Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Sya’abul Iman, terdapat tiga golongan orang yang dikategorikan sebagai orang yang berbahagia. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda,
" طُوبَى لِمَنْ عَمِلَ بِعِلْمِهِ، وَأَنْفَقَ الْفَضْلَ
مِنْ مَالَهِ، وَأَمْسَكَ الْفَضْلَ مِنْ قَوْلِهِ " شعب الإيمان (7/ 23)
Alangkah baiknya bagi orang yang beramal
dengan ilmunya, mengeluarkan (infak) kelebihan dari hartanya dan menahan
kelebihan dari ucapannya. (HR. Al-Baihaqi)
1.
Beramal Berdasarkan Ilmu
Beramal
berdasarkan ilmu adalah prinsip dasar dalam agama Islam yang dijelaskan dengan
tegas dalam Al-Qur'an. Surah Al-Isra' [17]: 36 menyatakan, "Dan janganlah
kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui ilmunya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta
pertanggungjawabannya."
Sebuah hadis dari Sahih Bukhari juga menekankan pentingnya ilmu dalam keyakinan seseorang. Ketika seseorang meninggal dunia, ia akan ditanya tentang Rasulullah Muhammad ﷺ. Orang beriman dengan yakin akan menjawab dengan menyebutkan kenabian Muhammad ﷺ, sementara orang munafik atau ragu-ragu tidak akan memiliki jawaban yang jelas, dia berkata,
لاَ
أَدْرِي، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ " صحيح البخاري
(1/ 28)
Aku tidak tahu siapa dia, aku mendengar manusia membicarakan sesuatu
maka aku pun mengatakannya. (HR. Al-Bukhari)
Dalam konteks ilmu agama, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang. Namun, ketika umatnya mencoba melebih-lebihkan ajaran agama, Rasulullah ﷺ merespon dengan penuh kebijaksanaan dan kebenaran. Beliau menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang paling tahu tentang Allah dan paling bertakwa di antara mereka.
Selain itu, prinsip taklid (mengikuti tanpa ilmu) dalam islam sangat tidak dianjurkan. Imam Ahmad bin Hanbal menyampaikan pesan bijak agar umat Islam tidak hanya meniru satu mazhab atau pemikiran, melainkan mengambil dari sumber-sumbernya. Beliau mengatakan,
لا
تقلدوني ولا مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري، وخذ من حيث أخذوا
“Janganlah kalian taqlid kepadaku, Imam
Malik, As-Syafi’I, Al-Auza’I dan
As-Tsauri, akan tetapi ambillah dari sumber pengambilan mereka”. (At-Taqlid wa
al-Ifta wa al-Istifta : 76)
Dengan demikian,
beramal berdasarkan ilmu dalam Islam bukan hanya sekadar mengikuti tanpa
pemahaman, tetapi melibatkan pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang
benar. Islam menekankan pada keseimbangan antara ilmu, keyakinan, dan amal
perbuatan untuk membentuk umat yang bijak dan bertanggung jawab.
2.
Mengeluarkan Harta dengan Ikhlas
Islam sebagai
agama yang mencakup seluruh aspek kehidupan, tidak hanya memberikan petunjuk
dalam urusan ibadah, tetapi juga memberikan pedoman dalam pengelolaan harta.
Salah satu ajaran penting dalam Islam adalah kewajiban berinfak atau
bersedekah, yang mencerminkan sikap belas kasih, solidaritas, dan kepedulian
terhadap sesama.
Ayat Al-Qur'an
dalam Surah Al-Hadiid [57]: 7 mengingatkan umat Islam untuk beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya serta menafkahkan sebagian dari harta yang Allah berikan
kepada mereka. "Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan
nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu
menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan
(sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar."
Imam Al-Qurtubi menyatakan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa harta yang dimiliki bukanlah milik sejati pemiliknya. Pemahaman ini menjadi dasar untuk mengurangi rasa kecenderungan terhadap kepemilikan dan meningkatkan kesadaran akan kewajiban berinfak.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan umatnya tentang hakikat harta melalui hadis yang menyatakan bahwa manusia hanya memiliki tiga jenis harta: yang dimakannya dan habiskan, yang dikenakannya dan rusak, serta yang diberikannya sebagai sedekah dan menjadi kepunyaannya. Selain itu, semua harta selain dari ketiga jenis tersebut akan lenyap dan ditinggalkan untuk orang lain.
يَقُولُ
الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى
أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ
وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ
Rasulullah ﷺ bersabda: "Manusia
berkata, 'Hartaku, hartaku, ' sesungguhnya hartanya ada tiga: yang ia makan
lalu ia habiskan, yang ia kenakan lalu ia usangkan atau yang ia berikan
(sedekahkan) lalu ia miliki, selain itu akan lenyap dan akan ia tinggalkan
untuk manusia'." (HR. Muslim)
Al-Qur'an dalam
Surah As-Saba [34]: 39 menegaskan keutamaan berinfak dengan menyatakan,
"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan
Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya."
Mengeluarkan
sebagian harta sebagai bentuk infak adalah kewajiban dan amalan mulia dalam
Islam. Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk yang jelas mengenai
hakikat harta dan keutamaan berinfak. Sebagai umat Muslim, kita diajak untuk
memahami bahwa harta yang dimiliki sejatinya adalah amanah dari Allah, dan
sebagian dari harta tersebut seharusnya dikeluarkan untuk kepentingan
kemanusiaan. Dengan berinfak, bukan hanya sesama manusia yang diuntungkan,
tetapi juga diri kita sendiri yang akan memperoleh pahala besar di sisi Allah
SWT.
3.
Menjaga Ucapan dari Perkataan Buruk
Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk menjaga
lisan agar terhindar dari perkataan yang buruk. "Barangsiapa yang dapat
menjamin apa yang di antara jenggotnya dan kedua kakinya, maka aku akan
menjamin surga baginya." (HR. Al-Bukhari) Hal ini menunjukkan pentingnya
kontrol diri dan menjaga ucapan agar tidak melanggar norma-norma moral. Rasulullah
shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadis lainnya,
وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْءَاخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ
dan barangsiapa beriman kepada Allah dan
hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam."(HR. al-Bukhari)
- Taqwa kepada Allah: Bertakwalah
kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. (QS. Al-Ahzab[33]: 70)
- Bersahabat dengan Orang Shalih: Menjaga
lingkungan dan pergaulan dengan orang-orang yang baik akan mempengaruhi
perilaku dan perkataan kita.
- Perbanyak Dzikir: Mengingat Allah
dengan berdzikir dapat menenangkan hati dan menjaga lisan dari perkataan yang
tidak bermanfaat.
- Berdoa dan Minta Pertolongan: Meminta
pertolongan kepada Allah untuk menjaga lisan agar selalu berbicara yang baik
dan benar.
- Mengingat Pahala dan Dosa: Selalu ingat
pahala bagi orang yang menjaga lisan dan dosa bagi yang melanggar. Ini akan
menjadi motivasi untuk selalu berbicara dengan baik.
Dengan mengamalkan tiga prinsip di atas, kita dapat
menjadi bagian dari golongan orang yang berbahagia di dunia dan akhirat. Semoga
kita senantiasa diberikan kekuatan dan petunjuk oleh Allah SWT untuk berada di
jalur yang benar dan membawa kebaikan bagi diri sendiri dan sesama.
By. MN
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar