Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan Wanita Haid

 

Darah yang keluar dari kemaluan wanita ada tiga macam:

1.       Darah Haid, yaitu darah yang biasa keluar dari dalam Rahim wanita, bukan karena kelahiran ataupun penyakit selama masa tertentu.  

2.       Darah nifas, yaitu darah yang keluar bersama keluarnya bayi, baik dengan melahirkan normal, cesar ataupun keguguran.

3.       Darah istihadhah, yaitu darah yang keluar dalam keadaan sakit

Perbuatan yang haram dilakukan wanita haid dan nifas

1.         Salat

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: ( إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ دَمَ اَلْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي مِنَ اَلصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ اَلْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَاسْتَنْكَرَهُ أَبُو حَاتِم

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah penyakit (istihadlah). Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepadanya: Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang telah dikenal. Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari salat namun jika darah yang lain berwudlulah dan salatlah. Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban dan Hakim. Abu Hatim mengingkari hadits ini.

2.         Shaum

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ ....أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ ...-فتح البارى-

Dari Abi Said Al Khudry, ia berkata : Rasulullah sallalahu ‘alaihi wasallam berangkat pada hari Ied ke Mushala (lapang), lalu lewat pada kaum perempuan, lalu bersabda : Wahai kaum perempuan ! … bukankah perempuan itu apabila haid tidak salat dan tidak shaum ? …(Al Bukhary, Fathul Bary IV : 240)

3.         Thawaf

عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَائِضُ تَقْضِي الْمَنَاسِكَ كُلَّهَا إِلَّا الطَّوَافَ بِالْبَيْتِ. (أحمد)

Dari Aisyah, dari Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam, bersabda: Wanita yang haid boleh menjalankan seluruh manasik (haji) kecuali thawaf. (HR Ahmad)

4.         Bersetubuh

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ(222)

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (Al-Baqarah: 222)

5.         Dicerai

{يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ } [الطلاق: 1]

Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu idah itu …(At-Thalaq: 1)

وَقَالَ الْبُخَارِيُّ: أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ: أَنَّهُ طَلَّقَ امْرَأَةً لَهُ وَهِيَ حَائِضٌ، فَذَكَرَ عمرُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَتَغَيَّظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: "لِيُرَاجِعْهَا، ثُمَّ يُمْسِكْهَا حَتَّى تَطْهُرَ، ثُمَّ تَحِيضَ فَتَطْهُرَ، فَإِنْ بَدَا لَهُ أَنْ يُطَلِّقَهَا فَلْيُطَلِّقْهَا طَاهِرًا قَبْلَ أَنْ يَمَسَّهَا، فَتِلْكَ الْعِدَّةُ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ" تفسير ابن كثير ت سلامة (8/ 142)

Imam Bukhari mengatakan, … Sesungguhnya Abdullah ibnu Umar pernah menceritakan bahwa dirinya pernah menceraikan salah seorang istrinya yang sedang dalam haid. Kemudian Umar r.a. (ayahnya) menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam. Maka Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wasallam. marah dan bersabda: Dia harus merujuknya, kemudian memegangnya hingga suci dari haidnya, lalu berhaid lagi dan bersuci, maka (sesudah itu) bila dia ingin menceraikannya, ia boleh menceraikannya dalam keadaan suci, sebelum dia menggaulinya. Itulah idah yang diperintahkan oleh Allah Swt. (untuk dijalani). (Tafsir Ibnu Katsir)

Tentang Wanita haid masuk masjid

1.         Pendapat yang membolehkan

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاوِلِينِي الْخُمْرَةَ مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَتْ فَقُلْتُ إِنِّي حَائِضٌ فَقَالَ إِنَّ حَيْضَتَكِ لَيْسَتْ فِي يَدِكِ. [رواه مسلم]. 

 “Diriwayatkan dari ‘Aisyah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:Ambilkan sajadah untukku di masjid! Aisyah mengatakan: Saya sedang haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya, haidmu tidak berada di tanganmu” [HR. Muslim].

Keterangan di atas menunjukkan bahwa boleh saja bagi wanita haid untuk memasuki masjid, dengan syarat:

§  ada hajat, termasuk di dalamnya mendengarkan pengajian, dan

§  tidak sampai mengotori masjid (dari darah haid).

2.         Pendapat yang mengharamkan

وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ۚ ﴿٤٣﴾

dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekedar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub) (An-Nisa: 43)

§   Ayat ini menjelaskan secara umum, yaitu orang yang ada dalam keadaan jinabah tidak boleh masuk masjid kecuali hanya sekedar lewat. Kondisi jinabah yang dimaksud adalah kondisi hadas yang mengharuskannya melaksanakan mandi junub.

§   Adapun hadis aisyah yang dibolehkan mengambil khumrah di masjid, menjelaskan bolehnya seorang Wanita haid masuk ke masjid sekedar lewat saja.

§   Aisyah Ketika haid dilarang oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam thawaf di baitullah, karena pelaksanaan thawaf di dalam masjid.

 

Tentang Wanita haid membaca Al-Quran

1.         Pendapat yang mengharamkan

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ وَالْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقْرَأْ الْحَائِضُ وَلَا الْجُنُبُ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ . (الترمذي برقم 121, إبن ماجة برقم 588, )

Telah menerangkan kepada kami ‘Ali bin Hujr dan AL Hasan bin ‘Arafah mereka berdua berkata telah menerangkan kepada kami Isma’il bin ‘Iyasy dari Musa bin ‘Uqbah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar dari Nabi saw, bersabda: Yang haid dan yang junub tidak boleh membaca Al Qur’an sedikitpun. (HR At Tirmidzy No. 121 dan Ibnu Majah No. 588)

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ. (الواقعة :79)

Tidak Menyentuhnya Kecuali Hamba-Hamba Yang Disucikan.(Qs Al Waqi’ah : 79)

2.         Pendapat yang membolehkan

§   Hadis Ibnu Umar di atas tidak bisa dijadikan hujjah (alasan), karena pada sanadnya ada rowi yang bernama Isma’il bin ‘Ayyasy dia Rowi Dloif. (Ad Du’afa wal Matrukin Lin-Nasai I : 16)

§   Al-Quran surat Al-Waqi’ah ayat 79 maksudnya bukan larangan menyentuh Al-Quran. Ibnu Jarir berkata telah menerangkan kepada kami Musa bin Isma’il telah menerangkan kepada kami Syuraik dari Hakim bin Jubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas “Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” beliau mengatakan: Kitab yang ada di langit. Al ‘Aufa berkata dari Ibnu Abbas” Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan” Yakni Para Malaikat.  (Tafsir Ibnu Katsir, 8/31, Tafsir At-Thabari, 11/659)

§   Terdapat hadis-hadis berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ. (مسلم برقم 558)

Dari aisyah, berkata: Adalah nabi shallalahu ‘alaihi wasallam berdzikir kepada Allah sepanjang hidupnya. (HR Muslim No. 558)

اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ، ثُمَّ قَرَأَ العَشْرَ الآيَاتِ الخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ، فَتَوَضَّأَ مِنْهَا فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي. صحيح البخاري (1/ 47)

Rasulullah bangun dan duduk sambil mengusap sisa-sisa kantuk yang ada di wajahnya dengan tangan. Beliau kemudian membaca sepuluh ayat terakhir dari Surah Ali 'Imran. Kemudian berdiri menuju tempat wudhu, beliau lalu berwudhu dengan memperbagus wudhunya, lalu shalat. (HR Al-Bukhari dari Ibnu Abbas)

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam pernah mengirim surat kepada raja Hiraqla (seorang nashrani) dan dalam suratnya tersebut terdapat ayat al-Quran surat Ali Imran ayat 64, sebagaimana dalam Hadis Riwayat Al-Bukhari.

وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: «لاَ بَأْسَ أَنْ تَقْرَأَ الآيَةَ»، وَلَمْ يَرَ ابْنُ عَبَّاسٍ «بِالقِرَاءَةِ لِلْجُنُبِ بَأْسًا» صحيح البخاري (1/ 68)

Ibrahim mengatakan, (Wanita haid) tidak mengapa membaca ayat al-Quran. Demikian pula Ibnu Abbas tidak memandang dosa bagi yang junub membaca Al-Quran. (HR Al-Bukhari)

MN

Pesantren Darul Hadis Lembang membuka penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2024/2025. Silahkan kunjungi link berikut:

https://darulhadislembang.org/penerimaan-peserta-didik-baru/

Komentar