وعن أمِّ المؤمنين أمِّ عبدِ الله عائشةَ رضي الله عنها قالت:
قال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا
لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» [رواه البخاري مسلم]،
Dari
Ummul mukminin, ummu Abdillah ‘Aisyah semoga Allah meridhainya, ia berkata
: Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membuat
perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara itu
tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
وفي رواية لمسلمٍ: «مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ
أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ».
Dan dalam
riwayat Imam Muslim, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada
dalam urusan kami (syari’at), maka amalan tersebut tertolak”.
Bid’ah dalam urusan dunia
عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ: «لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ» قَالَ:
فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ: «مَا لِنَخْلِكُمْ؟» قَالُوا: قُلْتَ
كَذَا وَكَذَا، قَالَ: «أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ» صحيح مسلم
Dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah kaum yang sedang mengawinkan kurma
jantan dengan kurma betina. Maka Nabi berkata, “Kalau
seandainya kalian tidak melakukannya maka akan baik”. Maka keluarlah korma yang
buruk, lalu Nabi melewati mereka maka beliau berkata, “Apa yang terjadi dengan korma kalian?” Mereka berkata, “Engkau
berkata demikian dan demikian…”. Nabi berkata : “Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian” (HR. Muslim)
Bid’ah dalam urusan agama
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ
نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk
kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al Ma’idah [5] : 3)
جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا ،
فَقَالُوا : وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ أَحَدُهُمْ
: أَمَّا أَنَا ، فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا
أَصُومُ الدَّهْرَ وَلَا أُفْطِرُ ، وَقَالَ آخَرُ : أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ
فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا ، فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ ، فَقَالَ : ” أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ،
أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي
أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ
رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Ada
tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan
bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu’alaihi wasallam. ٍSetelah diberitakan kepada mereka,
sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata,
“Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga
yang akan datang?” Salah seorang dari mereka berkata, “Sungguh, aku akan shalat
malam selama-lamanya” (tanpa tidur). Kemudian yang lain berkata, “Kalau aku,
sungguh aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka”. Dan
yang lain lagi berkata, “Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah
selama-lamanya”. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam
kepada mereka seraya bertanya: “Kalian berkata begini dan begitu. Ada pun aku,
demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan
juga paling bertakwa. Aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur serta
menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah dari
golonganku” (HR. Bukhari )
إِنَّهُ مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي قَدْ أُمِيتَتْ
بَعْدِي فَإِنَّ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلَ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةَ ضَلَالَةٍ لَا
يَرْضَاهَا اللَّهَ وَرَسُولَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا
لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَوْزَارِ النَّاسِ شَيْئًا
“Barangsiapa
yang sepeninggalku menghidupkan sebuah sunnah yang aku ajarkan, maka ia akan
mendapatkan pahala semisal dengan pahala orang-orang yang melakukannya tanpa
mengurangi pahala mereka sedikitpun. Barangsiapa yang membuat sebuah
bid’ah dhalalah yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan
mendapatkan dosa semisal dengan dosa orang-orang yang melakukannya tanpa
mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR. Tirmidzi)
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ
عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا
كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ
الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ
ضَلاَلَةٌ
“Aku
wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, tetap mendengar dan ta’at
kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari
Habasyah. Karena barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti,
dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk
berpegang pada sunnah-ku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mereka
itu telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan
gigi geraham kalian. Jauhilah dengan perkara (agama) yang diada-adakan
karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah
adalah kesesatan” (HR. At Tirmidzi)
إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ ،
وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا ، لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ
أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ ، فَأَقُولُ :
إِنَّهُمْ مِنِّي ، فَيُقَالُ : إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ ،
فَأَقُولُ : سُحْقًا ، سُحْقًا ، لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي ( رواه البخاري، رقم
6212 ومسلم، رقم 2290 )
“Saya
menunggu kalian di “Haudh” (telaga), barang siapa yang melewati saya ia akan
meminum air telaga tersebut, dan bagi siapa saja yang meminumnya maka ia tidak
akan merasa haus selamanya. Ada beberapa kaum yang mendatangiku, aku mengetahui
mereka, dan mereka mengetahuiku, kemudian mereka dihalangi untuk sampai
kepadaku, maka aku berkata: “Mereka adalah termasuk golonganku”. Maka
dikatakan: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat
sepeninggalmu”. Maka aku bersabda: “Celaka, celaka bagi siapa yang merubah
setelahku”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Komentar
Posting Komentar