Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا قَرَأَ ابْنُ
آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ، اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ: يَا
وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ
بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ " سنن ابن ماجه (1/ 334)
Dari Abu Hurairah, berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Apabila
anak Adam membaca ayat sajdah dan ia sujud, setan menjauhinya sambil menangis,
katanya, 'Celakalah aku! Anak Adam diperintahkan untuk sujud dan ia sujud, maka
baginya Surga, sedangkan aku diperintahkan untuk sujud dan aku menolak, maka
bagiku neraka.'" (Sunan Ibnu Majah 1/334)
Hadis ini memberikan gambaran yang menarik tentang perasaan setan saat manusia bersujud kepada Allah. Ada beberapa kemungkinan alasan mengapa setan menangis saat melihat manusia sujud:
1.
Rasa Penyesalan: Setan merasa menyesal
dan menangis karena menyadari bahwa perintah sujud dari Allah kepada manusia
merupakan kesempatan untuk mendapatkan Surga. Namun, setan tidak dapat
mengambil kesempatan ini karena keingkarannya.
2.
Kebencian Terhadap Manusia: Setan membenci manusia
dan menginginkan mereka untuk tersesat dari jalan yang benar. Melihat manusia
beribadah dengan ketaatan kepada Allah membuatnya merasa frustasi dan
berkeinginan untuk merusak kebaikan yang dilakukan manusia.
3.
Ketidakadilan Diri Sendiri: Setan merasa tidak
adil terhadap dirinya sendiri karena kesombongannya yang membuatnya menolak
perintah Allah untuk sujud. Ia menyadari bahwa perintah Allah adalah kebaikan
dan menolaknya hanya akan mendatangkan kebinasaan.
4.
Kesadaran Akan Akhirat: Setan memiliki
pengetahuan tentang akhirat dan kesudahan yang tidak baik baginya. Melihat
manusia yang taat kepada Allah dan berpotensi mendapatkan Surga membuatnya
merasa sedih karena ia tahu bahwa dirinya telah kehilangan kesempatan tersebut.
Imam Al Qurtubi menegaskan alasan menangisnya syetan sebagai berikut:
"Ketika Ibliis menangis seperti yang disebutkan dalam hadis, bukanlah karena penyesalan atas dosanya, atau karena ingin kembali dari dosa itu. Namun, itu disebabkan oleh kecemburuannya yang berlebihan, kemarahannya, dan kesedihannya atas apa yang menimpanya karena melihat salah satu keturunan Adam (alaihis-salam) masuk Surga dan selamat darinya. Hal itu serupa dengan apa yang dialaminya saat adzan, iqamah, dan hari Arafah." (Al-Mufham, 1/274)
Dengan demikian, hadis di atas mengajarkan kepada kita pentingnya ketaatan kepada perintah Allah dan menjauhi godaan setan. Meskipun setan berusaha untuk menggoda dan menghalangi manusia dari ibadah, namun kekuatan iman dan keteguhan hati manusia dapat mengalahkannya. Selalu ingatlah untuk selalu bersujud kepada Allah dengan penuh ketaatan, karena itu adalah jalan menuju Surga dan keberkahan. Janganlah seperti syetan yang akhirnya menangis tanpa kesudahan di neraka kelak.
MN
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar