Wasiat Pertama ; Amal Yang Paling Dicintai Allah Ta’ala

 


عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ رَجُلٍ مِنْ خَثْعَمَ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِهِ قَالَ: قُلْتُ: أَنْتَ الَّذِي تَزْعُمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «إِيمَانٌ بِاللَّهِ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: «ثُمَّ صِلَةُ الرَّحِمِ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الْأَعْمَالِ أَبْغَضُ إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: «ثُمَّ قَطِيعَةُ الرَّحِمِ». قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ثُمَّ مَهْ؟ قَالَ: «ثُمَّ الْأَمْرُ بِالْمُنْكَرِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمَعْرُوفِ» مسند أبي يعلى الموصلي (12/ 229)

Dari Qatadah, dari seorang laki-laki bani Khats’am, berkata, saya mendatangi Nabi Ketika beliau Bersama sekumpulan sahabat-sahabatnya. Ia berkata, saya berkata, “Apakah kamu yang mengaku sebagai utusan Allah?” Beliau menjawab, “ya”. Ia berkata, saya berkata, “Wahai utusan Allah, Amal-amal apa yang paling dicintai Allah?”. Beliau menjawab, “Iman kepada Allah”. Ia berkata, saya bertanya, “wahai utusan Allah kemudian apa? Beliau menjawab, “kemudian shillaturrahim”. Ia berkata, saya bertanya, “Wahai utusan Allah, amal-amal apa yang paling dibenci Allah? Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah”. Ia berkata, saya bertanya, “Wahai utusan Allah, kemudian apa?” Beliau menjawab, “kemudian memutuskan Rahim”. Ia berkata, saya bertanya, “Wahai utusan Allah, kemudian apa? Beliau menjawab, “Kemudian memerintahkan kepada kemunkaran dan melarang dari kebaikan”. (HR. Abu Ya’la Al-Mushili)

Wasiat Rasulullah SAW kepada umatnya adalah petunjuk yang sangat berharga. Hadis riwayat Abu Ya'la Al-Mushili ini merangkum beberapa aspek penting dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi prioritas utama dalam Islam. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW memberikan penekanan pada aspek iman, hubungan kekeluargaan, larangan syirik, dan tanggung jawab umat dalam memerangi kemungkaran serta mendorong kebaikan.

Iman Kepada Allah Sebagai Landasan Utama

Iman kepada Allah adalah pokok ajaran dalam Islam. Konsep ini tidak hanya terbatas pada ucapan semata, tetapi juga melibatkan keteguhan hati dan bukti nyata dalam amal perbuatan. Al-Hasan al-Basri, seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in memberikan pencerahan tentang esensi iman, beliau mengatakan bahwa iman bukanlah sekadar kata-kata manis atau khayalan belaka. Iman adalah kekuatan yang terpatri dalam hati seseorang dan diakui melalui amal perbuatan. Ucapannya yang baik tanpa diiringi perbuatan yang baik akan ditolak oleh Allah, sedangkan ucapan yang baik yang disertai dengan amal perbuatan yang baik akan diangkat oleh Allah. Ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Fathir ayat 10, "Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik dan amal saleh akan diangkat-Nya." (Syu’ab Al-Iman, 1/159)

Iman dalam Islam tidak hanya sebatas kepercayaan dengan hati, tetapi juga melibatkan pengucapan dengan lisan dan implementasi dalam tindakan nyata. Konsep ini tercermin dalam pengertian iman sebagai akad hati, lisan, dan anggota tubuh. Ada tiga kategori utama individu berdasarkan hubungan antara keyakinan, ucapkan, dan perbuatan:

1.      Munafik: Seseorang yang bersaksi dan beramal, tetapi tidak meyakini secara sungguh-sungguh. Ini adalah tindakan munafik.

2.   Fasik: Seseorang yang bersaksi dan meyakini, tetapi tidak mengamalkan ajaran Islam dalam perbuatannya. Ini disebut sebagai perilaku fasik.

3.       Kafir: Seseorang yang tidak bersaksi sama sekali dianggap sebagai kafir.

Iman tidaklah homogen, melainkan memiliki variasi. Dalam perspektif Islam, menurut Imam Al-Jurjani iman terbagi menjadi lima macam:

1.    Iman Mathbu’ (Ditabi'atkan): Iman para Malaikat yang meyakini dan melaksanakan perintah Allah.

2.         Iman Ma’shum (Terjaga): Iman para Nabi yang terjaga dari berbagai dosa.

3.  Iman Maqbul (Diterima): Iman orang-orang yang beriman sungguh-sungguh dan amal perbuatannya diterima oleh Allah.

4.        Iman Mauquf (Terhenti): Iman pelaku bid’ah yang tidak melanjutkan keyakinannya dengan amal perbuatan yang benar.

5.         Iman Mardud (Tertolak): Iman orang-orang munafik yang diharamkan oleh Allah.

(Lihat At-Ta'rifat hal 40)

Iman kepada Allah adalah pondasi utama dalam Islam, bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi juga penghayatan dan implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Al-Hasan al-Basri dan konsep-konsep dalam Islam memberikan gambaran bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis dengan tingkatan dan variasi tertentu. Oleh karena itu, sebagai umat Muslim, kita dituntut untuk memperkuat iman kita dengan mengkombinasikan keyakinan, ucapkan, dan amal perbuatan yang benar sesuai dengan ajaran Islam.

Kepentingan Silaturahmi

Silaturahmi, dalam konteks Islam, memiliki makna yang luas dan mendalam. Istilah ini bukan hanya sekadar hubungan keluarga, namun juga mencakup aspek hubungan dengan orang-orang terdekat, baik melalui hubungan darah maupun ikatan pernikahan. Dalam Islam, silaturahmi dianggap sebagai bentuk kebaikan, dan tindakan ini memainkan peran penting dalam membangun masyarakat yang kokoh dan harmonis.

Silaturahmi adalah bentuk konkret dari kebaikan dan keberkahan dalam Islam. Menurut pengertian dari kitab "An-Nihayah fi gharib Al-Hadits wa Al-Atsar", silaturahmi adalah tindakan baik kepada kerabat yang melibatkan hubungan nasab dan pernikahan. Ini mencakup berbuat baik, menyayangi, dan memperhatikan keadaan kerabat, baik ketika mereka dekat maupun menjauh. (An-Nihayah fi gharib Al-Hadits wa Al-Atsar, 5/191)

Islam memberikan penekanan khusus terhadap silaturahmi sebagai suatu nilai yang tinggi. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Rasulullah SAW menyatakan bahwa yang disebut sebagai "orang yang menyambungkan rahim" bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi yang menyambungkan kembali hubungan ketika terputus. Hal ini menunjukkan bahwa silaturahmi tidak hanya bersifat reaktif terhadap kebaikan, tetapi juga proaktif dalam menjaga hubungan, terlepas dari situasi atau perlakuan yang diterima.

Aspek-aspek Silaturahmi dapat dilihat dari ketiga poin berikut:

1.   Rasa Kasih dan Sayang: Silaturahmi melibatkan rasa kasih dan sayang terhadap kerabat, baik mereka yang dekat maupun yang jauh. Memberikan perhatian dan menunjukkan perasaan tersebut merupakan bentuk implementasi dari ajaran Islam.

2.   Kerelaan Menjalin Hubungan: Dalam menjalankan silaturahmi, Islam mengajarkan untuk menjalin hubungan dengan kerelaan hati. Ini tidak hanya sebatas tindakan formal, tetapi mencakup keikhlasan dalam menjaga hubungan.

3.    Perhatian terhadap Kondisi Kerabat: Menyambung rahim juga mencakup perhatian terhadap kondisi dan kebutuhan kerabat. Sebuah tindakan yang menggambarkan keberpihakan dan kepedulian terhadap mereka.

Bahaya Syirik

Syirik adalah satu dari dosa yang paling serius dalam Islam. Dalam agama Islam, konsep ini mencakup perbuatan menyerupakan makhluk ciptaan Allah dengan Sang Khalik, serta menggabungkan Allah dengan makhluk dalam beberapa aspek kehidupan. Syirik mencakup dua aspek utama, yaitu pertama, menyerupakan makhluk dengan Allah. Hal ini terjadi ketika seseorang memberikan sifat atau ciri khas Allah kepada makhluk-Nya. Kedua, menyekutukan Allah dalam kekhususan-kekhususan ilahi, seperti pemilik madlorot (kerugian), manfaat, memberi, menahan, dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kehidupan spiritual. (Fathul Majid, 92)

Syirik sangat berbahaya dalam kehidupan beragama, karena beberapa hal sebagai berikut:

1.    Melanggar Prinsip Tauhid: Syirik melanggar prinsip utama dalam Islam, yaitu tauhid atau keesaan Allah. Islam menekankan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Melibatkan makhluk dalam ibadah atau menyamakan mereka dengan Allah merupakan pelanggaran serius terhadap konsep tauhid.

2.      Pembatalan Amal Keimanan: Praktik syirik dapat membatalkan semua amal keimanan seseorang. Meskipun seseorang melakukan amal ibadah, jika terdapat unsur syirik, hal itu dapat menyebabkan amal tersebut tidak diterima oleh Allah.

3.       Dampak pada Doa, Ketakutan, dan Harapan: Syirik mencakup kesalahan dalam membawa doa, rasa takut, dan harapan. Hanya Allah yang berhak menerima doa, menjadi tempat ketakutan, dan harapan tertinggi. Menyekutukan-Nya dalam hal-hal tersebut dapat mengakibatkan hilangnya makna dari ibadah dan kecenderungan untuk menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Bertawakal dan segala bentuk ibadah hanya boleh diarahkan kepada Allah. Menempatkan kepercayaan atau bergantung pada selain-Nya merupakan bentuk syirik yang dapat merusak hubungan spiritual dengan Allah.

Buruknya Qathi’aturrahim (memutuskan hubungan kekeluargaan)

Terdapat peringatan keras dalam Al-Qur'an terkait dengan tindakan memutuskan silaturahmi. Ayat yang diambil dari Surah Muhammad ayat 22-23 menjadi cerminan tentang bahaya dan akibat yang menimpa orang yang sengaja memutuskan hubungan kekeluargaannya. Allah berfirman:

فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ

Apakah seandainya berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan membutakan penglihatan mereka.  (Muhammad : 22-23)

Ayat ini mencerminkan betapa seriusnya tindakan memutuskan silaturahmi dalam Islam. Dengan membandingkan tindakan ini dengan kerusakan di bumi, Al-Qur'an menunjukkan bahwa memutuskan hubungan kekeluargaan dapat menjadi bentuk kerusakan sosial dan moral yang sangat besar. Selain itu, hukuman yang dijelaskan dalam ayat tersebut menggambarkan keadaan spiritual yang buruk bagi mereka yang melakukan tindakan tersebut.

Allah menyatakan bahwa orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan-Nya telah dilaknat. Laknat Allah adalah hukuman yang sangat serius dan menunjukkan bahwa tindakan ini tidak hanya merugikan hubungan sosial, tetapi juga berdampak pada hubungan dengan Sang Pencipta.

Memutuskan silaturahmi bisa bermacam-macam bentuknya, seperti ketidakpedulian terhadap kerabat, ketidakhadiran dalam momen-momen penting keluarga, atau bahkan permusuhan yang disengaja. Semua tindakan ini, jika disengaja dan dilakukan dengan niat buruk, dapat menjadi penyebab Allah melaknat dan menjauhkan diri dari hukuman-Nya.

Dalam konteks ini, Al-Qur'an mengajarkan kepada umat Islam untuk selalu menjaga silaturahmi, karena tindakan ini memiliki dampak besar tidak hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga di akhirat. Mempertahankan hubungan kekeluargaan adalah bagian integral dari kehidupan seorang Muslim, dan memutuskannya merupakan tindakan yang sangat dibenci oleh Allah.

Kepentingan Amar ma’ruf nahyi munkar

Amar ma'ruf dan nahyi munkar adalah dua konsep penting dalam Islam yang mengajarkan umat untuk mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran. Pentingnya Amar Ma'ruf dan Nahyi Munkar bagi kaum muslimin dapat dilihat dari dua hal:

1.           Menjaga Kesejahteraan Masyarakat: Amar ma'ruf dan nahyi munkar bertujuan untuk menjaga keharmonisan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan mendorong kebaikan dan melarang kemungkaran, umat dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik dan lebih adil.

2.        Tanggung Jawab Umat: Hadis yang diambil dari Ibnu Majah menekankan bahwa umat Islam harus menjalankan amar ma'ruf dan nahyi munkar sejalan dengan apa yang telah dialami oleh umat sebelumnya. Tanggung jawab ini mencakup penolakan terhadap ketidakadilan, kejahatan, dan penyebaran kebodohan.

Ada satu momen dimana umat Islam meninggalkan amar ma'ruf dan nahyi munkar, dalam sebuah hadis dijelaskan sebagai berikut,

عنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَتْرُكُ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ إِذَا ظَهَرَ فِيكُمْ مَا ظَهَرَ فِي الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا ظَهَرَ فِي الْأُمَمِ قَبْلَنَا قَالَ الْمُلْكُ فِي صِغَارِكُمْ وَالْفَاحِشَةُ فِي كِبَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِي رُذَالَتِكُمْ. (رواه ابن ماجة)

Dari Anas bin Malik, berkata: Rasulullah ditanya: Wahai Rasulullah! Kapankah kami akan akan (berani) meninggalkan amr ma’ruf dan nahyi munkar? Rasulullah saw menjawab: Bila tampak pada kalian apa-apa yang tampak pada umat-umat sebelum kalian. Kami bertanya: Wahai Rasulullah! Apakah yang tampak pada umat sebelum kami? Jawab Rasul, “Kekuasaan dipegang orang-orang kecil darimu, kejahatan dilakukan para pembesar, dan ilmu dimiliki orang-orang rendah (akhlak) darimu”. (HR Ibnu Majah)

Menurut tafsir Al-Qurthubi, sebuah negeri yang memiliki keempat karakteristik berikut akan terlindungi dari bencana:

1.   Pemimpin Adil: Pemimpin yang tidak dzalim dan mengedepankan keadilan dalam kepemimpinannya.

2.            Ahli Ilmu yang Berpetunjuk: Keberadaan ulama dan ahli ilmu yang berpedoman pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

3.           Elderly yang Mendukung Amar Ma'ruf dan Nahyi Munkar: Orang-orang tua yang senantiasa mendukung amar ma'ruf dan nahyi munkar, serta memberikan semangat untuk menuntut ilmu dan memahami Al-Quran.

4.       Perilaku Wanita yang Terpelihara: Kaum wanita yang berpakaian tertutup dan menjauhi perilaku tabarruj seperti yang dilakukan wanita-wanita di masa Jahiliyyah.

(Lihat Tafsir Al-Qurthubi juz IV hal 49)

Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar