adalah Yang Mengatur segala urusan di alam semesta. Segala sesuatu terjadi atas izin dan kehendak-Nya.

Dengan memahami rububiyah Allah, kita diingatkan akan kebesaran dan kemahakuasaan-Nya yang tidak terbatas. Hal ini juga mengajarkan kita untuk mengakui ketergantungan kita kepada-Nya, serta pentingnya untuk senantiasa bertakwa dan tunduk kepada-Nya. Rububiyah Allah juga mengingatkan kita akan pentingnya menjalani hidup sesuai dengan ajaran-Nya, karena hanya dalam ketaatan kepada-Nya kita akan menemukan kebenaran dan kebahagiaan sejati.

Mengakui rububiyah Allah bukan hanya sekadar pernyataan, tetapi juga merupakan bentuk afirmasi atas kemahakuasaan-Nya. Hal ini merupakan dasar dalam beribadah kepada Allah, sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat Al-Qur'an (QS. Fushshilat[41]: 30). Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu." (QS. Fushshilat[41]: 30)

Bukan hanya itu, pengakuan akan rububiyah Allah juga menjadikan ibadah tidak terasa menjadi beban. Rasulullah sendiri mengajarkan dengan contoh, bahwa beliau tetap semangat dalam ibadah sampai bengkak kedua kakinya, padahal telah diberi jaminan ampunan oleh Allah. Ketika ditanya mengapa beliau bersikap demikian, Rasulullah menjawab dengan singkat namun bermakna, "Tidakkah aku patut menjadi hamba yang bersyukur?" Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan akan rububiyah Allah tidak hanya menjadi landasan dalam beribadah, tetapi juga memperkuat rasa syukur dan ketaatan kepada-Nya.

Istiqamah

Istiqamah, atau kekokohan dalam menjalani jalan yang lurus, merupakan salah satu konsep penting dalam ajaran Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkan pentingnya istiqamah melalui perumpamaan sebuah garis lurus:

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’  kemudian beliau membaca,  ‘Dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] (HR. Ahmad)

Konsep istiqamah mengajarkan kita untuk bertahan di atas jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Meskipun di sekitar kita terdapat banyak godaan dan jalan-jalan yang menyesatkan, kita harus konsisten dalam menjalani jalan yang benar, yaitu jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT.

Selain itu, istiqamah juga mengandung makna konsistensi dan kekokohan di atas jalan tersebut sampai dengan akhir hayat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri." (Ali Imran : 102)

Menjaga Lisan

Ketika Rasulullah ditanya oleh sahabat Sufyan mengenai apa yang paling beliau takutkan menimpa sahabatnya itu, beliau menjawab lisan, bukan dosa-dosa lainnya yang dianggap dosa besar.  Menjaga lisan dari perkataan yang buruk adalah salah satu wujud konkret dari istiqamah. Rasulullah menjelaskan pentingnya menjaga lisan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi. Beliau memegang lidahnya dan menyatakan, "Jagalah ini (lisan)!" Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah bagian integral dari istiqamah, karena lisan yang terjaga dapat menjadi sarana untuk mendapatkan ridha Allah.

Perkataan yang keluar dari lisan seseorang memiliki dampak yang besar dalam kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ada dua jenis perkataan: yang diridhai Allah dan yang membuat Allah murka. Perkataan yang diridhai Allah akan mendatangkan kebaikan dan meningkatkan derajat seseorang di sisi-Nya, sedangkan perkataan yang membuat Allah murka dapat menyebabkan seseorang masuk neraka.

Rasulullah juga menekankan tanggung jawab atas penggunaan lisan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا- رواه الترمذي

"Bila manusia berada di waktu pagi, seluruh anggota badan menutupi (kesalahan) lisan lalu berkata: Takutlah pada Allah tentang kami, kami bergantung padamu, bila kau lurus kami lurus dan bila kamu bengkok kami bengkok." (HR. at-Tirmidzi)

Dalam Islam, istiqamah dan menjaga lisan saling terkait erat. Istiqamah dalam menjalankan perintah Allah memerlukan kesungguhan dalam menjaga lisan agar tetap berkualitas. Dengan menjaga lisan, seseorang dapat memastikan bahwa setiap perkataan yang keluar dari mulutnya membawa kebaikan dan mendapatkan ridha Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita berupaya untuk tetap istiqamah dalam menjalani kehidupan ini dan selalu menjaga lisan agar tetap berkualitas. Semoga dengan demikian, kita dapat mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Aamiin.

Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar