Berteman adalah fitrah manusia
Dalam
kehidupan sehari-hari, jiwa manusia secara alami cenderung mencari dan
membentuk hubungan sosial dengan sesama. Hal ini sejalan dengan sabda
Rasulullah saw yang menerangkan
sebagai berikut,
«الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ
مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا
اخْتَلَفَ»
"Jiwa-jiwa manusia ibarat pasukan. Bila
saling mengenal menjadi rukun dan bila tidak saling mengenal menimbulkan
perselisihan" (HR. Bukhari - Muslim).
Dalam
proses mencari teman, jiwa manusia secara alami merasa tertarik pada mereka
yang memiliki kesamaan pemahaman, nilai, dan minat. Ini adalah bentuk pencarian
kecocokan atau kesesuaian jiwa yang terdapat dalam diri manusia.
Pertemanan
yang dibangun atas dasar saling mengenal akan melahirkan keharmonisan.
Keakraban yang timbul dari pemahaman satu sama lain membantu menjadikan
hubungan lebih kuat dan mendalam. Sebaliknya, kurangnya pemahaman dan
ketidakmengertian dalam pertemanan dapat menciptakan konflik dan perselisihan.
Rasulullah
saw memberikan pedoman yang sangat relevan dengan realitas alamiah jiwa
manusia. Dalam hal ini, Islam mengajarkan pentingnya pertemanan yang dibangun
atas dasar pemahaman, saling menghargai, dan mendukung satu sama lain.
Sehingga, manusia tidak hanya mencari teman untuk kepentingan dunia semata,
tetapi juga untuk mendapatkan teman sejati yang dapat menemani dalam perjalanan
hidup menuju akhirat.
Pertemanan dalam
Al-Quran
Pertemanan
adalah salah satu aspek yang penting dalam kehidupan manusia, bahkan telah
disentuh dalam Al-Quran dengan cerita dan pelajaran yang berharga. Salah satu
ayat yang menggambarkan pentingnya memilih teman dengan bijak adalah ayat dalam
surah Al-Furqan [25]: 27-29.
“Dan (ingatlah) pada hari
(ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya)
seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.
Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).
Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (al-Qur’an) ketika
(al-Qur’an) itu telah datang kepadaku, dan setan memang pengkhianat
manusia.” (Q.S al-Furqân, [25]: 27-29)
Dalam ayat
tersebut, Allah SWT menggambarkan bagaimana orang-orang zalim akan menyesali
perbuatan mereka di hari kiamat. Mereka akan menggigit dua jarinya seraya
menyesali pilihannya di dunia. Salah satu penyesalan yang disebutkan adalah
ketika seseorang mengatakan, "Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan
bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si
fulan itu teman akrab(ku)."
Uqbah bin Abu Mu’aith, sayangnya, memilih untuk lebih mempertahankan pertemanannya daripada mendukung dakwah Rasulullah. Bahkan, ia sampai rela melemparkan kotoran ke punggung Rasulullah sebagai bukti loyalitasnya kepada teman-temannya. Namun, di akhir hayatnya, Uqbah bin Abu Mu’aith menyesali perbuatannya yang telah menghalanginya dari mendapatkan petunjuk Allah SWT. Kesalahannya tersebut diabadikan dalam Al-Quran sebagai pelajaran bagi umat manusia.
Kisah Uqbah bin Abu Mu’aith menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam tentang pentingnya memilih teman yang baik dan memilih untuk mengikuti ajaran Allah SWT meskipun harus meninggalkan teman-teman yang tidak membawa kebaikan. Karena pada akhirnya, pertemanan yang tidak membawa kita kepada Allah SWT hanya akan menyesatkan dan menjerumuskan kita ke dalam kegelapan
Hakikat Pertemanan
Teman sejati tidak sekadar berada di sekitar kita
dalam keadaan senang, tetapi juga dalam saat-saat sulit. Pertemanan sejati
adalah ketika seseorang selalu ada untuk mendukung dan mendorong kita menuju
kebaikan, baik itu dalam hal-hal positif maupun spiritual.
Tidak hanya berlaku di dunia,
pertemanan yang sejati juga akan langgeng hingga akhirat kelak. Ini berarti
bahwa pertemanan yang baik akan membawa manfaat tidak hanya di dunia ini,
tetapi juga di kehidupan setelah kematian.
Lebih dari itu, hakikat pertemanan yang sejati adalah ketika hubungan tersebut dilandasi oleh cinta kepada Allah Ta'ala. Rasulullah saw telah mengajarkan kepada umatnya dalam salah satu hadisnya beliau bersabda, bahwa di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang memiliki kedudukan istimewa di sisi-Nya. Mereka bukanlah para Nabi atau orang-orang yang mati syahid, namun kedudukan mereka begitu mulia sehingga para Nabi dan syuhada merasa iri kepada mereka di hari Kiamat. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Cinta mereka kepada Allah begitu murni sehingga wajah mereka bercahaya, dan mereka hidup di atas cahaya-Nya. Mereka tidak merasa takut atau sedih saat orang lain merasa takut atau sedih. Mereka adalah wali-wali Allah yang tidak ada kekhawatiran dan kesedihan terhadap mereka (HR. Abu Daud).
Sahabat Ali bin Abi Thalib pun mengajarkan agar kita mencintai teman dengan sederhana. Beliau mengatakan,
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ
بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ
هَوْنًا مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا
"Cintailah orang yang engkau
kasihi sekedarnya saja karena boleh jadi kelak engkau akan membencinya.
Bencilah orang yang engkau benci juga sekedarnya saja karena boleh jadi kelak
dia akan menjadi orang yang engkau cintai." (HR. Al-Bukhari dalam Adab Mufrad)
Hal ini
mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat pada kasih sayang atau kebencian
terhadap seseorang, karena hubungan manusia sangat dinamis dan dapat berubah
seiring waktu.
Dengan memahami hakikat pertemanan yang sejati, kita diingatkan untuk memilih teman dengan bijak, menjaga hubungan dengan cinta dan kesetiaan kepada Allah, serta memperlakukan teman dengan sederhana tanpa terlalu terikat pada perasaan kasih sayang atau kebencian yang berlebihan. Semoga kita semua dapat memiliki pertemanan yang membawa kita menuju kebaikan di dunia dan akhirat.
MN
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar