Keluarga adalah inti dari kehidupan
manusia. Dalam berbagai agama, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk
karakter, moral, dan spiritualitas individu. Dalam konteks Islam, hakikat
keluarga sangat ditekankan. keluarga bukanlah sekadar entitas sosial atau
hubungan nasab semata, melainkan sebuah institusi yang memiliki kedalaman
spiritual dan nilai-nilai agama yang sangat penting. Dalam Al-Quran, kita dapat
menemukan berbagai ayat yang menjelaskan hakikat keluarga dalam Islam. Salah
satunya adalah ayat dalam surat Hud (QS. Hud[11]: 45-46), di mana Nabi Nuh
(Noah) memohon kepada Allah tentang putranya yang tidak taat. Allah ta’ala
berfirman,
وَنَادَىٰ
نُوحٌ رَّبَّهُۥ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ٱبْنِى مِنْ أَهْلِى وَإِنَّ وَعْدَكَ
ٱلْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ ٱلْحَٰكِمِينَ ﴿٤٥﴾ قَالَ يَٰنُوحُ إِنَّهُۥ
لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَيْرُ صَٰلِحٍۖ فَلَا تَسْئَلْنِ مَا
لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۖ إِنِّىٓ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلْجَٰهِلِينَ ﴿٤٦﴾
“Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, "Ya Tuhanku,
sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janjiMu itu pasti benar.
Engkau adalah hakim yang paling adil."
Dia (Allah) berfirman, "Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah
termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan
engkau memohon kepadaKu sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku
menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh." (QS. Hud[11]:
45-46)
Ayat ini menggambarkan momen ketika
Nabi Nuh memohon kepada Allah tentang nasib putranya yang tidak taat kepada
ajaran Allah. Dalam permohonannya, Nabi Nuh menyebut bahwa putranya adalah
bagian dari keluarganya. Namun, Allah dengan tegas mengingatkannya bahwa
keluarga yang sejati adalah yang didasarkan pada ketaatan kepada Allah, bukan
hanya hubungan nasab.
Menjauhi Fanatisme Nasab
Dalam Islam, kita diajarkan untuk
menjauhi fanatisme terhadap nasab. Ayat tersebut menegaskan bahwa hubungan
keluarga yang sejati adalah yang didasarkan pada keimanan dan ketaatan kepada
Allah. Oleh karena itu, kita tidak boleh membela keluarga kita jika mereka
berperilaku salah atau tidak taat kepada Allah. Meskipun cinta kepada keluarga
adalah hal yang wajar, kita tidak boleh membela atau mendukung keluarga kita
jika mereka berperilaku tidak baik atau tidak taat kepada Allah. Keimanan dan
ketaatan kepada Allah harus menjadi prioritas utama dalam keluarga. Al-Qasyani
berkata, sesungguhnya keluargamu itu hakikatnya adalah yang antara kamu dan dia
ada hubungan agama, keluarga secara maknawi adalah pertalian hakiki bukan hanya pertalian bentuk semata. Sebagaimana
perkataan Amirul mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu, “Ketahuilah sesungguhnya
pelindung Muhammad itu adalah orang yang taat kepada Allah, walaupun secara
nasab jauh. Ketahuilah sesungguhnya musuh Muhammad itu adalah orang yang
maksiat kepada Allah, walaupun secara nasab dekat”. (Mahasin At-ta’wil, 6/102)
Hubungan keluarga yang sesungguhnya
adalah yang didasarkan pada kedekatan agama, bukan hanya hubungan nasab semata.
Ini berarti bahwa ketaatan kepada Allah dan menjaga nilai-nilai agama harus
menjadi fokus utama dalam keluarga. Kita harus berusaha bersama-sama untuk
mendekatkan diri kepada Allah.
Perintah Menjaga Keluarga dari Api Neraka
Dalam QS. At-Tahrim[66]: 6, Allah
memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Hal ini
menekankan pentingnya mendidik keluarga kita dalam ajaran Islam dan menjauhkan
mereka dari segala bentuk dosa. FirmanNya, Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada
Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim[66]: 6)
Allah memberikan perintah yang sangat
penting kepada kita. Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga
kita dari api neraka. Ini menegaskan pentingnya mendidik keluarga kita dalam
ajaran Islam, menjaga kesucian hubungan keluarga, dan menjauhkan mereka dari
segala bentuk dosa.
Tujuan Membangun Keluarga Islami
Tujuan utama membangun keluarga
Islami adalah untuk menegakkan aturan-aturan Allah dan menjaga fitrah Islam
dalam keluarga. Ini mencakup menerapkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan
sehari-hari, menjalankan shalat bersama, dan mendidik anak-anak dalam ajaran
Islam. Allah ta’ala berfirman, “Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan
menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, "Apa yang kamu
sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami akan menyembah Tuhanmu
dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang
Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepadaNya." (QS. Al-Baqarah[2]:
133) dan firmanNya, “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan
sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang
memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang
yang bertakwa. (QS.
Thaha[20]: 132)
Fitrah Islam adalah fitrah bawaan
manusia untuk mengenal dan menyembah Allah. Namun, kita harus menjaga fitrah
ini dalam keluarga agar tercapai ketentraman jiwa. Salah satu caranya adalah
dengan memberikan pendidikan Islam kepada anak-anak sejak dini. Nabi ﷺ bersabda: Tidak ada seorang anak pun yang
terlahir kecuali dia dilahirkan dalam keadaan fithrah. Maka kemudian kedua
orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau
Majusi. (HR. Al-Bukhari)
Kesimpulan
Hakikat keluarga dalam Islam adalah
menjaga kesucian hubungan keluarga berdasarkan ketaatan kepada Allah. Kita
harus menjauhi fanatisme terhadap nasab dan mengutamakan kedekatan agama dalam
keluarga. Dengan demikian, kita dapat membangun keluarga Islami yang kuat,
menjaga fitrah Islam, dan mencapai ketentraman jiwa.
Dengan memahami hakikat keluarga dalam Islam, InsyaAllah, kita dapat membangun keluarga yang kuat, harmonis, dan penuh dengan nilai-nilai
agama.
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar