Wasiat-wasiat
Nabi Muhammad ﷺ
kepada umatnya tidak hanya sekadar perkataan, tetapi merupakan pedoman hidup
yang menginspirasi untuk menjalani kehidupan yang benar dan bermakna. Diantara
wasiat-wasiat beliau adalah mengakui rububiyah Allah dan beristiqamah dalam
menjalani kehidupan. Dalam
sebuah hadis diterangkan sebagai berikut:
عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيِّ، قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ حَدِّثْنِي بِأَمْرٍ أَعْتَصِمُ بِهِ، قَالَ: «قُلْ
رَبِّيَ اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقِمْ»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَخْوَفُ مَا
تَخَافُ عَلَيَّ، فَأَخَذَ بِلِسَانِ نَفْسِهِ، ثُمَّ قَالَ: «هَذَا» سنن الترمذي
ت شاكر (4/ 607)
dari Sufyan bin Abdullah Ats
Tsaqafi berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, ceritakan padaku suatu hal yang
aku jadikan pedoman. Rasulullah ﷺ bersabda: "Katakan: Rabbku Allah
kemudian beristiqomahlah." Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang paling
engkau takutkan padaku? Beliau memegang lidah beliau lalu menjawab:
"Ini." (HR. At-Tirmizi)
Dalam hadis
di atas, Rasulullah ﷺ
menjawab pertanyaan seorang sahabat yang meminta pedoman hidup dengan singkat
namun penuh makna. Beliau bersabda, "Katakan: Rabbku Allah kemudian
beristiqamahlah." Pesan ini menggarisbawahi pentingnya mengakui bahwa
Allah adalah Rabb yang menciptakan, mengatur, dan menguasai segala sesuatu.
Selanjutnya, Nabi menegaskan pentingnya istiqamah atau konsistensi dalam
menjalani kehidupan yang sesuai dengan ajaran-Nya.
Rububiyah Allah
Rububiyah
Allah merupakan konsep yang menggambarkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah
sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta. Konsep ini disampaikan dalam
Al-Qur'an melalui berbagai ayat, salah satunya adalah dalam surat Yunus ayat
31-32:
"Katakanlah (Muhammad),
'Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan
siapakah yang mengatur segala urusan?' Maka mereka akan menjawab, 'Allah.' Maka
katakanlah, 'Mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?' Maka itulah Allah, Tuhan
kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan.
Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?"
Ayat ini
menyoroti beberapa aspek penting dari rububiyah Allah:
1.
Penciptaan dan Pemberian
Rezeki: Allahlah yang memberikan rezeki kepada makhluk-Nya dari langit dan
bumi. Setiap rezeki yang kita terima adalah anugerah dari-Nya.
2.
Kemampuan Mencipta:
Allah adalah Sang Pencipta yang memiliki kuasa untuk menciptakan segala
sesuatu, termasuk pendengaran dan penglihatan. Semua ciptaan-Nya adalah
manifestasi dari kebesaran-Nya.
3.
Kehidupan dan Kematian:
Allahlah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang
hidup. Dia adalah sumber kehidupan dan kematian, serta memiliki kuasa untuk
menghidupkan dan mematikan.
4.
Penyelenggaraan Alam
Semesta: Allah adalah Yang Mengatur segala urusan di alam semesta. Segala
sesuatu terjadi atas izin dan kehendak-Nya.
Dengan
memahami rububiyah Allah, kita diingatkan akan kebesaran dan kemahakuasaan-Nya
yang tidak terbatas. Hal ini juga mengajarkan kita untuk mengakui
ketergantungan kita kepada-Nya, serta pentingnya untuk senantiasa bertakwa dan
tunduk kepada-Nya. Rububiyah Allah juga mengingatkan kita akan pentingnya
menjalani hidup sesuai dengan ajaran-Nya, karena hanya dalam ketaatan
kepada-Nya kita akan menemukan kebenaran dan kebahagiaan sejati.
Mengakui
rububiyah Allah bukan hanya sekadar pernyataan, tetapi juga merupakan bentuk
afirmasi atas kemahakuasaan-Nya. Hal ini merupakan dasar dalam beribadah kepada
Allah, sebagaimana yang diungkapkan dalam ayat Al-Qur'an (QS. Fushshilat[41]:
30). Allah Ta’ala berfirman, Sesungguhnya orang-orang yang berkata,
"Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata),
"Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan
bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan
kepadamu." (QS. Fushshilat[41]: 30)
Bukan hanya
itu, pengakuan akan rububiyah Allah juga menjadikan ibadah tidak terasa menjadi
beban. Rasulullah ﷺ
sendiri mengajarkan dengan contoh, bahwa beliau tetap semangat dalam ibadah
sampai bengkak kedua kakinya, padahal telah diberi jaminan ampunan oleh Allah.
Ketika ditanya mengapa beliau bersikap demikian, Rasulullah ﷺ menjawab dengan
singkat namun bermakna, "Tidakkah aku patut menjadi hamba yang
bersyukur?" Hal ini menunjukkan bahwa pengakuan akan rububiyah Allah tidak
hanya menjadi landasan dalam beribadah, tetapi juga memperkuat rasa syukur dan
ketaatan kepada-Nya.
Istiqamah
Istiqamah,
atau kekokohan dalam menjalani jalan yang lurus, merupakan salah satu konsep
penting dalam ajaran Islam. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah bin
Mas'ud, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menggambarkan pentingnya
istiqamah melalui perumpamaan sebuah garis lurus:
خَطَّ
لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ
هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ
ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ
ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah
jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis
tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap
jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau
membaca, ‘Dan sesungguhnya ini adalah
jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan
(yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al
An’am: 153] (HR. Ahmad)
Konsep
istiqamah mengajarkan kita untuk bertahan di atas jalan yang lurus, yaitu jalan
yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Meskipun di sekitar kita terdapat banyak
godaan dan jalan-jalan yang menyesatkan, kita harus konsisten dalam menjalani
jalan yang benar, yaitu jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT.
Selain itu,
istiqamah juga mengandung makna konsistensi dan kekokohan di atas jalan
tersebut sampai dengan akhir hayat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an,
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah
diri." (Ali Imran : 102)
Menjaga Lisan
Ketika
Rasulullah ﷺ
ditanya oleh sahabat Sufyan mengenai apa yang paling beliau takutkan menimpa
sahabatnya itu, beliau menjawab lisan, bukan dosa-dosa lainnya yang dianggap
dosa besar. Menjaga lisan dari perkataan
yang buruk adalah salah satu wujud konkret dari istiqamah. Rasulullah ﷺ
menjelaskan pentingnya menjaga lisan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam
Tirmidzi. Beliau memegang lidahnya dan menyatakan, "Jagalah ini
(lisan)!" Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah bagian integral dari
istiqamah, karena lisan yang terjaga dapat menjadi sarana untuk mendapatkan
ridha Allah.
Perkataan
yang keluar dari lisan seseorang memiliki dampak yang besar dalam kehidupan dunia dan akhirat. Rasulullah
ﷺ
menjelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ada dua jenis
perkataan: yang diridhai Allah dan yang membuat Allah murka. Perkataan yang
diridhai Allah akan mendatangkan kebaikan dan meningkatkan derajat seseorang di
sisi-Nya, sedangkan perkataan yang membuat Allah murka dapat menyebabkan
seseorang masuk neraka.
Rasulullah ﷺ
juga menekankan tanggung jawab atas penggunaan lisan dalam sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
إِذَا
أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ
فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ
اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا- رواه الترمذي
"Bila manusia berada di
waktu pagi, seluruh anggota badan menutupi (kesalahan) lisan lalu berkata:
Takutlah pada Allah tentang kami, kami bergantung padamu, bila kau lurus kami
lurus dan bila kamu bengkok kami bengkok." (HR. at-Tirmidzi)
Dalam Islam,
istiqamah dan menjaga lisan saling terkait erat. Istiqamah dalam menjalankan
perintah Allah memerlukan kesungguhan dalam menjaga lisan agar tetap
berkualitas. Dengan menjaga lisan, seseorang dapat memastikan bahwa setiap
perkataan yang keluar dari mulutnya membawa kebaikan dan mendapatkan ridha
Allah SWT. Oleh karena itu, mari kita berupaya untuk tetap istiqamah dalam
menjalani kehidupan ini dan selalu menjaga lisan agar tetap berkualitas. Semoga
dengan demikian, kita dapat mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Aamiin.
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar