KEDUDUKAN HADIS AKHIR ZAMAN TENTANG SUARA KERAS DI BULAN RAMADAN

 


Salah satu sifat orang mukmin adalah iman terhadap perkara ghaib, Iman kepada terjadinya kiamat adalah bagian daripadanya. Adapun kepastian waktu terjadinya kiamat hanya Allah yang Maha Mengetahuinya, tidak ada seorangpun yang diberi pengetahuan olehNya kecuali hany tanda-tandanya saja. Allah ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tidak sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuudh)” [QS. Al-An’aam : 59].

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menjelaskan yang dimaksud dengan kunci-kunci ghaib itu salah satunya adalah pengetahuan tentang terjadinya kiamat, belliau bersabda,

« مَفَاتِحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ ، وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ ، وَيَعْلَمُ مَا فِى الأَرْحَامِ ، وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ، وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ، إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ »

“Kunci-kunci gaib ada lima yang tidak diketahui kecuali hanya oleh Allah : Tidak ada yang mengetahui apa pun pada esok hari kecuali Allah, dan tidak ada yang mengetahui apa pun yang diselubungi rahim-rahim kecuali oleh Allah, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Allah, dan tidak ada jiwa yang mengetahui dibumi manakah ia akan mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan kiamat terjadi kecuali Allah.” [HR: Bukhari)

Tersebar riwayat yang menerangkan bahwa salah satu dari tanda-tanda kiamat itu adalah adanya suara yang keras pada pertengahan bulan ramadhan lalu diikuti dengan terjadinya berbagai fitnah di bulan-bulan setelahnya.

Hadis yang dimaksud berbunyi

«إِذَا كَانَتْ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمْيِيزُ الْقَبَائِلِ فِي ذِيِ الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِيِ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ، وَمَا الْمُحَرَّمُ» ، يَقُولُهَا ثَلَاثًا، «هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ، يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا» قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الصَّيْحَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: " هَدَّةٌ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ، فَتَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ، فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ، فِي سَنَةٍ كَثِيرَةِ الزَّلَازِلِ، فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَاغْلِقُوا أَبْوَابَكُمْ، وَسُدُّوا كُوَاكُمْ، وَدِثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا حَسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا: سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبُّنَا الْقُدُّوسُ، فَإِنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ هَلَكَ "

“Bila telah muncul suara di bulan Ramadhan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal, kabilah-kabilah saling bermusuhan (perang antar suku) di bulan Dzul Qa’dah, dan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzul Hijjah dan Muharram dan apa itu muharram” beliau mengatakannya tiga kali, “Menjauhlah menjauhlah orang-orang akan terbunuh dalam kekacauan demi kekacauan”. Kami bertanya: “Suara apakah, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Suara keras di pertengahan bulan Ramadhan, pada malam Jumat, akan muncul suara keras yang membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari pingitannya, pada malam Jumat di tahun terjadinya banyak gempa. Jika kalian telah melaksanakan shalat Subuh pada hari Jumat, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya, sumbatlah lubang-lubangnya, dan selimutilah diri kalian, sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan adanya suara menggelegar, maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah: “Mahasuci Allah Al-Quddus, Mahasuci Allah Al-Quddus, Rabb kami Al-Quddus”, karena barangsiapa melakukan hal itu, niscaya ia akan selamat, tetapi barangsiapa yang tidak melakukannya, niscaya akan binasa”.

Hadis tersebut merupakan hadis yang sangat dhaif, bahkan banyak yang memasukkannya dalam kategori hadis maudhu’ (palsu), diantaranya

1.       Imam Ibnu Al-Jauzi Memasukkan hadis tersebut dalam kitab Al-Maudlu’at dan mengatakan ini adalah hadis palsu atas nama Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam (Al-Maudluaat, 3/190-191),

2.       Imam As-Suyuti memasukkan hadis ini dalam kitabnya yang menghimpun hadis-hadis maudlu yang berjudul Al-Laali Al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudlu’ah, 3/321-323

3.       Imam Al-Jurqani memasukkan hadis tersebut dalam kitabnya Al-Abathil wa Al-Manakir dan beliau mengatakan Ini adalah hadis Munkar  (Al-Abathil wa Al-Manakir wa As-Shahhah wa Al-Masyahir, 2/105-106)

4.       Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah menyimpan hadis ini dalam kitab Al-Manaar Al-Munif halaman 110 sebagai contoh dari salah satu ciri-ciri hadis palsu.

5.       Syaikh Al-Albani menyimpannya dalam kitab silsilah Al-Ahadits Ad-Dhaifah wa Al-Maudhu’at 13/391-397 no. 6178 dan  6179

Pendapat para ulama hadis di atas tidak muncul begitu saja, akan tetapi didasari argumentasi-argumentasi yang sangat kuat, dapat dilihat dari berbagai jalur periwayatan berikut.

1)      Jalur sahabat Abdullah bin Mas’ud (Kitab Al-Fitan, 1/228, Musnad Asy-Syasyi, 2/262) pada sanadnya terdapat beberapa rawi yang lemah

a.       Nu’aim bin Hammad Al-Marwazi Al-Khuza’i

Walaupun beliau dipandang shaduq oleh beberapa ulama seperti Ibnu Ma’in, Ahmad, Al-‘Ijli dan Abu Hatim (Tadzkiratul huffadz, 2/ 418), namun tidak sedikit yang memberikan penilaian jarh kepada beliau diantaranya

Ahmad bin Syu’aib dan yang lainnya berkata, “Ibnu Hammad suka memalsukan hadis dalam menguatkan sunnah dan beberapa hikayat dari para ulama tentang Tsalab abi fulan dia berdusta”. Abu Ubaid Al-Ajuri berkata dari Abu Daud tentang Nu’aim bin Hammad meriwayatkan sekitar 20 hadis dari Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam yang tidak ada asalnya. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-Tsiqaat dan dia berkata, “Terkadang dia keliru dan melakukan wahm”

Imam Adz-Dzahabi mengatakan, Tidak boleh bagi seorangpun menjadikannya sebagai hujjah dan sungguh dia telah menyusun kitab Al-Fitan lalu meriwayatkan hadis-hadis yang aneh dan munkar di dalamnya.  (Siyar A’lam an-Nubala, 9/26)

b.       Ibnu Lahi’ah

Ibnu Ma’in berkata, “Hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah”. Ad-Darimi berkata, “Dha’iful hadis”. Ibrahim bin Ya’qub Al-Jauzajani berkata, “Ibnu Lahi’ah tidak diketahui hadisnya. Dia tidak dapat dijadikan hujjah, dan jangan tertipu oleh riwayatnya” At-Tirmidzi berkata: Ibnu Lahi’ah daif menurut ahli hadis. Ia dinyatakan da’if dari segi hafalannya oleh Yahya bin Sa’id al-Qathan dan yang lainnya. Ibnu Hiban berkata: “Dia seorang syekh yang saleh, akan tetapi dia melakukan tadlis dari rawi-rawi daif sebelum kitabnya terbakar” (Kitaab Al-Majruhin, 2/11).

c.       Abdul Wahhab bin Husain

Al-Hakim meriwayatkan satu hadis darinya dalam kitab Al-Ahwal pada Al-Mustadraknya dan dia berkata, “Aku meriwayatkannya karena aneh, Abdullah bin Wahhab rawi majhul (tidak diketahui identitas dan kredibilitasnya) Adz-Dzahabi berkata dalam Talkhisnya, menurutku dia memiliki periwayatan hadis maudlu (palsu) (Lisan Al-Mizan, 5/303)

d.       Muhammad bin Tsabit Al-Bunnani

Yahya bin Ma’in bekata, Muhammad bin Tsabit Al-Bunani laisa bisyaiin (tidak ada apa-apanya). Al-Bukhari mengatakan, Fiihi nadzar (dia mesti diteliti). An-Nasai mangatakan Dla’if (Al-Kamil fi Dlu’afa Ar-Rijal, 7/313)

e.       Al-Harits Al-Hamdani

Yahya bin Main mengatakan dia rawi tsiqah (terpercaya) di lain waktu mengatakan, dia tidak apa-apa. Utsman Ad-Darimi berkata, “tidak ada yang menguatkan perkataan Yahya bin Ma’in bahwa dia (Al-Harits) seorang rawi tsiqah. Asy-Sya’bi, Ibnu Al-Madini dan Abu Khaitsamah mengatakan, “Dia seorang pendusta”.  Abu Hatim berkata, “dia tidak dapat dijadikan hujjah”  (Siyar A’lam an-Nubala, 7/168)

 

2)      Jalur sahabat Abu Hurairah (Al-Mu’jam Al-Ausath, 1/164, Kitab Al-Fitan, 1/226, Al-Mustadrak ‘ala As-Sahihain, 4/563, Ad-Dhu’afa Al-Kabir, 3/52, Akhbar Ashbahan, 2/276) pada sanadnya terdapat beberapa rawi yang lemah

a.       Nu’aim bin Hammad, penjelasannya telah disebutkan di atas

b.       Ubaisah/Anbasah bin Abi Shaghirah Al-Hamdani

Adz-Dzahabi berkata, Dia meriwayatkan dari Al-Auza’I hadis yang bathil (Mizan Al-I’tidal, 3/301)

c.       Al-Bakhtari

Al-Haitsami berkata, Aku tidak mengenalnya (Majma’ Az-Zawaid, 7/210)

d.       Maslamah bin Ali Al-Khusyani

Al-Bukhari berkata, Munkarul Hadits. An-Nasa’I berkata, Matruk (periwayatannya ditinggalkan). Ibnu Adi berkata, kebanyakan hadis-hadisnya tidak mahfuz (kuat) (Mizan Al-I’tidal, 4/109). Adz-Dzahabi berkata, Maslamah tidak bertemu dengan Qatadah (Mizan Al-I’tidal, 4/111)

e.       Abdul Wahid bin Qaish

Adz-Dzahabi berkata, Abdul Wahid tidak pernah bertemu dengan Abu Hurairah, periwayatannya dari Abu Hurairah adalah Mursal. (Mizan Al-I’tidal, 2/675)

Abu Ahmad Al-Hakim berkata, Munkarul Hadits . (Mizan Al-I’tidal, 2/676)

f.        Syahr bin Hausyab

Ibnu Hajar berkata, Shaduq banyak memursalkan hadis dan wahm (Taqrib At-Tahdzib, 269) Ad-Daraquthni berkata, dia Idthirab (goncang dalam meriwayatkan hadis) (Al-Ilal, 6/45). Ibnu Rajab berkata, Dia termasuk orang yang sering idtirab (goncang) dalam meriwayatkan hadis, dia meriwayatkan satu matan dengan banyak sanad. (Syarah Ilal, 1/422, Fathul Bari, 7/428). Keidtirabannya terbukti dengan meriwayatkan matan ini dengan berbagai sanad, ada yang marfu’ (sampai kepada Rasulullah), mauquf (perkataan Abu Hurairah) dan ada pula yang Maqthu’ (perkataan dia sendiri).

 

3)      Jalur Sahabat Fairuz Ad-Dailami (Al-Mu’jam Al-Kabir, 18/332, Al-Aahad wa Al-Matsaani, 5/143, As-Sunan Al-Waridah fi Al-Fitan, 5/971), pada sanadnya terdapat kemursalan, Ibnu Al-Jauzi berkata, Abdah tidak pernah melihat Fairuz dan Fairuz tidak pernah melihat Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam (Al-Maudhu’at, 3/192). Terdapat pua beberapa rawi yang lemah

a.       Abdul Wahhab bin Ad-Dahak

Al-Bukhari berkata, Dia memiliki hadis-hadis yang aneh. Abu Daud berkata, Dia suka memalsukan hadis, sungguh aku pernah melihatnya. Shalih bin Muhammad Al-Hafidz berkata, munkarul hadits, kebanyakan hadis-hadisnya dusta (Tahdzib Al-Kamal fi Asma Ar-Rijal, 18/495) Ad-Daraquthni berkata, dia memiliki hadis-hadis maqlub dan batil dari Isma’il bin Ayyasy dan yang lainnya. Al-Hakim dan Abu Nu’aim berkata, Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu. (Tahdzib At-Tahdzib, 6/447)

b.       Isma’il bin Ayyasy

Ibnu Al-Jauzi berkata, Adapun Isma’il, dia rawi dha’if (lemah) (Al-Maudlu’aat, 3/192)

 

4)      Jalur Sahabat Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash (Kitab Al-Fitan, 1/226, 341, Al-Mustadrak ‘ala As-Sahihain, 4/549) semuanya melalui rawi yang bernama Nu’aim bin Hammad, Imam Adz-Dzahabi berkata,

قُلْتُ: لاَ يَجُوْزُ لأَحَدٍ أَنْ يَحْتَجَّ بِهِ وَقَدْ صَنَّفَ كِتَابَ الفِتَنِ فَأَتَى فِيْهِ بِعَجَائِبَ وَمَنَاكِيْرَ.

 

Tidak boleh bagi seorangpun menjadikannya sebagai hujjah dan sungguh dia telah menyusun kitab Al-Fitan lalu meriwayatkan hadis-hadis yang aneh dan munkar di dalamnya. (Siyar A’lam an-Nubala, 9/26)

 

Dari berbagai uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa hadis yang menerangkan tentang ada suara yang keras pada pertengahan bulan ramadhan, lalu diikuti dengan berbagai kejadian mengerikan di bulan-bulan setelahnya tidak ada yang shahih, bahkan maudlu (palsu). Haram hukumnya menyebarkan hadis ini tanpa menjelaskan kedla’ifan dan kemaudlu’annya, karena termasuk dalam ancaman Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dalam api neraka”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Selain daripada itu menyampaikan hadis-hadis seperti di atas dalam situasi saat ini (masa wabah covid-19) dapat menambahkan kepanikan kepada umat Islam, sedangkan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abi Dawud)

Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar