Pengertian Jahiliyah
Kata Jahiliyyah menurut
bahasa merupakan bentuk Masdar shina’I, diambil dari kata jaahil
yang bentuk dasarnya jahalah atau jahlun. Dalam Bahasa arab kata
tersebut memiliki tiga makna, yaitu
a. Basith, artinya
kosongnya jiwa dari pengetahuan (tidak punya ilmu)
b. Murakkab,
artinya meyakini sesuatu yang berbeda dengan kenyataan
c. Melakukan
sesuatu dengan menyalahi yang seharusnya dilakukan
(Lihat Al-Mufradat fi gharib
Al-Quran hal. 102)
Adapun menurut istilah, Jahiliyyah
adalah kondisi yang dijalani oleh suatu umat sebelum datangnya hidayah, dan
kondisi yang menghalangi suatu umat atau sebagiannya dari menjalankan petunjuk
Allah. (Fashlul khitab fi syarhi masail Al-Jahiliyah hal. 34)
Prilaku Jahiliyah Dalam beragama
Orang Jahiliyah dalam beribadah
kepada Allah ta’ala tidak didasarkan kepada petunjuk dari nabi dan
rasul, mereka hanya mengikuti pendahulunya dengan pijakan taklid buta
semata, tanpa mempertimbangkan benar dan salah. Al-Quran menjelaskan prilaku
mereka dalam surat Al-Baqarah ayat 170,
Dan
apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”,
mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami
dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(apakah mereka akan mengikuti),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak
mendapat petunjuk ?. (Al Baqoroh : 170)
Allah ta’ala
menegaskan Kembali dalam ayat lainnya, mereka berkata, “Sesungguhnya kami
mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah
pengikut jejak-jejak mereka. (Az Zukhruf : 23) sindiran lainnya diterangkan
dalam Al-Quran surat Luqman ayat 21, firmanNya, “Dan apabila dikatakan kepada
mereka :”Ikutilah apa yang diturunkan Allah” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi
kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”.
Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syetan itu
menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (nereka)?. (Luqman: 21).
Selain berpijak
kepada taklid buta, mereka pun menggunakan prasangka dan hawa nafsunya dalam
beragama, sehingga tidak mau menerima penjelasan yang nyata. Dalam Al-Quran
surat An-Najm ayat 23 Allah menjelaskan, “Itu tidak lain hanyalah
nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak
menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain
hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu
mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.
(An-Najm: 23)
Mereka berani mendustakan malah
membunuh utusan Allah yang bersebrangan dengan hawa nafsunya. Allah ta’ala
berfirman, “Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa)
sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu
sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?” (QS. Al-Baqarah[2]: 87)
Prilaku Jahiliyah Dalam Akidah
Suatu umat dikatakan jahiliyah
apabila keyakinannya jauh dari ketauhidan, artinya mereka menyembah, meminta
dan berdo’a bukan hanya kepada satu tuhan, yaitu Allah swt. Prilaku mereka
dalam menyekutukan Allah dalam beribadah dijelaskan dalam al-Quran surat
Az-Zukhruf ayat 87, “Dan jika kamu bertanya kepada
mereka :”Siapakah yang menciptakan mereka ?” Niscaya mereka menjawab: “Allah”,
Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembahnya)?. (Az Zukhruf : 87) penjelasan ini dapat dilihat pula dalan
Al-Quran surat Al-Ankabut ayat 61 dan 63, surat Lukman ayat 25, dan Az-Zukhruf ayat 9
Keimanan orang jahiliyah dangkal, mereka
berdo’a kepada Allah hanya dalam waktu sulit, adapun apabila kondisinya
membaik, mereka berpaling dariNya dan tidak mau bersyukur kepadaNya. Al-Quran
menjelaskan, “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya
hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia (Allah). Maka tatkala Dia menyelamatkan
kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima
kasih. (Al Isro: 67)
Orang-orang jahiliyah meyakini benda-benda
tertentu memiliki kekuatan mendatangkan manfaat dan menolak madarat. Kebiasaan
mereka menyembah kepada berhala-berhala ternyata didasari atas keyakinan bahwa
batu-batu dan pohon-pohon memiliki barakah tertentu yang mendatangkan kebaikan
pada mereka. Dalam Tahqiq Fathul Majid hal. 13 dijelaskan, “Tidaklah mereka minta
barokah pada ‘uzza dan Mannah karena hanya sebuah batu saja, tiada lain mereka
berkeyakinan adanya barokah dari ‘Uzza yang mana dia itu seorang perempuan yang
diyakini sebagai seorang waliah dan dikubur didekat pepohonan itu, begitu juga
manah. Karena itu mereka menamakan pohon itu ‘Uzza dan batu dinamakan Mannah ;
Sebagaimana orang-orang sekarang menamakan tembaga yang dibangun di atas
kuburan “HUSAIN”, “ZAINAB” dan yang
lainnya dari orang-orang shalih, lalu mereka minta barokah dengannya dengan
malalui akidah jahiliyah ini. (Tahqiq Fathul Majid hal. 13)
Keyakinan mereka yang melekat terhadap
benda-benda tertentu dijelaskan dalam sebuah hadis yang diterima dari sahabat
Abu Waqid Al-Laitsiy, ia berkata: Kami pernah keluar bersama Rasulullah saw.
Menuju perang Hunain. Dan kami pada waktu itu baru keluar dari kekufuran, dan
bagi orang-orang musyrik punya kebiasaan berdiam di pohon sidroh dan
menggantungkan senjata-senjatanya, suka dinamai DZATU ANWATH. (pada waktu itu)
kami lewat pada pohon sidroh; lalu kami berkata: Ya Rasulullah buatkanlah dzatu
anwat untuk kami sebagaimana mereka memiliki dzatu anwat. Rasulullah saw
bersabda: Allahu Akbar, sesungguhnya ini adalah sunah, demi yang menguasai
diriku kalian berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa (7:138
Buatkanlah untuk kami tuhan sebagaimana mereka memiliki tuhan (Musa) berkata :
Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh) benar-benar kalian akan melakukan
sunnah-sunnah orang sebelummu. (HR At-Tirmidziy dan memandang hadits ini
shahih)
Prilaku Jahiliyah terhadap para Nabi dan orang-orang shalih
Sikap jahiliyah terhadap orang-orang
shalih dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, mengenai firman Allah swt. “Dan
mereka berkata : Janganlah kamu sekali-kali meninggalkan (penyembahan)
tuhan-tuhan kamu dan jangan pula kamu sekali-kali meninggalkan (penyembahan)
Wadd, dan jangan pula Suwa”, yaghuts, ya’uq, dan nasr.”ini adalah nama-nama
orang shaleh dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, syetan membisikkan kepada
kaumnya untuk mendirikan patung-patung yang diberi nama dengan nama-nama
mereka. Lalu mereka melakukannya tapi tidak disembah sehingga ketika
mereka meninggal dan terhapusnya ilmu,
(patung-patung) itu disembah. (HR
Al Bukhari)
Sehubungan dengan prilaku ini Allah ta’ala
berfirman, Katakanlah : Hai ahli kitab, janganlah kamu
berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar dalam agamamu.
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang sesat dahulunya dan
telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang
lurus. (Al Ma’idah : 77)
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam pun mengingatkan dalam sebuah hadisnya ,
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَاكمُ ْوَلاَ يَسْتَهْوِيَنَّكُمُ
الشَّيْطاَنُ أَناَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله عَبْدُ الله وَرَسُوله وَالله مَا
أُحِبُّ أَنْ تَرْفَعُوْنِي فَوْقَ مَنْزِلَتِي اَّلتِي أَنْزَلَنيِ الله عَزَّ
وَجَلَّ. (مسند أحمد(
Wahai
orang-orang hendaklah kalian bertaqwa danjanganlah tertarik oleh syetan, Aku
ini adalah Muhammad putranya Abdullah, hamba Allah dan utusannya. Demi Allah
aku tidak menyukai kalian melebih-lebihkannku di atas kedudukan yang telah
Allah berikan kepadaku. (HR Ahmad)
Suatu
saat sahabat Adi bin Hatim, yang mana merupakan mantan kristen- ketika dia
mendengar Nabi saw membacakan ayat (Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan)
Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha
Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari
apa yang mereka persekutukan){At-Taubah: 31} lalu aku berkata kepada beliau,
“Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka. Beliau bersabda, “Bukankah mereka
suka mengharamkan apa-apa yang Allah halalkan lalu kalian pun mengharamkannya
dan mereka juga suka menghalalkan apa-apa yang Allah haramkan lalu kalian pun
menghalakannya? Lalu aku menjawab, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Begitulah
kalian menyembah mereka. (HR At-Tirmidzi dan Al-Baihaqiy)
Jahiliyah
menempatkan orang-orang shalih yang telah meninggal sebagai pemberi syafa’at,
sehingga Ketika berdo’a kepada Allah, mereka melakukannya melalui orang-orang
shalih tersebut. Al-Quran menjelaskan sikap mereka dalam firmanNya, “Dan mereka
menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemadorotan
kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Meraka itu
adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah. (Yunus :18). Dalam ayat lainnya Allah menjelaskan, “Ingatlah
hanya kepunyaan Allah lah Agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang
mengambil pelindung selain Allah (berkata),”Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya.(Az –Zumar : 3)
Terkadang
mereka menisbatkan diri kepada para nabi, namun tidak mau mengikuti ajaran yang
disampaikan oleh nabi tersebut, Allah ta’ala menyindir mereka dengan firmanNya,
“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia
adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang
musyrik. Orang yang
paling dekat kepada Ibrahim ialah orang yang mengikutinya, dan Nabi ini
(Muhammad), dan orang yang beriman. Allah adalah pelindung orang-orang yang
beriman. (QS. Ali 'Imran[3]: 67-68)
Prilaku Jahiliyah dalam bermu’amalah
Orang jahiliyah dalam berinteraksi sosial memiliki
sikap-sikap sebagai berikut,
a. Tidak mau
berimamah berimarah. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menggambarkan sifat
jahiliyah dalam sabdanya ,
مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ
شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنْ السُّلْطَانِ شِبْرًا مَاتَ
مِيتَةً جَاهِلِيَّةً
"Siapa
yang tidak menyukai kebijakan amir (pemimpinnya) hendaklah bersabar, sebab
siapa pun yang keluar dari ketaatan kepada amir sejengkal, ia mati dalam
jahiliyah." (HR.
al-Bukhari: 6530)
b.
Mereka beranggapan bahwa keridaan Allah kepada
manusia adalah dari seberapa besar orang tersebut diberi harta olehnya. Allah
ta’ala berfirman, Dan mereka berkata kami lebig banyak mempunyai harta
dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan di azab. (Saba :
35)
c.
Memiliki sifat ashabiyah (panatik golongan) yang
tinggi. Watsilah Ibnul Asqa' pernah bertanya kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi
wasallam, "Wahai Rasulullah, Ashabiyah (fanatik
kesukuan) itu apa?" Beliau menjawab:
"Engkau tolong kaummu dalam kezaliman." (HR.
Abu Daud)
d.
Mereka terbiasa menghina dan merendahkan orang
lain yang kedudukannya di bawahnya. Sahabat Abu Dzar berkata,
"Aku pernah mencaci seorang laki-laki (hamba sahaya), sementara ibunya
adalah seorang wanita 'Ajam (non Arab). Lalu aku merendahkannya dengan nama
ibunya. Orang itu kemudian mengadukan aku kepada Rasulullah ﷺ, beliau pun bersabda: "Wahai Abu Dzar, engkau ini
laki-laki yang masih ada sisa-sisa sifat jahilliyah." Beliau melanjutkan
lagi: "Mereka itu adalah saudara-saudara kalian, Allah melebihkan kalian
atas mereka. Maka siapa saja dari mereka yang tidak berbuat baik kepada kalian
hendaklah kalian jual, dan jangan kalian siksa makhluk Allah." (HR. Abu
Daud)
e.
Menyombongkan silsilah keturunan.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Empat hal
yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk
ditinggalkan: (1) membangga-banggakan kebesaran leluhur, (2) mencela keturunan,
(3) mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu,
dan (4) meratapi mayit (niyahah)”. Lalu beliau bersabda, “Orang yang melakukan
niyahah bila mati sebelum ia bertaubat, maka ia akan dibangkitkan pada hari
kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta
mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” (HR.
Muslim no. 934).
f.
Sifat Niyahah yang kental, mereka
mengajarkan untuk
meratapi orang yang meninggal dunia. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “Bukan dari golongan kami siapa yang menampar-nampar pipi,
merobek-robek baju dan menyeru dengan seruan jahiliyah (meratap). (HR. al-Bukhari)
g. Gemar Memperlihatkan aurat merupakan sikap jahiliyah yang
dijelaskan dalam Al-Quran surat al-Ahzab ayat 33,
وَقَرْنَ
فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰۖ … ﴿٣٣﴾
Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah
laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu, …(QS. Al-Ahzab[33]: 33)
By. MN
Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:
https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar
Posting Komentar