Manusia adalah mahluk yang tidak bisa hidup secara individual. Dia
membutuhkan bantuan yang lainnya dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Oleh
karena itu sejarah mencatat bahwa dari masa ke masa manusia selalu mengadakan
perkumpulan untuk memenuhi tujuan yang dicita-citakannya. Sifat dasar manusia
ini diterangkan dalam Al-Quran dengan tiga istilah penciptaannya, yaitu min ‘alaq, min dha’fin dan min ‘ajal. ‘Alaq
artinya sesuatu yang bergantung kepada hal lainnya yang lebih tinggi. Dha’fin artinya lemah baik jasad,
fikiran maupun akal. Sedangkan ‘ajal artinya tergesa-gesa yang merupakan
turunan dari sifat lemah sehingga salah dalam memilih sebuah keputusan.
Dengan demikian, manusia yang sadar diri atas jati
dirinya akan selalu berkumpul dengan teratur dalam menyusun Langkah demi
langkah untuk mendapatkan tujuan yang diinginkannya, baik secara personal
maupun komunal. Dalam islam perkumpulan teratur ini diistilahkan dengan imamah
dan imarah, sehingga orang yang mengingkari sifat dasar ini dikatakan jahiliyyah.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ
مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
“Siapa yang tidak menyukai kebijakan amir (pemimpinnya) hendaklah
bersabar, sebab siapa pun yang keluar dari ketaatan kepada amir walaupun sejengkal,
ia mati dalam jahiliyah.” (HR. al-Bukhari)
Kepemimpinan yang dijelaskan dalam hadis di atas
berlaku untuk setiap segi kehidupan, mulai dari keluarga sampai kenegaraan. Diperlukan kesabaran untuk
senantiasa hidup dalam imamah dan imarah ini dalam Batasan selama perintah dan
aturan-aturan dalam kepemimpinan itu bukan merupakan kemaksiatan. Rasulullah
shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada keta’atan kepada makhluk
dalam maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla” (HR. Ahmad)
Bagi orang-orang mukmin, dalam berjihad mendakwahkan islam diperlukan gerakan yang teratur dan
tersusun rapih agar kokoh dan tidak mudah digoyahkan oleh musuh-musuh islam.
Allah swt berfirman.
{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ
يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ} [الصف: 4]
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berperang di jalanNya dengan bersaf (berbaris) seakan-akan mereka bangunan
yang tersusun rapi.”
(Ash-Shaf : 4)
Untuk merapihkan barisan dan menyatukan Gerakan,
dibutuhkan seorang pemimpin yang diangkat secara musyawarah oleh kaum muslimin.
Ketika akan bepergian pun Rasulullah saw. Memerintahkan umatnya memilih salah
seorang dari mereka menjadi pemimpin (amir safar). Dalam sebuah hadis
diterangkan,
“Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra, Rasulullah saw
bersabda : Jika tiga orang bepergian, maka angkatlah sebagai amir (safar) salah
seorang diantara mereka.” (HR.Abu Daud)
Dalam memilih seorang pemimpin, Allah dan rasulNya telah
memberikan petunjuk mengenai sifat-sifat yang mesti ada pada seorang pemimpin.
Diantaranya diterangkan dalam keterangan-keterangan berikut ini:
1.
Pemimpin
merupakan seorang mukmin yang Jujur, Zuhud, Taat Beribadah, Kuat, Tahan Uji dan
mampu menJadi Panutan. Dalam sebuah hadis yang
diterima dari sahabat Ali bin Abi thalib, Rasulullah saw pernah ditanya : Siapakah
yang akan Anda angkat sebagai pemimpin sesudah Anda ? Beliau menjawab : Jika
kalian memilih Abi Bakar, kalian akan mendapatkan ia sebagai orang yang jujur,
zuhud, semangat dalam beribadah. Jika kalian memilih Umar, kalian akan
mendapatkan ia sebagai orang yang kuat, jujur, tidak takut dalam memperjuangkan
agama Allah dari celaan orang yang mencela. Jika kalian memilih Ali, dan aku
melihat kalian tidak akan melakukannya, kalian akan mendapatkan ia orang yang
mendapat petunjuk yang akan menuntun kalian ke jalan yang lurus. (HR.Ahmad)
2.
Seorang
pemimpin harus memiliki kemampuan dan Keahlian di
Bidangnya (professional). Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Jika disia-siakan amanat, maka tungguhlah kehancuran”. Beliau
ditanya : Apa yang dimaksud amanat disia-siakan itu ? Beliau menjawab :Jika
sebuah urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggu kehancurannya. (HR. Al-Bukhari)
3.
Seorang
pemimpin harus menjadi teladan dalam menjalankan aturan
dan hukum yang dibuatnya. Dalam sebuah hadis diterangkan:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَكُونُ أُمَرَاءُ بَعْدِي
يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ – ر احمد
Dari Ibnu Abbas ra berkata, bersabda Rasulullah saw: Akanada
sesudahku pemimpin yang mengatakan apa yang mereka tidak kerjakan, dan
mengerjakan apa yang tidak diperintahkan. (
HR.Ahmad)
4.
Seorang
pemimpin harus memiliki sifat tawadhu (Rendah Hati).
Allah swt berfirman :
“dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,
yaitu orang-orang yang beriman.”
(QS.As-Syu’ara:215)
5.
Seorang
pemimpin harus bersikap lembut, ramah dan tidak kasar.
Al-Quran menjelaskan mengenai sifat Nabi Muhammad saw dalam memimpin umatnya:
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah
mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan
mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka
bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”. (QS. Ali Imran : 159)
6.
Seorang
pemimpin harus menepati Janji dan sumpah yang
dipernah diucapkannya. Allah swt berfirman :
“Bahwasanya orang-orang yang
berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.
Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya
niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa
menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”.
(QS.Al-Fatah : 10)
7.
Seorang
pemimpin harus seorang yang penyabar. Allah swt berfirman :
“Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah
kepada Allah agar kamu beruntung”. (QS. Ali Imran:
200)
8.
Seorang
pemimpin haruslah seorang yang lapang dada, tidak
memiliki dendam dan prasangka buruk terhadap rakyatnya. Rasulullah shallalahu
‘alaihi wasallam sebagai seorang pemimpin pernah menyampaikan kepada para
sahabatnya, sabdanya:
“Janganlah seorangpun dari sehabatku menyampaikan kepadaku sesuatu
tentang (keburukan ) seseorang, sesungguhnya aku ingin keluar menemui kalian
dengan hati yang lapang”. (HR.Abu Daud).
9.
Seorang
pemimpin harus Sehat Jasmaninya dan berwawasan luas.
Al-Quran menjelaskan mengenai sifat Thalut yang diangkat oleh Allah secara
langsung untuk memimpin bani Israil:
“Dan nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah
mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh
kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya,
dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah
memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah
memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas,
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 247)
10.
Seorang
pemimpin harus seorang yang menjunjung keadilan.
Rasulullah shallalalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى
اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ
وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ
جَائِرٌ –
“Manusia
yang paling Allah cintai pada hari kiamat dan paling dekat tempatnya
kepada-Nya, pemimpin yang adil. Dan Orang yang paling Allah benci dan paling
jauh tempatnya dari-Nya adalah pemimpin yang zalim”. (HR.At-Tirmidzi)
Kriteria pemimpin yang dijelaskan dalam keterangan-keterangan di
atas merupakan sifat-sifat ideal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin di
jenjang manapun. Apabila tidak menemukan seorang pun yang memenuhi kriteria di
atas, minimal yang paling mendekatinya. Dalam qaidah fiqih disebutkan
ما لا يدرك
كله لا يترك كله
“Sesuatu yang tidak bisa dilakukan
seluruhnya, janganlah ditinggal seluruhnya”
Bagi seorang mukmin yang memiliki sifat-sifat di atas, atau paling tidak mendekati sifat-sifat tersebut, maka dia memiliki kelayakan untuk diangkat menjadi seorang pemimpin.
MN
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar