Pesimisme, yang secara historis dianggap sebagai aqidah dari
orang-orang jahiliyah dan musyrik terdahulu, merupakan sikap yang merugikan
dalam pandangan Islam. Orang-orang yang pesimis cenderung menyalahkan takdir
dan berputus asa dari rahmat Allah SWT. Al-Quran menegaskan sifat pesimis dalam
firman-Nya:
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka
berkata: 'Itu adalah karena (usaha) kami'. Dan jika mereka ditimpa kesusahan,
mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang
besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari
Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al A’raf:
131).
Seorang Muslim diwajibkan untuk melepaskan diri dari sikap pesimisme dengan memahami penyebabnya. Berikut adalah beberapa penyebab munculnya sikap pesimisme dan cara menghindarinya:
1.
Tidak Ridha Terhadap Ketetapan
Allah:
Sikap pesimis sering kali muncul karena ketidakridaan terhadap ketetapan Allah.
Sebaliknya, memiliki sifat qana’ah (ridha) dengan segala yang Allah berikan
adalah kunci untuk menghindari pesimisme. Rasulullah SAW bersabda,
وَارْضَ
بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ
"Terimalah setiap pemberian Allah dengan rela, niscaya kau
menjadi orang terkaya" (HR. At-Tirmidzi).
2.
Tidak Mensyukuri Nikmat Allah: Mensyukuri
nikmat-nikmat Allah adalah langkah penting dalam menghindari pesimisme.
Rasulullah SAW bersabda,
«مَنْ
أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ
يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا» سنن ابن ماجه (2/ 1387)
"Barangsiapa di antara kalian di pagi hari aman di
tengah-tengah keluarganya, sehat jasmaninya, memiliki kebutuhan pokok untuk
sehari-harinya, maka seakan akan dunia telah dikumpulkan untuknya." (HR.
at-Tirmidzi).
3.
Berprasangka Buruk kepada Allah: Pesimisme juga dapat
muncul dari berprasangka buruk kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
لَا
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ
"Janganlah salah seorang dari kalian meninggal dunia
kecuali ia berbaik sangka kepada Allah." (HR. Muslim).
4.
Kesenangan Duniawi sebagai
Prioritas Utama: Menjadikan kesenangan duniawi sebagai prioritas utama juga
dapat memicu pesimisme. Rasulullah SAW mengingatkan,
«مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ» سنن الترمذي ت شاكر (4/ 642)
"Barangsiapa yang
keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah akan memberi rasa cukup dalam
hatinya, menyatukan urusannya yang berserakan, dan dunia datang kepadanya tanpa
dia cari." (HR. at-Tirmidzi).
Dengan memahami dan menghindari penyebab-penyebab di atas, seorang Muslim dapat melawan sikap pesimisme dalam kehidupan sehari-hari. Semoga dengan ridha kepada ketetapan Allah, syukur atas nikmat-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menjadikan prioritas utama untuk kehidupan akhirat, kita dapat menghadapi tantangan hidup dengan sikap yang positif dan penuh harapan
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar