Adakah Dzikir setelah menjamak salat?

 


Islam adalah satu-satunya agama wahyu yang dibawa oleh para nabi dan rasul yang kemudian disempurnakan setelah diutusnya Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam sebagai khotamun-Nabiyyin (penutup para nabi dan rasul). Sebagaimana tergambar dalam  ayat hukum terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا}

”Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmatKu, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-Maidah : 3).

Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam selain diperintah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada seluruh ummat manusia, juga berkewajiban untuk memelihara dan menjaganya agar tidak terjadi tahrif (perubahan) sebagaimana yang telah terjadi pada ajaran nabi-nabi sebelumnya. Setelah beliau wafat penjagaan terhadap agama wahyu ini kemudian dilanjutkan oleh para shahabat dan para ulama setelahnya, baik salaf maupun khalaf. Sehingga dibukukanlah Al-Quran pada masa sahabat dan As-sunnah pada masa-masa setelahnya dan disusun berbagai fan ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran dan As-Sunnah yang bertujuan agar orang-orang muslim tidak keliru dalam memahami ajaran-ajaran Islam.

Seorang sahabat yang bernama ‘Irbadh bin Saariyah menuturkan, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan salat shubuh mengimami kami (para sahabat) kemudian setelahnya menghadap kepada kami dan memberikan nasihat yang membuat hati-hati kami gemetar dan mata kami berlinang, Salah seorang sahabat berkata: “Ya Rasulullah!  Seolah-olah ini nasihat perpisahan, apa yang hendak engkau sampaikan kepada kami?” Maka Beliau bersabda:

" أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ , وَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا , فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ , فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ " السنن الكبرى للبيهقي (10/ 195)

 “Aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah, serta memperhatikan dan ta’at kepada-Nya walaupun yang memimpin kalian seorang hamba sahaya, dan sesungguhnya barangsiapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat perbedaan yang banyak. Hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur-Rasyidun yang mendapatkan petunjuk dan peganglah dengan kuat-kuat. Hati-hatilah kalian terhadap hal-hal baru dalam urusan agama karena sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat”  (HR. Al Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, juz 10 hal. 195).

Merupakan kewajiban setiap muslim memelihara dan menjaga ajaran-ajaran Islam agar tidak terjadi perubahan padanya baik dengan dikurangi ataupun ditambah. Dasar pemikiran inilah kiranya yang melatar belakangi pembahasan Adakah zikir pada salat jama’?

A.      ZIKIR PADA SALAT JAMA’

Dalam pembahasan ini, penulis menyampaikan beberapa sub bahasan berkaitan dengan tema tersebut, yaitu

1.      Qaidah-qaidah ushul tentang menetapkan dan menafikan hukum

2.      Pendapat adanya syari’at zikir setelah salat jama’

3.      Pendapat tidak ada syari’at zikir setelah salat jama’

4.      Tanggapan-tanggapan


 

              I.          Qaidah-Qaidah Ushul Tentang Menetapkan Dan Menafikan Suatu Hukum

1.        Qaidah Menetapkan Suatu Hukum

Dalam syari’at Islam suatu hukum dapat diterima dan diberlakukan  jika diketahui bersumber dari Al-Haakim yaitu Allah dan Rasul-Nya (yang hakikatnya dari Allah juga)  artinya ketika seseorang menetapkan suatu hukum dituntut adanya bukti atau dalil yang menetapkan hukum tersebut benar-benar ada. Dalam kitab Irsyadul Fuhul, Imam As-Syaukani menjelaskan

لا خلاف أن المثبت للحكم يحتاج إلى إقامة الدليل عليه

Tidak ada pebedaan pendapat (dikalangan ulama) bahwa menetapkan adanya suatu hukum itu membutuhkan kepada adanya dalil. (Irsyadul Fuhul ila Tahqiqil Haq min Ilmil Ushul, 2/191)

Ibnu Abi Mulaikah -seorang qhadi di Thaif- mengirim surat kepada Ibnu Abbas dan menerangkan kisah dua orang wanita yang saling menggugat, lalu Ibnu Abbas membalas suratnya dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

" لَوْ يُعْطَى النَّاسُ بِدَعْوَاهُمْ لَادَّعَى رِجَالٌ أَمْوَالَ قَوْمٍ وَدِمَاءَهُمْ , وَلَكِنَّ الْبَيِّنَةَ عَلَى الْمُدَّعِي , وَالْيَمِينَ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ " السنن الكبرى للبيهقي (10/ 427)

Kalaulah manusia diberi kebebasan untuk melakukan pengakuannya, maka dipastikan orang-orang akan mengakui harta dan darah suatu kaum akan tetapi (diwajibkan menghadirkan) bukti bagi yang mengakui  dan sumpah bagi yang mengingkari. (HR Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, juz 10 hal 427)

Hadis tersebut dengan jelas menerangkan bahwa kewajiban menghadirkan bukti itu bagi orang yang menggugat atau dengan kata lain mutsbit (menetapkan suatu hukum), sedangkan yang mengingkari atau manfi (meniadakan suatu hukum) hanya diperintah untuk bersumpah.

2.        Qaidah Meniadakan suatu hukum

Ketika dituntut adanya dalil untuk menetapkan adanya suatu hukum, maka ketiadaan dalil meniadakan keberadaan suatu hukum, artinya meniadakan suatu hukum cukup dengan tidak ditemukannya suatu dalil karena berpegang kepada qaidah Asal pada sesuatu itu nafi dan tidak ada. (Lihat Taisirul Wushul ila Qawaidil Ushul wa Ma’aqidil Fushul, 1/281)

Akan tetapi sebagian Ulama berpendapat bahwa menafikan suatu hukum pun dituntut adanya dalil karena pengakuan itu tidak hanya itsbat tetapi juga nafi, dalam Al-Quran Allah berfirman:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ } [البقرة: 111]

Dan mereka berkata: “Tidak akan masuk surga kecuali Yahudi atau Nashrani” Itulah angan-angan mereka. Katakanlah olehmu Muhammad “datangkanlah bukti-buktimu jika kalian termasuk orang-orang yang benar!” (QS Al-Baqarah: 111)

Dalam ayat diatas Allah menuntut burhan atau bukti kepada orang-orang yang mengakui bahwa selain Yahudi atau Nashrani tidak akan masuk surga, jika diperhatikan pengakuan tersebut berbentuk nafi, artinya meniadakan sesuatu pun dituntut adanya dalil. (Lihat Ma’alim Ushul Fiqhi ‘inda ahli sunnah wal jama’ah, 1/214)

3.        Komparasi Dari Kedua Qaidah, Mutsbit dan Manfi

Dr. Ahmad Al-Busyikhi dalam kitabnya Tarbiyatu Malakatil Ijtihad min Khilali Bidayatil Mujtahid Libni Rusyd mengkomparasikan kedua pendapat di atas dengan mempertimbangkan istishab (hukum yang telah ada/berlaku) ;

jika istishabnya ada hukum, maka ketiadaan dalil yang menafikan menentukan mutsbit (adanya hukum). dan jika istishabnya tidak ada, maka ketiadaan dalil mutsbit menentukan nafi (tidak adanya hukum) (Lihat Tarbiyatu Malakatil Ijtihad min Khilali Bidayatil Mujtahid Libni Rusyd, 2/416)

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut,

1.      Meniadakan suatu hukum tidak dituntut adanya dalil jika istishabnya ‘adamul hukmi (tidak ada hukum).

2.      Meniadakan suatu hukum dituntut adanya dalil jika istishabnya wujudul hukmi (ada hukum).

 

           II.          Pendapat Adanya Zikir Setelah Salat Jama’

Dalil-dalil yang menerangkan adanya syari’at zikir setelah salat fardu banyak diterangkan dalam berbagai kitab-kitab hadis, diantaranya,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ الفُقَرَاءُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالُوا: ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ مِنَ الأَمْوَالِ بِالدَّرَجَاتِ العُلاَ، وَالنَّعِيمِ المُقِيمِ يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَلَهُمْ فَضْلٌ مِنْ أَمْوَالٍ يَحُجُّونَ بِهَا، وَيَعْتَمِرُونَ، وَيُجَاهِدُونَ، وَيَتَصَدَّقُونَ، قَالَ: «أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ إِنْ أَخَذْتُمْ أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ بَعْدَكُمْ، وَكُنْتُمْ خَيْرَ مَنْ أَنْتُمْ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ مِثْلَهُ تُسَبِّحُونَ وَتَحْمَدُونَ وَتُكَبِّرُونَ خَلْفَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ» صحيح البخاري (1/ 168)

Dari Abu Hurairah -semoga Allah meridloinya- ia berkata: Orang-orang fakir datang kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Orang-orang yang dikaruniai harta mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang permanen; mereka melaksanakan salat sama seperti kami, mereka melaksanakan shaum sama seperti kami, akan tetapi mereka memiliki kelebihan dari hartanya sehingga mereka melaksanakan haji, umrah, ikut berjihad dan mengeluarkan shadaqah. Rasulullah bersabda, “maukah aku terangkan kepada kalian dengan suatu perkara jika kalian melaksanakannya, kamu akan melampaui orang yang mendahului kamu, dan tidak akan ada seorang pun yang dapat mendhuluimu setelahnya, dan kamu lebih baik dari yang lainnya antara kedua tulang punggungnya, kecuali orang yang melakukan sepertinya; yaitu kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap kali selesai salat (wajib) 33 kali. (HR Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, juz 1 hal. 168)

عَنْ وَرَّادٍ، كَاتِبِ المُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: أَمْلَى عَلَيَّ المُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فِي كِتَابٍ إِلَى مُعَاوِيَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ: «لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ، وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ» صحيح البخاري (1/ 168)

Hadis diterima dari Warrad juru tulisnya Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: Al-Mughirah bin syu’bah mendiktekan kepada saya pada suatu surat yang ia kirim untuk Mu’awiyah, sesungguhnya Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam membaca pada setiap selesai salat wajib : Lailaha illalahu (dan seterusnya).  (HR Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, juz 1 hal. 168)

Hadis-hadis di atas dan hadis-hadis lainnya yang menerangkan tentang zikir setelah salat fardu bersifat umum, artinya tidak diterangkan pelaksanaannya baik ketika muqim atau safar. karena itu berlaku qaidah yang menjelaskan bahwa dalil umum tetap berlaku menyeluruh sehingga ada dalil yang mengkhususkannya.

        III.          Pendapat tidak ada Zikir Setelah Salat Jama’

Zikir setelah salat jama’ tidak disyari’atkan berdasarkan argumentasi-argumentasi berikut,

1.        Tidak ada dalil yang menerangkan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam zikir setelah salat jama’ qoshor ketika safar. Sedangkan qaidah menyebutkan “menetapkan suatu hukum itu dituntut adanya dalil” dikarenakan tidak ada dalil yang menerangkan hal tersebut, maka zikir setelah salat jama’ qoshor ketika safar tidak ada.

2.        Dalam praktek salat yang dijamak-qoshor setelah salat yang pertama tidak dilakukan zikir, tetapi langsung dilanjutkan salat yang kedua. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam salat safar tidak ada zikir setelahnya.

3.        Ada beberapa hadis yang mengindikasikan tidak adanya zikir setelah salat jama’ ketika safar, yaitu sebagai berikut

عبد الله بن عمر - رضي الله عنهما - :«أن رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- صلَّى المغربَ والعشاءَ بالمزدلفة جميعا» زاد البخاري في رواية «كلَّ واحدة منهما بإقامة ، ولم يُسبِّحْ بينهما ، ولا على إثر واحدة منهما». (رواه البخاري و مسلم و الدارقطنى و أبوداود و الترمذى والنسائى)

Dari Abdullah bin Umar radiyallahu ‘anhu Sesungguhnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam salat maghrib dan ‘isya dijama’ di Muzdalifah. Ada tambahan pada riwayat Al-Bukhari, Masing-masing dari keduanya dengan satukali iqomah dan tidak bertasbih antara keduanya dan juga pada salah satu dari keduanya. (HR Al-Bukhari, Muslim, Ad-Daraquthni, Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i) (Jami’ul Ushul fi Ahaaditsur Rasul, 5/719)

عن عبد الله بن عمر - رضي الله عنهما - : قال : «صحبتُ النبيَّ -صلى الله عليه وسلم- ، فلم أرَه يُسبِّح في السَّفرِ ، وقال الله تعالي : { لَقَد كانَ لكُم فِي رَسُولِ الله أُسْوة حسنة } [ الأحزاب : 21]». رواه البخاري و مسلم

Dari Abdullah bin Umar ra. Ia berkata: Saya menyertai Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak pernah melihat beliau bertasbih ketika safar, Allah swt berfirman : ((Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik)) QS. Al-Ahzab :21) (HR Al-Bukhari dan Muslim) (Al-Jam’u bainas Shahihain, 2/147)

عن يزيد بن زريع قال مرضت فجاءني ابن عمر يعودني فسألته عن السبحة في السفر فقال صحبت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} في السفر فما رأيته يسبح ولو كنت مسبحاً لأتممت. رواه البخاري و مسلم

Dari Yazid bin Zurai’ ia berkata: saya pernah sakit lalu Ibdu Umar datang menjengukku, saya bertanya kepadanya tentang subhah ketika safar lalu beliau menjawab, “Saya menyertai Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pada saat safar, maka tidak pernah melihat beliau bertasbih, kalaulah saya mau bertasbih pasti saya tamkan salat (tidak qashar). (HR Al-Bukhari dan Muslim) (Al-Jam’u bainas Shahihain, 2/148)

        IV.          Tanggapan-Tanggapan

Menanggapi kedua pendapat di atas, penulis uraikan sebagai berikut,

1.        Hadis-hadis yang disampaikan oleh pendapat pertama (pendapat adanya syari’at zikir setelah salat jama’) cukup sebagai dalil “mutsbit” yang menetapkan adanya zikir setelah salat fardu, baik ketika safar maupun muqim karena diungkapkan dengan lafadz umum. Dengan demikian yang mesti dituntut untuk menghadirkan dalil adalah yang menafikannya, karena hukum yang telah ada dan berlaku (istishabnya) adalah adanya zikir, sedangkan menafikan hukum yang telah mutsbit dituntut adanya dalil.

2.        Dalam sebuah hadis riwayat An-Nasai yang diterima dari Tsauban Maula Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dia berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا انصرف من صلاته استغفر ثلاثا قال اللهم أنت السلام ومنك السلام تباركت يا ذا الجلال والاكرام الذكر بعد الاستغفار السنن الكبرى للنسائي - (ج 1 / ص 397)

Sesungguhnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam apabila selesai dari salatnya istighfar tiga kali dan membaca Allahumma antassalam … dan membaca zikir setelah istighfar. (HR An-NAsai, As-Sunan Al-Kubra, juz 1 hal. 397)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa zikir itu dilakukan ketika inshirafus-Shalah (selesai melaksanakan salat), sedangkan salat jama’ itu selesainya setelah dilaksanakan kedua salat yang dijama’ tersebut.

3.        Hadis-hadis diatas (pada no.3 pendapat tidak ada zikir setelah salat jama’) menggunakan lafadz “yusabbihu” tidak bisa diartikan zikir setelah salat fardu, dengan alasan:

a.         Hadis-hadis tersebut disimpan oleh para Mukhorrij dalam bab mengenai salat sunnat ketika safar.

b.        Lafad “yusabbihu” diartikan dengan salat sunnat berdasarkan qarinah-qarinah yang terdapat dalam riwayat-riwayat lainnya, di antaranya

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَهُمَا(المغرب و العشاء) بِالْمُزْدَلِفَةِ صَلَّى كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِإِقَامَةٍ وَلَمْ يَتَطَوَّعْ قَبْلَ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا وَلَا بَعْدُ

مسند الصحابة في الكتب التسعة - (ج 14 / ص 135)

Dari Salim dari Ayahnya sesungguhnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam menjama’ antara salat maghrib dan ‘isya di Muzdalifah dengan iqomah pada masing-masing salatnya dan tidak melaksanakan salat sunnat sebelum dan sesudah masing-masing salat tersebut. (Musnad As-Shahabah fi Kutubi-Tis’ah, juz 14 hal. 135)

عن حفص بن عاصم قَالَ صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ فِى طَرِيقٍ - قَالَ - فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَقْبَلَ فَرَأَى نَاسًا قِيَامًا فَقَالَ مَا يَصْنَعُ هَؤُلاَءِ قُلْتُ يُسَبِّحُونَ. قَالَ لَوْ كُنْتُ مُسَبِّحًا أَتْمَمْتُ صَلاَتِى يَا ابْنَ أَخِى إِنِّى صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى السَّفَرِ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَصَحِبْتُ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَصَحِبْتُ عُمَرَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَصَحِبْتُ عُثْمَانَ فَلَمْ يَزِدْ عَلَى رَكْعَتَيْنِ حَتَّى قَبَضَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَقَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ).  (سنن أبو داود برقم 1225 باب التطوع فى السفر)

Dari Hafsh bin ‘Ashim ia berkata: Saya menyertai Ibnu Umar di perjalanan lalu beliau salat mengimami kami lalu menghadap kepada kami dan melihat orang-orang berdiri. Beliau bertanya, “ Apa yang mereka lakukan?” Saya menjawab, “Mereka melakukan salat sunnat”. Lalu beliau berkata, “Kalaulah aku melaksanakan salat sunnat, pasti aku taam kan salat, wahai keponakanku sesungguhnya aku menyertai Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam safar dan beliau tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai beliau wafar, lalu aku menyertai Abu Bakar, beliau pun tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai wafatnya, lalu menyertai umar, beliau pun tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai beliau wafat, dan aku menyertai Utsman, beliau pun tidak pernah lebih dari 2 raka’at sampai beliau wafat, sedangkan Allah swt berfirman {{ Sungguh telah ada bagi kamu pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik}} (Sunan Abu Dawud no.1225 Bab Tathawwu’ fis-Safar)

c.          yusabbihu pada hadis-hadis tersebut masdarnya bukan “tasbih” tapi subhah yang artinya salat sunnah. Hal ini tergambar dari pertanyaan Yazid bin Zurai’ kepada Ibnu Umar.

عن يزيد بن زريع قال مرضت فجاءني ابن عمر يعودني فسألته عن السبحة في السفر فقال صحبت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} في السفر فما رأيته يسبح ولو كنت مسبحاً لأتممت. رواه البخاري و مسلم

Dari Yazid bin Zurai’ ia berkata: saya pernah sakit lalu Ibnu Umar datang menjengukku, saya bertanya kepadanya tentang subhah (salat sunat) ketika safar. lalu beliau menjawab, “Saya menyertai Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam pada saat safar, maka tidak pernah melihat beliau melakukan salat sunat, kalaulah saya mau melaksanakan salat sunat, pasti saya sempurnakan salat (tidak qashar). (HR Al-Bukhari dan Muslim) (Al-Jam’u bainas Shahihain, 2/148)

d.         Lafadz yusabbihu digunakan untuk menerangkan salat sunnat ketika safar,  diantaranya hadis berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَبِّحُ عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ كَانَ وَجْهُهُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَفْعَلُهُ صحيح البخاري (2/ 46)

Dari Ibnu Umar radiyallahu anhu, Sesungguhnya Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan salat sunnat di atas kendaraannya kemana saja kendaraannya menghadap beliau mengisyaratkan dengan kepalanya dan Ibnu Umar melaksanakannya. (HR Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, juz 2 hal. 46)

B.       KESIMPULAN

Setelah memperhatikan pendapat keduabelah pihak dan tanggapan-tanggapan yang penulis sampaikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut,

1.      Zikir setelah salat jama’ disyari’atkan

2.      Yang berpendapat tidak ada zikir setelah salat jama’,  mesti menghadirkan dalil yang meniadakannya.

3.      Zikir setelah salat jama’ dilaksanakan setelah inshirafus-shalah (selesai salat)

4.      Selesainya salat jama’ itu setelah salat yang kedua.

 

C.      DAFTAR PUSTAKA

 

1.        Al-Quran Al-Karim

2.        Irsyadul Fuhul ila tahqiqi ilmil ushul, Muhammad bin Ali bin Muhammad As-Syaukani, cet. Darul Fikr 1412 H /1992 M

3.        Al-Fushul fil Ushul, Ahmad bin Ali Abu Bakar Ar-Razi Al-Jashash Al-Hanafi, cet. Wazzaratul Auqafil Kuwaitiyyah, 1414 H/ 1994 M

4.        Tarbiyyah malakatil Ijtihad min khilali bidayatil Mujtahid libni Rusydi, Dr. Ahmad Al-Bushikhi, 2006-2007

5.        Taisirul Wushul ila Qawa’idil Ushul wa Ma’aqidil Fushul, Abdul Mukmin bin Abdil Haq Al-Baghdadi Al-Hanbali, Syarih: Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.

6.        Shahih Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Al-Ju’fi, cet. Dar Thauq An-Najah 1422 H.

7.        Al-Jam’u bainas Shahihaini Al-Bukhari wa Muslim, Muhammad bin Futuh bin Abdillah bin Futuh bin Humaid Al-Azdi, cet. Dar Ibn Hazm – Libanon Beirut 1423 H/ 2002 M

8.        Sunan Abi Daud, Abu Daud Sulaiman bin Al-Asy’asy bin Ishaq bin Basyir As-Sijistani, cet. Al-Maktabah al-Ashriyyah Beirut

9.        As-Sunan Al-Kubra, Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi, cet. Markaz Hajr lilbuhuts wa ad-Dirasat Al-Arabiyah wa Al-Islamiyah 1432 H/ 2011 M

10.    Al-Maktabah Asy-Syamilah v. 3.64

MN

 Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/



Komentar